Demo Menolak Kedatangan SBY Ricuh

Demo menolak kedatangan Presiden SBY ke Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/10) berlangsung ricuh. Para mahasiswa dan polisi saling lempar batu di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia.

Perang batu diantara kedua belah pihak membuat warga panik dan ketakutan, Jalan Urip Sumoharjo pun praktis terganggu dan tidak dapat dilalui kendaraan. Sebuah mobil polisi menjadi bulan-bulanan mahasiswa dengan menjadi sasaran pelemparan batu hingga rusak. Sejumlah mobil pengendara yang terjebak di lokasi bentrok, juga rusak akibat terkena lemparan batu.

Bentrokan mereda setelah polisi menarik diri. Namun hingga saat ini suasan masih mencekam, polisi dan para mahasiswa masih saling berhadap-hadapan. Presiden rencananya akan datang ke Makassar, Rabu (20/10) mendatang untuk membuka rapat koordinasi Gubernur Se-Indonesia.(AYB).(LIputan 6.com)
Aksi Tolak SBY Berakhir Bentrok

DEMONTRASI mahasiswa menolak kedatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berakhir bentrok dengan aparat kepolisian, kemarin.

Saling lempar batu mahasiswa dari dua universitas berbeda, Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Universitas 45 melawan polisi dimulai sekitar pukul 14.00 Wita. Aksi mahasiswa berawal di depan kampus masing-masing di Jalan Urip Sumoharjo yang hanya berjarak sekitar 500 meter itu. Polisi yang kalah jumlah sempat mengeluarkan tembakan peringatan beberapa kali. Selama sekitar 15 menit mahasiswa dan polisi saling serang dan menyebabkan sepanjang jalan tersebut lumpuh total. Bentrokan berawal ketika polisi berusaha membubarkan aksi mahasiswa di depan kampus UMI Makassar yang menolak kedatangan SBY yang rencananya tiba di Makassar, hari ini.

Mahasiswa menutup badan jalan dan menyandera mobil tangki yang menyebabkan kemacetan sepanjang Jalan Urip Sumoharjo. Sekitar 50 polisi mencoba membubarkan aksi tersebut. Namun, mendapat perlawanan dari kubu mahasiswa. Bentrokan tidak terhindarkan. Polisi yang terdesak kemudian mundur sampai di depan kampus Universitas 45. Sesaat kemudian sekelompok mahasiswa yang berada di halaman Universitas 45 ikut melempari polisi.Seorang anggota polisi Bripka Jamaluddin terluka akibat terkena lemparan batu di betis sebelah kanan. Satu unit mobil dinas polisi yang terparkir di depan Kantor Jamsostek menjadi sasaran amuk mahasiswa.Aksi saling lempar batu ini berakhir setelah polisi mundur dan bertahan di ujung fly over.

Seorang mahasiswa bernama Aris sempat ditangkap oleh polisi dan terluka di wajahnya.Mahasiswa semester lima Fakultas Hukum ini mengalami pendarahan di telinga. Mengetahui rekannya ditangkap, mahasiswa kembali memblokir jalan dan meminta rekannya dibebaskan. Seorang anggota Polrestabes Makassar Bripda Untung yang kebetulan melintas di kerumunan mahasiswa disandera. Dia nyaris diamuk mahasiswa dan bahkan motor yang dikendarainya nyaris dibakar. Beruntung, pihak rektorat UMI Makassar menyelamatkan polisi tersebut dari amukan mahasiswa. “Sudah dilakukan pendekatan secara kekeluargaan.

Baca Juga :  Polisi Baku Tembak dengan Gerombolan Bersenjata di Kampar

Saya yang mengantar polisi itu ke lokasi Kapolrestabes di fly over. Mahasiswa juga sudah diantar pulang,” kata Wakil Dekan III Fakultas Teknologi Industri dan Ilmu Komputer UMI Zakir Sabara, saat dihubungi tadi malam. Penjelasan Zakir itu saat ditanyakan mengenai adanya “penukaran sandera” oleh polisi dan mahasiswa. “Situasi kampus aman.Setelah magrib tadi kan sudah selesai,”kata Zakir. Kapolda Sulselbar Irjen Pol Johny Wainal Usman di temui di lokasi kejadian menyesalkan aksi anakistis ini. Dia mengatakan, aksi demonstrasi tidak menutup jalan dan mengganggu pengguna jalan lain. ”Unjuk rasa boleh saja tapi jangan mengganggu kepentingan umum.Unjuk rasa juga harus ada pemberitahuan kepada petugas,”katanya.

Menurut dia, koordinator lapangan mesti menyampaikan kepada polisi sebelum turun melakukan aksi unjuk rasa. ”Korlap harus bertanggung jawab jika ada unjuk rasa,”katanya. Seorang peserta aksi, Andi Fachruddin Alam mengatakan, sebelum menggelar aksi di depan kampus, mahasiswa menyampaikan orasinya di Gedung DPRD Sulsel. Namun, dibubarkan oleh paksa oleh polisi karena tidak mengantongi ijin. ”Kami kecewa karena aksi kami di DPRD diminta bubar oleh polisi,” kata Fachruddin. Untuk menjaga situasi kondusif pascabentrokan,melalui Wakil Rektor III UMI Dr H Ahmad Gani, perkuliahan di kampus hijau itu diliburkan selama dua hari.“Sampai hari Rabu Tanggal 20. Hanya untuk menenangkan setelah kejadian tadi,”kata Zakir.

Jangan Terprovokasi
Sementara itu, Ketua Umum Badan Kordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulselbar Heny Handayani, meminta kepada mahasiswa agar selalu mengedepankan aksi unjuk rasa yang berkualitas, tanpa terprovokasi oleh pihak tertentu. Menurut Heny,gerakan mahasiswa terkait kepemimpinan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, harus steril dari kepentingan politik.Termasuk kemungkinan adanya oknum yang ingin memanfaatkan kedatangan SBY di Makassar,hari ini.

Secara lembaga, kata Heny, Badko HMI tidak mengintruksikan kadernya melakukan aksi menyambut kedatangan SBY.Kendati demikian, pihaknya tidak melarang kalau ada yang ingin bergabung dengan organisasi intra kampus menggelar demo.“Kami hanya harapkan agar suasana kondusif di Makassar tetap dijaga dan menghindari demo yang anarkis karena merugikan kita semua,” imbau mantan Pengurus HMI Cabang Makassar ini.

Baca Juga :  Premanisme Sudah Menghina Keamanan Negara

Tidak Takut Demo
Terkait adanya ancaman demonstrasi besar-besaran bertepatan dengan masa satu tahun pemerintahan SBY besok (20/10), juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha memastikan bahwa presiden tidak takut ataupun khawatir dengan aksi itu.“Bapak Presiden mendengar akan adanya sekelompok aksi yang akan dilakukan masyarakat. Bapak presiden sepenuhnya mempercayakan pada mekanisme yang berlaku, mekanisme hukum. Pihakpihak yang memiliki otoritas tentunya juga akan bertugas sesuai yang digariskan,”papar Julian, di komplek Istana Kepresidenan, kemarin.

Julian menambahkan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki aturan dan hukum sehingga semua tindakan,tidak terkecuali aksi demo harus berjalan dalam koridor hukum. Dia juga menegaskan bahwa Istana tidak akan memberlakukan pengamanan khusus atau berlapis-lapis, besok, meskipun aksi massa dipastikan akan berlangsung di sana. Julian juga mengatakan bahwa kemungkinan besar presiden akan berada di Jakarta,besok. Sebagai catatan, Presiden SBY selalu meninggalkan Jakarta saat terjadi demo besar-besaran. Saat peringatan 100 hari pemerintahannya, 28 Januari lalu, Presiden SBY meresmikan PLTU Labuan Banten, di Banten.

Sedangkan saat terjadi aksi demo besar-besaran pada peringatan Hari Buruh,Presiden SBY berada di Karawang,Jawa Barat. Pada peringatan 1 tahun masa pemerintahanya, Presiden SBY juga semula dijadualkan berada di Makassar, Sulawesi Selatan, untuk membuka Rapat Koordinasi Gubernur, hari ini. “Tidak akan ada pengamanan khusus karena kami percaya sistem sudah bekerja. Presiden percaya sistem akan bekerja,sedang bekerja dan terus akan tetap bekerja,” tandas Julian. (syamsu rizal/suwarny dammar/ arif saleh/maesaroh).(Makasarterkini.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*