Datanglah dan We’ll welcome You to Padangsidimpuan

simarsayang Datanglah dan Well welcome You to Padangsidimpuan
Datanglah dan We'll welcome You to Padangsidimpuan

Cuacanya sejuk sedikit menghembus. Semakin menggoda dengan julukan yang masih melekat erat; kota salak. Juga mengundang selera bagi penikmat cita rasa makanan. Dan didukung oleh alam yang subur.

Berada di atas ketinggian 325 meter di atas permukaan laut. Jika hendak menuju kota ini perjalanan akan memakan waktu sekitar Waktu tempuh dari Medan sekitar 10 jam dengan perjalanan darat.

Konon, berdasarkan sejarah, pada sekitar tahun 1700-an Kota Padangsidimpuan yang kita kenal sekarang dulunya merupakan sebuah dusun kecil yang disebut dengan “padang na dimpu”, yang artinya suatu dataran tinggi yang ditumbuhi ilalang lebat. Lokasi dusun ini berlokasi di Kampung Bukit Kelurahan Wek II di pinggiran Sungai Sangkumpal Bonang sekarang.

Dikenal dengan julukan kota salak karena rasanya yang khas. Namun sebenarnya julukan kota salak merupakan bagian kecil untuk menunjukkan identitas daerah yang berada di bagian barat Provinsi Sumatera Utara ini.

Buah salak yang berasal dari Padangsidimpuan memang sudah cukup dikenal dengan rasanya yang manis, buahnya besar-besar dan bijinya yang kecil merupakan ciri khas tersendiri serta kebanggan bagi daerah beriklim tropis ini.

Namun jika dilihat berdasarkan potensi yang ada, Padangsidimpuan sebenarnya juga kaya dengan potensi buah-buahan lainnya.

Berdasarkan potensi komoditi buah-buahan yang ada, jumlah produksi salak bukanlah satu-satunya komoditi unggulan unggulan yang ada di daerah yang terkenal subur ini. Menurut survei yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kota Padangsidimpuan pada tahun 2004, buah salak hanya menduduki peringkat ke-6 setelah produksi unggulan lainnya seperti duku atau buah langsat, alpukat, manggis, mangga, durian dan jeruk.

Terlihat perbedaan kuantitas yang menyolok bila mana dilihat dari segi jumlah produksi. Pada tahun 2004, produksi buah duku mencapai angka produksi sebesar 60 ton disusul dengan alpukat 46 ton, manggis 45 ton, mangga 34 ton, durian 31 ton dan jeruk 15 ton. Sementara salak hanya mencapai angka produksi sebesar 12 ton.

Melihat sumber daya alamnya yang kaya, maka tak heran peranan sektor pertanian merupakan sektor unggulan kedua yang berkontribusi besar terhadap Produk Regional Domestik Bruto setelah perdagangan dan jasa hingga tahun 2006. Sebesar 60 persen perekonomian daerah masih bertumpu pada sektor pertanian.

Baca Juga :  Kuliner Ikan mas sinyarnyar, kuliner khas dari Sipirok Tapanuli Selatan

Sektor inilah yang menjadi unggulan sekaligus mejadi penopang perekonomian masyarakat. Meskipun seiring dengan waktu, kota ini juga terus melakukan pembangunan kota secara fisik yang juga diharapkan mampu mendongkrak perekonomian rakyat. Jika melihat pembangunan yang dilaksankan saat ini, dalam waktu yang yang tidak singkat kota Padangsidimpuan telah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sesuai dengan visi dan misinya, kota ini tampaknya sedang getol mewujudkan kota Padangsidimpun menjadi pusat kota dagang dan jasa yang turut serta didukung dengan sektor-sektor yang memadai yakni pertanian tersebut. Misalnya, beberapa pembangunan yang sedang dilaksankan saat ini adalah pembagunan pusat perdagangan city walk yang diharapkan pada waktu mendatang dialokasikan menjadi pusat perdagangan dan perbelanjaan. Juga pembangunan pusat perbelanjaan modern (mall).

Pertanian padi masih mendominasi di sektor pertanian. Dari total luas wilayah 11.465,66 hektar, 2800 hektar di antaranya merupakan lahan produksi padi denga julah produksi sebesar 15.275 ton pada tahun 2004. Meskipun sebenarnya angka produksi ini mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berdasarkan angka kebutuhan beras masyarakat jumlah produksi ini masih mampu mencukupi kebutuhan beras lokal. Pada tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2003 terdapat luas lahan produksi seluas 3.759 dengan jumlah produksi sebesar 20.508 ton. Penurunan luas lahan produksi ini diakibatkan oleh peningkatan luas lahan pemukiman kota serta demi memenuhi pembangunan sarana infrastruktur perkotaan.

Komoditi pertanian lainnya adalah ubi kayu dengan jumlah produksi sebesar 1.393 pada tahun 2004. Sementara tanaman lainnya adalah sayur-mayur di mana tomat merupakan komoditi unggulannya dengan jumlah produksi sebesar 1.255 ton. Disusul oleh sawi 1.097 ton, ketimun 532 ton, cabai 59 ton kacang panjang 244 ton dan buncis 158 ton.

Sektor unggulan lainnya adalah perkebunan dimana komoditi karet masih menjadi menjadi unggulannya. Terdapat areal produksi seluas 1.495 hektar kebun karet dengan jumlah produksi sebesar 2.256 ton. Disusul dengan perkebunan kelapa sawit, kopi, kelapa, coklat, kulit manis dan pinang.

Hasil-hasil pertanian dari daerah yang terkumpul di daerah-daerah selanjutnya akan dikumpulkan di kota untuk kemudian dikirim ke daerah-daerah lain seperti Sibolga, Medan dan kota-kota lainnya selain untuk komsumsi lokal.

Baca Juga :  Populasi Beca di Sidimpuan Mengkhawatirkan

Makanan Khas

Selain itu, daerah berpenduduk 174.004 jiwa juga dikenal memiliki aneka makanan tradisional yang rasanya tidak pernah dilupakan oleh penduduk asli setempat baik penduduk asli yang bermukim di daerah lain.

Makanan itu tak lain adalah semaca, sajian tradisional yang menurut penduduk setempat disebut dengan nama ikan mas holat. Disajikan dengan bumbu khas ala tradisional. Rasa ikannya yang manis dibumbui dengan semacam kuah penyedap rasa yang dipadukan dengan asam. Sajian ini akan lebih bernuansa Padangsidimpuan karena juga disajikan dengan sambal asam dan “pakkat” yaitu pucuk rotan muda yang dibakar atau diasapi lalu dijadikan pelengkap sajian dengan nasi yang aromanya pun wangi dan mengundang selera.

Sajian masakan tradisional masakan tradisional Kota Padangsidimpuan ini dapat kita temukan kenikmatannya di sekitar pinggiran kota. Misalnya di daerah Siadabuan, sekitar 5 kilometer dari kota, yang terdapat di pinggiran jalan lintas dari Kota Medan menuju Padangsidimpuan dan Sumatera Barat. Selain itu juga terdapat di daerah Paranginan, sekitar 5,5 kilometer dari kota, terdapat di pinggiran jalan lintas menuju Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah. Tempat yang sama juga terdapat di daerah-daerah lainnya, yang rasanya nikmat.

Dengan memandang areal persawahan dengan hembusan angin, tentu “penjelajahan” menikmati makanan enak ini merupakan sebuah pengalaman yang begitu mengesankan.

Ditilis Kembali dari Post Asli di: http://shafwanhasby.22web.net/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*