DEMOKRASI (bag-7): Teori Pembangunan = Teori Penjajahan

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)
Bagian #7 dari 9 Tulisan
Baca bagian sebelumnya:

  • DEMOKRASI (bag-1) – ASUMSI TAMBAH ASUMSI
  • DEMOKRASI (Bag-2) – TAK UNITARISME, TAK FEDERALISME: YOGYA DI USIK
  • DEMOKRASI (Bag-3) – BANGKRUT UNTUK DEMOKRASI
  • DEMOKRASI (bag-4) – RANGKAIAN PEMILIHAN YANG BUKAN PEMILIHAN
  • DEMOKRASI (bag-5) – PELAJARAN DARI TIRAI BAMBU
  • DEMOKRASI (bag-6) – SINGAPURA

Kembali Petruk, Gareng dan Semar terlibat diskusi demokrasi. Mereka tampaknya telah sefaham secara teoritis bahwa demokrasi itu merupakan sistem yang dianggap ideal untuk model pemerintahan yang baik, dan mengaitkan berbagai macam elemen-elemen suatu negara yang demokrasi, (seperti, adanya partai politik, pemilu, serta kebebasan individu dan kelompok). Tetapi ketiganya hanya mengakuinya pernah ada cuma pada tingkat wacana, paling tidak untuk sampai saat ini dan untuk Indonesia.

Aku tak pernah ke Amerika, juga tak ke Australia. Aku hanya pernah ke Wonosari dan Kemusuk, Yogyakarta. Jadi aku tak ingin  mencampuri urusan mereka, pungkas Gareng. Di dalam sebuah negara demokrasi segala macam kegiatan yang berkaitan dengan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat. Rakyat seperti kita-kita ini. Itu sudah kita diskusikan. Rakyatlah yang memiliki kewenangan sepenuhnya untuk mengontrol, memilih dan menjalankan suatu demokratisasi negara. Pemimpin yang berkuasa tidak lepas dari kontrol rakyat yang di representatifkan melalui sebuah lembaga legislatif. Itu juga sudah kita diskusikan.

Sekarang aku tolong didengar, sebagai rakyat kecil yang tak bermotif kekuasaan apa pun, pinta Semar. Teori pembangunan ekonomi muncul dan berkembang pesat pada awal dasawarsa 1950-an, sebagai salah satu upaya menjawab keterbelakangan ekonomi dan pembangunan bangsa-bangsa yang baru merdeka secara meluas di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kakang berdua dan saya tidaklah begitu tahu, tetapi ada nama tokoh-tokoh yang mengemukakan teori pembangunan seperti WW Rostow, David Ricardo, Gerald M.Meir, Henry J.Bruton, Robert E Baldwin, J Schumpter, Ragnar Nurske, Talcott Parson, Syzmon Chodak, Huntington dan lain-lain. Pada umumnya para tokoh ini menggali hubungan antar faktor ekonomi dan faktor politik dalam pembangunan ekonomi yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Aku tak hendak membantah itu semua.

Baca Juga :  Pilpres yang Belum Beres

Juga tentang asumsi hubungan kuat antara ekonomi dan politik yang sekiranya dapat dilihat dengan adanya penguasa yang menentukan arah sistem politik dalam kelembagaan masyarakat yang mempermudah pembangunan ekonomi dan pengusaha membuat perencanaan sistemik bagi proses pembangunan ekonomi suatu negara. Tetapi amat menarik juga ketika Syzmon Chodak, kakang tahu orang mana dia? Tanya Semar. Tetapi akhirnya ia pun langsung berkata ”jangan tanya, sebab aku sendiri pun tak tahu ia berasal dari mana. Kalau ia berasal dari Sumedang atau Langkat, kampungnya pak Bupati Syamsul Arifin, pastilah kukenal”.

Orang ini menceritakan lima pendekatan dalam melaksanakan teori pembangunan ekonomi. Pertama,  teori pembangunan berupa evolusi. Kedua, teori pembangunan yang menekankan proses menuju pada keniscayaan kondisi saling ketergantungan (interdependensi). Ketiga, teori motivasi yang mendorong aktivitas pembangunan. Keempat, teori tentang aspek-aspek tertentu dari proses pembangunan masyarakat, seperti: pembangunan ekonomi dan pembangunan politik. Kelima, teori tentang proses pembangunan ekonomi sepert teori modernisasi.

(Bersambung)

Baca kelanjutannya:

  • DEMOKRASI (bag-8): Liberalisme (pending: 19 Pebruari 2011)
  • DEMOKRASI (bag-9): Meratapi Nasib (pending: 26 Pebruari 2011)
*) Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum nBASIS
sohibul DEMOKRASI (bag 7): Teori Pembangunan = Teori Penjajahann’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Bahaya Styrofoam Sebagai Kemasan Makanan Bagi Kesehatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*