DARI SOBAN HINGGA ELPIJI

Sianitu wajah nai Heppot tampak kuyu. Rambutnya yang setengah ‘gonjes’ juga acak-acakan. Sisir kutu barangkali bisa patah merapikannya. Bisa dibayangkan wajah berpipi ceking itu, yang kini bak dilanda badai ‘alogo bolon’, jenis angin yang cukup menakutkan di Danau Toba. Yang menambah miris, dari kedua kelopak matanya menetes air mata. Meski pun suara mongkik-mongkik, tangis sesunggukan tak terdengar dari kerongkongannya – yang biasa mengeluarkan suara lengking mirip seriosa-namun bisa ditebak kalau ia sedang didera perasaan gundah-gulana. Sedih hatiku, seperti judul lagu Koes Plus. Dihimpit duka yang amat sangat.

“Mungkin familinya dari Jakarta itu sudah pulang dan tak meninggalkan apa-apa untuknya,” komentar amani Unggal yang dari tadi jadi segan memesan kopi.

“Wah, mungkin dia sedih mengingat bang Ruhut yang kini jadi hujatan orang gara-gara sikapnya yang kurang etis sebagai politisi. Dia itu kan penggemar berat Sang Raja Minyak dari Medan itu. Dulu sinetronnya tak pernah ia lewatkan. Pantas, pantas ia berduka teman-teman. Apalagi bang Sianturi masih berfamili dengan nai Heppot. Itu lho,  kasus yang lagi hangat sekarang ini,” timpal amani Hotma.

“Itu Bank Century. Kalau bang Sianturi famili nai Heppot itu memang kerja di bank. Tapi sudah bang..krut.  Ah, kurasa ia teringat dengan almarhum suaminya. Kalau tak salah, dulu amani Heppot meninggal pas di awal tahun. Kita salam dululah dan harus diberi motivasi agar tetap semangat meneruskan hidup kejandaannya,” saran amani Luat sambil berdiri  menemui nai Heppot.

“Sudahlah ito, jangan ingat-ingat masa lalu lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita rajut masa depan apalagi sekarang masih suasana Tahun Baru. Don’t wait until tomorrow what you can do now,” ujar amani Luat sambil membaca tulisan sulaman tangan yang tergantung di dinding hasil prakarya putrinya nai Heppot.

Baca Juga :  Pemotong Kayu Bakar

“Betul, namboru. Kalau pun familimu itu sudah pulang dan tak meninggalkan apa-apa, kita maklum sajalah. Namanya hidup di rantau, tak selamanya punya banyak uang. Apalagi kudengar, keponakanmu itu seorang pemborong. Mungkin borongannya belum tembus. Sabar saja, ya?,” tambah amani Unggal dengan mimik yang ikut-ikutan sedih.

“Maksud loh?,” tanya nai Heppot tiba-tiba membuat segenap pelanggan kedai itu jadi salah tingkah. Pakai bahasa gaul pula. Jangan-jangan nai Heppot sudah keranjingan Facebook dan bertingkah layaknya remaja.

“Kami kan heran dengan sikapmu. Dari tadi wajahmu kusut-masai. Air matamu menetes. Bukankah ito sedang dilanda kesedihan?,” balik amani Luat bertanya.

“Betul, aku memang lagi sedih. Tapi bukan seperti apa yang kalian tebak. Aku sedih sebab gas elpiji langka. Minyak tanah juga. Maka itu aku terpaksa masak pakai soban alias kayu bakar. Gara-gara asapnya itulah mataku jadi berair. Belum lagi apinya harus ditiup-tiup sebab kayunya belum kering betul.” terang nai Heppot.

Semua yang mendengar akhirnya tertawa cekikan. Dasar nai Heppot, ada-ada saja ulahnya hingga membuat pelanggannya sempat berprasangka yang bukan-bukan.

“Betul seperti yang dikatakan nai Heppot. Aku pun heran juga, mengapa gas elpiji dan minyak tanah jadi langka. Katanya negeri kita penghasil minyak dan masuk anggota OPEC. Malah, kemarin Pihak Kelurahan membagi-bagi secara gratis tabungnya yang kecil-mungil itu. Tapi untunglah aku tak kebagian. Katanya mirip kaleng-kaleng dan rawan bahaya kebakaran,” tandas amani Pontas.

Baca Juga :  Parompa Sadun Kiriman Ibu

“Tapi sesekali perlu juga situasi seperti ini. Bisa mengingatkan masa dulu ketika kayu bakar masih pilihan utama untuk memasak. Cuma sayangnya, kayu bakar juga sudah susah didapat. Soal cita rasa masakan juga lebih hebat hasil kayu bakar,” ujar amani Juraida yang dulu waktu ‘dua urang’, baru punya anak dua, sempat jadi pemasok soban ke rumah-rumah penduduk. Bahannya ia ambil sendiri dari pinggiran hutan. Dan usahanya itu kemudian gulung-tikar ketika kompor minyak tanah dan gas mulai primadona di dapur.

“Tapi ini yang membuat kita ‘terjajah’ di alam merdeka. Kudengar-dengar ini berbau politik-ekonomi. Setelah harga naik, buktinya, gas dan minyak tanah bisa normal kembali. Atau ini permainan spekulan. Kalau benar, wah, sungguh terlalu,” ujar amani Oloan sambil menirukan gaya bicara Rhoma Irama.

Sumber:http://batakpos-online.com/content/view/12617/44/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*