Dampak Kabut Asap – Puskesmas Gunung Tua Tangani 166 Pasien ISPA

Paluta, Kabut asap yang terus menyelimuti udara wilayah Gunung Tua dan sekitarnya sudah mengganggu kesehatan warga. Tercatat 166 pasien pengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapat perawatan di Puskesmas Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak.

Penderita didominasi berusia diatas lima tahun yakni 123 pasien sedangkan usia di bawah lima tahun 43 pasien. Hal ini sesuai data dari Puskemas Gunung Tua, dan jumlah tersebut tidak tertutup kemungkinan akan bertambah jika kabut asap terus menyelimuti Gunung Tua dan sekitarnya, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).

Hal tersebut disampaikan Kepala Puskesmas Gunung Tua dr Herlina Sonera Batubara, Sabtu (3/10). Herlina mengungkapkan, akibat kabut asap itu, yang rentan terkena ISPA merupakan anak-anak dibawah umur lima tahun dengan terserang penyakit batuk, pilek serta sesak nafas.

Apabila penyakit ISPA tidak segera ditangani, lanjutnya, berkelanjutan akan menyebabkan Penyakit Paru-paru Optruksi Kronik (PPOK) yaitu kerusakan jaringan paru-paru pada organ tubuh. Karena oksigen yang masuk tidak lancar pada tubuh menyebabkan gejala sesak nafas dan lemas.

“Sirkulasi udara yang seharusnya dilakukan diparu-paru tidak berjalan normal. Jadi otak akan kekurangan oksigen itu yang paling kita takuti kalau penyakit ini diderita oleh balita atau anak-anak karena daya tahan tubuh anak-anak lemah,” ungkapnya.

Saat ini, meski hujan yang cukup deras sudah mengguyur daerah Paluta dalam dua hari belakangan ini, namun kabut asap belum juga menghilang dan masih menutupi hampir seluruh wilayah Paluta. Sementara, Warni (35), warga lingkungan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak mengaku lebih memilih berdiam diri di rumah saat kabut asap terjadi. Menurutnya, berdiam di dalam rumah merupakan pilihan yang tepat, mengingat udara diluar rumah sudah tidak sehat lagi karena asap semakin tebal dan pekat, yang membuat mata terasa amat pedih saat berjalan keluar rumah.

Baca Juga :  Pakkat Tetap Memikat

Kabut asap pada malam hari memaksa masyarakat harus tidur berselimut dengan kabut asap, dikhawatirkan jika hal ini terus terjadi maka kualitas udara Paluta akan semakin memburuk dan membuat masyarakat banyak terkena mata merah dan ISPA. (ong)


(Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*