Daerah Sekitar Perbatasan Tapsel-Taput Tertinggal… Butuh Perhatian..!!

Perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan di wilayah Desa Tandosan menuju Tarutung dan Sipagimbar, sampai saat ini dirasakan masih sangat jauh tertinggal. Wilayah ini butuh perhatian dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Pembangunan jalan, jembatan serta infrastruktur lainnya juga masih sangat minim. Sehingga kehidupan masyarakat di wilayah itu bisa disebut “bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau” Keterlambatan atau ketertinggalan itu disinyalir karena berada pada posisi jarak terjauh dari ibukota kedua kabupaten.

Pardomuan Harahap, warga Pekanbaru berasal dari wilayah itu kepada BATAKPOS di Pekanbaru, Kamis (10/6) mengatakan, sangat prihatin dengan ketertinggalan huta hatubuan (tanah kelahiran) nya tersebut. Melalui BATAKPOS ia mengimbau Pemprov Sumut agar memperhatikan  pembangunan di wilayah itu.

Harahap menambahkan ia sedih melihat keterlambatan perkembangan di kampungnya dibanding dengan wilayah lainnya. Pada hal wilayah itu menjadi jalan alternatif dari Sipirok ke Tarutung. Dan seharusnya dibangun jalan yang bagus guna memperpendek jarak tempuh antara Sipirok dengan Tarutung.

Kondisi jalan yang paling parah, sebut Harahap, terdapat antara Desa Hanopan-Silantom. Demikian juga dari Sipirok ke Hanopan berjarak 42 Km, kondisi jalan sudah hampir tertutupi semak belukar.

“Bagaimana suatu kawasan bisa maju sementara jalannya masih darurat. Daerah bisa cepat berkembang bila jalannya bagus, sehingga kegiatan ekonomi masyarakat akan jauh lebih maju,” kata Harahap.

Baca Juga :  Shohibul Anshor Siregar (Koord nBasis): Mendagri Harus Santun Kepada Masyarakat

Jalan yang menghubungkan Desa Tandosan-Parurean- Hanopan- Silantom sampai  ke  Raut Bosi perlu mendapat perhatian pemprov Sumatera Utara. Sebaiknya Kepala Dinas Kimpraswil Sumatera Utara turun lapangan agar melihat langsung fakta di lapangan.

Pendidikan Tertinggal

Selain jalan yang harus diperlebar dan diperbaiki, sarana pendidikan juga harus mendapat perhatian pemerintah. Sebab masyarakat sekitar perbatasan tersebut sejak dahulu hanya memiliki satu Gedung SMP yang terdapat di Sibagimbar. “Ini sangat menyulitkan anak-anak sekolah. Karena sebagian besar murid menuju kesana harus melewati jalan berkeliling, “ungkap Harahap.

Sumber: http://batakpos-online.com/content/view/14836/42/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*