DEMOKRASI (bag-5): Pelajaran Dari Tirai Bambu

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)
Bagian #5 dari 9 Tulisan
Baca bagian sebelumnya:

  • DEMOKRASI (bag-1) – ASUMSI TAMBAH ASUMSI
  • DEMOKRASI (Bag-2) – TAK UNITARISME, TAK FEDERALISME: YOGYA DI USIK
  • DEMOKRASI (Bag-3) – BANGKRUT UNTUK DEMOKRASI
  • DEMOKRASI (bag-4) – RANGKAIAN PEMILIHAN YANG BUKAN PEMILIHAN

Kenanglah peristiwa sekitar dua dasawarsa yang lalu di lapangan Tianenmen, China. Puluhan ribu mahasiswa demonstran yang menuntut demokratisasi ditindak secara represif. Ribuan di antaranya tewas, selain yang dijebloskan ke penjara dan yang hilang tak tentu rimba. Mereka yang berhasil melarikan diri (termasuk ke luar negeri) terus berusaha memperjuangkan demokrasi di negeri itu.

Tianenmen (TRAVELPOD)

Gareng yang memulai pembicaraan kali ini, dengan diawali batuk-batuk kecil. Lehernya dibalut kain syal buatan China yang dibeli dipajak Monza di sekitar Jalan Mongonsidi, Medan. Kedua pelipisnya ditempeli salonpas super hangat. Monza adalah term baru di Sumatera Utara. Awalnya di sebuah lokasi yang terletak di Jalan Mongonsidi, terbentuklah pasar barang-barang bekas termasuk pakaian yang diimpor dari luar. Dengan penuh pembelaan, akhirnya rakyat menyebutnya Plaza. Sebagai sebuah term baru, Monza pun kini digunakan untuk pasar serupa di mana pun di Sumatera Utara. Untuk kota Tanungbalai ada pengecualian. Mereka di sana menyebut pajak sken, untuk memaksudkan second tentunya.

Kasus Semanggi memberi gambaran pahit tentang HAM di negeri ini, dan sejumlah mahasiswa yang menjadi korban akan kita catat sebagai pahlawan. Munir ada dalam kategori itu. Ia meninggalkan catatan kelam yang masih harus kita perbaiki. Semar menimpali dengan kalimat itu seolah sekadar ingin membandingkan kejadian Tianenmen dan Semanggi dalam kasus yang sama untuk perjuangan demokratisasi di dunia negara yang berbeda.

Tetapi China itu suatu negara yang amat berbeda dengan yang lain. Lain dia kang, tegas Gareng. Setahuku dunia tidak mungkin tak mencatat bahwa konon seiring kemajuan ekonomi yang rata-rata tumbuh sekitar 10 % sejak 1980-an, China pun kini tampil menjadi super power baru dan secara geopolitik telah mengantarkannya menjadi ancaman negara industri maju. Karenanya Barat dengan segala macam dalih amat gencar berpropaganda agar China mempromosikan demokrasi dan HAM sebagai bagian agenda pembangunannya. Hal itu pun kini sudah dipaksakan menjadi arus-utama percaturan dan isyu global.

Baca Juga :  Sumber Daya Alam Dimungkinkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kecamatan Marancar

China tidak mungkin dengan naif mendiamkan segala hal yang boleh dianggap buruk (oleh dunia) tentang dirinya. Itu semua dilakukan hanya untuk sebuah kebebasan mutlak dari dikte pihak mana pun. Ia amat teguh menempuh jalan politik sendiri, terutama karena ia tahu apa yang lebih cocok dengan kebutuhan domestiknya. Meski China bukannya tidak tahu apa yang diteriakkan oleh Barat tentang demokratisasi dan HAM, namun ia tidak hendak serta-merta mengadopsi itu. Ia faham betul Barat hanya ingin mempermainkan isyu yang amat sarat kepentingan politik-ekonomi.

Lagi pula dengan berkaca pada diri sendiri, ia sadar benar bahwa di balik teriakan isyu demokratisasi dan HAM terdapat bias besar ideologis-dominasi dan hegemoni. Ia tidak mau terjebak kamuflase yang menyembunyikan kepentingan ekonomi Barat atas negara berkembang. Ini telah diingatkan secara serius oleh Joel Rocamora.

Kita tidak dalam posisi menyanggah bahwa secara tradisional, tujuan penyelenggaraan pemerintahan demokrasi adalah untuk mencegah akumulasi kekuasaan kedalam satu atau beberapa orang. Meskipun ini yang terjadi di negeri kita, tetapi demokrasi itu sesuatu konsep yang paling anggun. Itu menurut Semar. Ia pun berusaha melanjutkan, demokrasi sebagaimana dikemukakan Winston Churchill sebagai  least bad form for government artinya bahwa pemerintahan demokrasi bertujuan mengurangi ketidakpastian dan instabilitas serta menjamin warga negara dalam mendapatkan kesempatan yang berkala.

Gareng merasa heran, darimana Semar tahu berbicara sehebat dan selancar itu. Rupanya pada malam harinya Semar mengikuti perbincangan di tv yang melibatkan sejumlah orang pintar yang berada di luar kekuasaan. Omongan orang-orang itu mencerahkan dan sekaligus menyejukkan. Beda sekali dengan omongan para pengurus parpol yang dari mimiknya saja sudah tergambar kebohongan meski berusaha berkata baik dalam ketidak-jujuran yang terbungkus rapi.

Ekonomi itu menyangkut kondisi banyak hal, tak cuma soal demokrasi belaka. Itu menurutku, kata Petruk. Mengaca pada nasib Indonesia yang masih selalu dibanggakan karena tetap mengalami pertumbuhan meski berbagai negara lain sudah drop ke pertumbuhan negatif,  Petruk memujikan Zhu Rongji sang Perdana Menteri yang dengan gagah berani berusaha melawan korupsi yang belum habis-habis. Barat penuh kecemburuan terhadap kemajuan ini, dan saya juga iri Indonesia tidak dibuat oleh SBY sepesat kemajua tirai bambu itu.  Perhatikan ini syal yang dikenakan kang Gareng, itu satu contoh produk China. Ekonomi kita dihantam habis dengan kebijakan globalisasi yang memberi karpet merah kepada masuknya produk China.

Baca Juga :  Mengurai Krisis Listrik di Sumatera Utara

Gareng pun tahu, sebagaimana Petruk dan Semar, pemerintah Indonesia berusaha berpikir dan tak berusaha bertindak. Berwacana memberantas korupsi, tetapi malu menjadi pahlawan meniru Zhu Rongji.

(Bersambung)

Baca kelanjutannya:

  • DEMOKRASI (bag-6): Singapura (pending: 05 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-7): Teori Pembangunan = Teori Penjajahan (pending: 12 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-8): Liberalisme (pending: 19 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-9): Meratapi Nasib (pending: 26 Pebruari 2011)

*) Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
n’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*