Debu Vulkanik Guyur Brastagi – Aktivitas Sinabung Meningkat

Warga melintas di tengah hujan abu vulkanik erupsi Gunung Sinabung di kota wisata Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Sabtu (20/6). Akibat erupsi Gunung Sinabung, sejumlah desa dan daerah wisata Berastagi ditutupi abu vulkanik. (Antara Foto/Rony Muharrman/ed/ama)

Kabanjahe, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, terus menunjukkan aktivitas. Pertumbuhan kubah lava hingga kini terus berlangsung dan memicu awan panas serta guguran besar.

Hal itu dikatakan petugas Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung, Armen Putra kepada wartawan, Minggu (21/6). Dikatakannya, secara visual cuaca cerah, angin tenang sedang ke arah timur Gunung Sinabung jelas tertutup kabut dan asap putih tebal tinggi 50 meter.

Guguran lava pijar dari puncak sejauh 500-1000 meter ke Tenggara. Teramati api diam di puncak. Secara seismik Gunung Sinabung mengalami 31 kali gempa guguran, 50 kali gempa frekuensi rendah, 1 kali gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa tektonik lokal dan tremor vulkanik menerus.

Dia mengimbau, agar semua pihak tetap meningkatkan kewaspadaan pada atatus awas Gunung Sinabung. Berdasarkan data pemantauan, menunjukkan ada peningkatan jumlah gempa yang cukup tajam dan tubuh gunung tetap inflasi (mengembung) sejak 20 Juni 2015.

“Semua pihak agar mengikuti rekomendasi PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM, masyarakat tidak beraktivitas pada radius 7 km arah Selatan dari puncak Sinabung, masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 6 km arah Tenggara – Timur dari puncak Sinabung,” ujarnya.

Baca Juga :  Janji Bos PLN: Atasi Krisis Listrik Sumut dan Hemat Rp 16 T

Guyur Brastagi

Sebelumnya, seperti dilaporkan material debu vulkanik kembali menghujani Kota Wisata Brastagi, Kabupaten Karo, Jumat (19/6).

Meski sebentar debu vulkanik mengguyur Kota Brastagi, namun membuat warga menutup pintu dan anak-anak sekolah berlarian masuk ruangan kelas seperti terjadi di SMPN I Brastagi.

Guyuran debu juga membuat atap rumah penduduk berubah warna menjadi abu-abu keputihan. Meski hanya beberapa menit peristiwa hujan debu vulkanik ini, membuat warga panik.

“Seringnya hujan debu membuat repot, sebab harus membersihkan ruangan dan teras sekolah yang baru dibersihkan pelajar jelang libur sekolah bagi rapot,” kata Srihenna Saragih kepada Analisa.

Hujan debu vulkanik membuat warga panik, khususnya ibu-ibu buru-buru mengambil pakaian dari jemuran. Sebab, pakaian yang terkena guyuran debu jika tidak diangkat harus dicuci kembali jika tidak, bisa gatal-gatal bila dipakai, ungkapnya. (ps/dik)


(Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*