Dana Reboisasi Hutan Diduga Dikorupsi

TAPSEL – Dana pembuatan tanaman reboisasi dan rehabilitasi hutan di Kabupaten Tapanuli Selatan yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat Tahun Anggaran 2012/2013 sebesar Rp2,1 miliar diduga digunakan dengan sia-sia dan terindikasi terdapat penyelewengan berupa tindakan korupsi.

Menurut beberapa pihak (kelompok tani,red) yang melakukan kegiatan tersebut, tidak seluruhnya selesai karena ada sebagian dana tersebut yang disetorkan kepihak Dinas Kehutanan Tapsel.

Dari pengakuan beberapa ketua kelompok tani yang melakukan kegiatan tersebut, seperti AN, ketua kelompok tani yang berada di Desa Silaiya Kecamatan Sayur Matinggi Tapsel ini, Jumat (11/7) kemarin saat dikonfirmasi mengatakan, ia membenarkan adanya kegiatan terkait pembuatan tanaman dan reboisasi/rehabilitasi hutan di daerah mereka yang mereka dapat dari Dinas Kehutanan Kabupaten Tapsel. Namun, dari jumlah anggaran yang mereka terima secara bertahap itu, pihak Dinas Kehutanan Tapsel memotongnya sebesar 30 persen.

“Kisaran jumlah anggarannya sekitar Rp133 juta. Namun dari jumlah itu kami menerimanya dengan 3 kali pencairan yang setiap pencairan selalu dipotong 10 persen oleh pihak Dinas Kehutanan Tapsel,” jelas AN (48) yang sengaja meminta untuk menginisialkan namanya tersebut.

Lanjutnya lagi, mulai dari awal pihaknya menerima dana tersebut, mereka sudah merasa khawatir jika dana itu bakal tidak akan mencukupi untuk melaksanakan kegiatan itu. Sebab tidak sesuai dengan jumlah luas areal yang akan ditanami bibit.

“Tapi mau bagaimana lagi, memang inilah kenyataannya, makanya sampai sekarang kegiatan itu tidak pernah selesai. Bayangkan saja, anggaran yang seharusnya penuh, malah dipotong, pastinyakan membuat pekerjaan kami terbengkalai,” ujar warga Desa Silaiya tersebut.

Baca Juga :  Pansus Ranperda Suorta Mandailing Natal Terbentuk

Serupa juga dengan pengakuan pengurus kelompok tani di Desa Bulu Gading Kecamatan yang sama. BP (45) salah seorang pengurus mengatakan, ia juga mengetahui adanya kegiatan yang diadakan melalui Dinas Kehutanan Tapsel yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat untuk kegiatan pengerjaan pembuatan tanaman reboisasi dan rehabilitasi hutan Tahun Anggaran 2012/2013 di desanya. Begitu juga dengan jumlah dana yang dianggarkan hampir sama dengan yang diadakan di Desa Silaiya. Dan parahnya lagi, bibit tanaman yang diberikan kepada mereka adalah bibit yang belum layak untuk ditanam.

“Kalau di desa kami masih mending ada yang kami laksanakan dan kami tanam, pastinya hampir seluruh pelaksanaan kegiatan itu pengerjaannya tidak ada yang beres, karena bibitnya saja tidak bisa untuk ditanam. Jadi mau bilang apa, salah siapa,” ungkapnya.

“Dan yang jelasnya, jika masalah ini mencuat ataupun ada yang melaporkannya ke pihak penegak hukum, ya terpaksa kami buka mulut kenapa pengerjaannya tidak terlaksana penuh. Dan kepada siapa uang tersebut kami setorkan,” ancam pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Desa setempat.

Tak ketinggalan Kepala Desa Mondang Kecamatan Sayur Matinggi, Aminuddin, juga turut mebenarkan adanya dana yang diterima kelompok tani mereka dipotong oleh pihak Dinas Kehutanan Tapsel. Begitu juga dengan bibit tanaman, yang sampai sekarang masih banyak tersisa.

“Bibitnya pun masih banyak tersisa dan sampai sekarang masih terkumpul di dekat areal pengerjaannya. Bagaimanalah pelaksanaannya mau baik, sementara permainannya sudah begitu. Tapi apa mau dikata, kita juga bukan malaikat,” pungkasnya.

Baca Juga :  Rahudman 'target' Polda Sumut

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Tapanuli Selatan, Pardamean Daulay SH mebantah apa yang disampaikan oleh para kelompok tani tersebut dan mengatakan itu tidak benar adanya. Bahkan ia meminta kepada kelompok tani yang mengatakan hal tersebut untuk dihadapkan padanya.

“Hal ini sudah berkali-kali saya terima, namun saya tidak pernah menggubrisnya. Kalaulah benar, coba saja hadirkan dan jumpakan kepada saya para kelompok tani yang mengatakan hal itu. Kan sudah jelas, dananya mereka yang terima dan mereka juga yang melaksanakannya. Jadi tidak benar itu,” jawabnya saat dikonfirmasi METRO. (yza)/METROSIANTAR.com,

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*