Demo, Ratusan Warga Sebut Camat Angkola Timur Pembohong

Pihak dari kecamatan dan sejumlah petugas keamanan dari Polres Tapsel saat menerima kunjungan warga yang datang, Jumat (9/1)

TAPSEL – Jumat (9/1) sekitar pukul 14.30 WIB, ratusan Warga yang berasal dari Lingkungan IV dan V Desa Pargarutan, Kelurahan Pasar Pargarutan Batu, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan mendatangi kantor camat.

Di bawah guyuran hujan, ratusan warga meringsek masuk ke halaman kantor camat. Mereka menuntut agar camat bersikap tegas untuk menutup sejumlah peternakan ayam yang ada di sekitar tempat mereka tinggal, karena dianggap meresahkan.

“Camat pembohong… camat pembohong… Sudah sepakat untuk ditutup tapi tak ada kejelasannya. Camat tak berpihak kepada rakyat, Camat hanya mementingkan pengusaha ketimbang kami. Bagus diganti saja, tak usah menjabat lagi,” teriak ratusan warga di bawah guyuran hujan.

Pantauan Metro Tabagsel, masyarakat mendatangi Kantor Camat Angkola Timur yang terletak di kilometer 10 Jalan Lintas Psp-Tapsel dengan menggunakan sepedamotor, mobil, bahkan ada yang berjalan kaki.

Sambil menenteng poster, mereka menuntut camat untuk menutup sejumlah kandang yang dijadikan sebagai peternakan ayam yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Menurut mereka sesuai dengan pertemuan yang dilakukan pada 28 November 2014 lalu, camat komit untuk menutup usaha peternakan yang diketahui ilegal tersebut. “Sudah ada pembicaraan bahwa usaha ternak ayam itu ilegal dan harus ditutup, tapi kenyataannya sampai saat ini masih terus berjalan. Ada apa di balik ini?” tanya warga bersahutan.

“Kami datang ke mari untuk meminta kepastian dari camat. Kami tidak mau bertindak anarkis makanya kami datang ke mari. Kalau mau saja sudah kami bakar tempat peternakan kandang ayam itu,” tukas warga geram.

Muhammad Yani (40) salah seorang warga mengaku, Camat Angkola Timur seperti tidak peduli dengan keluhan tuntutan warga. Sebab hal itu sudah sering kali mereka sampaikan baik secara lisan maupun tulisan, namun tetap tidak ada jawabannya.

Baca Juga :  Tokoh Masyarakat Jambur Padang Matinggi Pro Pemekaran Datangi DPRD Madina

“Pemerintah harus pro kepada rakyat, bukan kepada pengusaha, sudah berapa kali kami layangkan surat tapi tetap tidak ada realisasinya. Kalau tidak ada kejelasan kami tidak akan beranjak dari kantor camat ini,” ujar Yani dan disambut warga lainnya.

Senada dengan Yani, Barot Siregar mewakili warga lainnya juga sudah menaruh rasa tidak percaya kepada camat yang menurut mereka sudah berbuat bohong dan tidak mendukung tuntutan mereka.“Sudah lebih dari 6 bulan seperti ini, dan kami masih terus dikasih harapan tanpa ada sikap yang jelas, apa harus ada korban baru pemerintah berbuat,” ucapnya tegas.

Suasana aksi unjuk rasa yang nyaris ricuh itu mendapat pengawalan ketat dari pihak Kepolisian Polres Tapsel dan Satpol PP. Dipimpin Kabag Ops Kompol M Simanjuntak didampingi Kasat Sabhara AKP JW Sijabat, Kasat Intelkam AKP Akhmad Fauzi, emosi masa yang terlihat sudah memuncak dapat diredam.

“Kami minta jangan ada yang bersikap anarkis, silahkan menyampaikan aspirasi dan tuntutannya. Jangan sampai bertindak yang melanggar hukum. Kita diskusikan bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Setujuuu…,” ucap Kasat Sabhara melalui alat pengeras kepada ratusan warga.

Sementara itu, Camat Angkola Timur Darwin Dalimunthe yang turun langsung menerima kedatangan warga menyampaikan, untuk melakukan penutupan terhadap usaha peternakan harus memiliki tahapan-tahapan dan ia meminta kepada warga untuk bersabar.

“Akan kita tutup tapi ada tahapan-tahapannya,” ujar camat di hadapan warga.

Belum lagi camat siap berkomentar, warga terdengar memotong pembicaraan dan mendesak untuk dilakukan perjanjian dengan ditandatanganinya langsung.

“Kami tidak mau, camat sudah terlalu banyak berjanji. Kami tidak percaya. Camat pembohong. Kalau mau buat surat pernyataan dan ditandatangani camat berikut poin-poinnya baru kami bisa percaya,” teriak warga lagi.

Mendengar permintaan warga, akhirnya setelah dilakukan kesepakatan dengan pihak terkait lainnya camat membuat surat penyataan di atas selembar kertas yang berisikan, bagi usaha peternakan yang kandangnya sudah kosong untuk tidak diisi lagi dan ditutup , untuk yang masih ada ditunggu sampai masa panen dan kemudian ditutup.

Baca Juga :  Usaha Kecil yang Dihormati Bisa Berjaya

“Dengan ini menyatakan peternakan ayam yang ada di Lingkungan IV dan V Kelurahan Pasar Pargarutan dan Pargarutan Jae, bagi yang kosong kandang ayamnya jangan lagi ada ternak ayam yang diisi, bagi kandang ayam yang sedang ada ayamnya ditutup setelah ayam panen,” tulis camat dan ditandatanganinya.

Setelah surat itu dibacakan, camat pun memberikan surat pernyataan tersebut kepada perwakilan warga dan selanjutnya berkoordinasi dengan pihak Pemkab untuk memusyawarahkannya. Menerima surat itu, ratusan warga pun satu persatu mulai membubarkan diri.

Menurut warga, peternakan ayam yang berada di sekitar tempat tinggal mereka sudah beroperasi kurang lebih hampir setahun dan tidak pernah meminta persetujuan dari warga sekitar ditambah lagi kotoran ayam yang menyebabkan banyaknya lalat yang sangat mengganggu ketentraman mereka.

“Ada 4 usaha kandang ayam di sekitar tempat kami itu, dan pemiliknya pun ada empat orang juga semuanya bukan warga yang berdomisili di daerah kami, makanya kami keberatan,” pungkas Jumin, salah seorang warga yang ngotot menuntut agar usaha peternakan ayam itu ditutup. (yza)


METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*