Derita Tak Kunjung Henti di Republik Asap

Oleh: Tommy Apriando

Asap pekat dan tebal terus menyebar dan menutup jarak pandang mata di berbagai propinsi di republik ini. Mulai dari Riau, Sumatera Utara, Aceh,  Jambi, Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau. Penyakit ganggungan pernafasan mulai menjangkiti warga. Berbagai tindakan pemadaman terus dilakukan namun belum ada tindakan tegas pemimpin republik ini terhadap pelaku baik individu maupun perusahaan yang melakukan pembakaran lahan.

Kita masih ingat, tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya kebakaran serupa juga terjadi. Dampak penyebaran asap waktu itu menyebar ke propinsi tetangga, bahkan menyebar sampai ke Negara tetangga. Bahkan pemimpin republik ini, rela meminta maaf atas asap yang menyebar ke Negara tetangga. Kini terulang lagi, bahkan kejadiannya meluas di beberapa propinsi lain. Akankah asap akan kembali menyebar ke Negara tetangga? Apakah akan bertambah musim di republik ini ? Menjadikan negeri ini memiliki musim ketiga yakni “musim asap”.

Kebakaran di Sumatera dan Kalimantan

Di Aceh, selama bulan Februari kemarin terkepung kabut asap menyusul kebakaran hutan dan lahan di 10 kabupaten sejak awal Februari 2014. Kebakaran makin meluas akibat kekeringan yang memicu cuaca panas sejak Desember 2013. Kebakaran lahan dan hutan terjadi di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Berdasarkan pernyataan Husaini Syamaun, Kepala Dinas Kehutanan Aceh, dari Mongabay.co.id, sebagian besar, akibat pembukaan lahan untuk perkebunan oleh masyarakat di luar kawasan hutan. Namun, di Aceh Jaya, ada kawasan hutan produksi terbakar, dan di Aceh Tenggara, kebakaran di Taman Nasional Gunung Leuser. Kebakaran terparah, di lahan gambut di Teunom Kabupaten Aceh Jaya, Tripa di Kecamatan Babahrot Aceh Barat Daya dan HGU perkebunan sawit PT. Nafasindo dan lahan warga di Aceh Singkil. Data Badan Meteorologi dan Geofisika mencatat, terdapat 72 hotspot di Aceh terpantau melalui citra satelit.

Di Sumatera Utara (Sumut), ratusan hektar hutan dan lahan gambut di beberapa kabupaten di Sumatera Utara (Sumut) mengalami kebakaran hebat. Akibatnya, kabut asap cukup tebal mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Kuala Namu.

Baca Juga :  Pulau Nias Akan dijadikan Kawasan Wisata Nasional

Data Balai Besar BMKG Wilayah I Medan, hasil pantauan Satelit NOOA-18 pada 16-19 Februari 2014 mulai pukul 01.00, di Sumut ditemukan ada 523 titik api (hotspot). Ketinggian asap kebakaran hutan sampai 10 meter untuk pepohonan, dan satu meter semak belukar. Pada level ketinggian itu, Trajectory massa udara asap kebakaran hutan, sebagian besar bergerak ke arah Barat Laut sampai Utara.

Di Pekanbaru, Data Eyes on the Forest (EoF) menyebut sepanjang tanggal 13-18 Februari 2014 total ada 1.605 hotspot, dengan rincian sebanyak 474 hotspot terjadi di areal hutan tanaman industri, 310 hotspot terjadi di areal perkebunan kelapa sawit, dan 12 hotspot di kawasan hutan HPH.

Kabut asap dari kebakaran hutan di Sumut dan Riau, menyebabkan Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Serdang Bedagai, tertutup asap dan jarak pandang terbatas.

Di Kalimantan Barat, kebakaran hutan dan lahan terbantu karena sudah turunnya hujan. Kabut asap berkurang. Titik api jauh lebih rendah, termasuk di kabupaten-kabupaten yang mempunyai titik api terbanyak, seperti Kota Pontianak, Kubu Raya dan Kabupaten Ketapang. Data dari UPT Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Kalbar, menyebutkan, 15-16 Februari dari satelit NOAA terdata 32 hotspot. Pada 17 Februari nihil. Kebakaran yang terjadi sebagian besar di luar kawasan hutan. Data sebaran titik panas pantauan BMKG tak terlalu berbeda dengan satelit NOAA. Pada 18 Februari, ada 72 titik api. Kabupaten paling banyak titik api ialah Ketapang, di Kecamatan Pesaguan 32 titik api.

Tindak Pelaku, Tak Mau atau Tak Mampu

Berbagai data spot kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di republik ini seharusnya membuka mata kita untuk bersama lebih peduli terhadap hutan. Tidak hanya manusia yang merasakan dampak kebakaran ini, satwa-satwa liarpun juga menjadi korban. Ancamannya tentu sangat serius, kehilangan habitat hingga kepunahan.

Pemerintah harus bekerja cepat dan tegas. Menindak pelaku pembakaran tanpa pandang bulu. Sebagai masyarakat tentu kita berharap pemerintah saat ini benar-benar menegakkan hukum tanpa mengumbar janji lagi. Regulasi republik ini jelas mengatur bahwa pemegang hak atau izin bertanggungjawab atas terjadinya kebakaran hutan di areal kerjanya. Pemerintah harusnya bisa gampang menekan jumlah kebakaran lahan di konsesi perusahaan dengan undang-undang yang di miliki.

Baca Juga :  Mafia Anggaran Itu Ada

Dalam undang-undang Lingkungan Hidup mengenal pertanggungjawaban pidana korporasi, ini yang harus digunakan pihak berwajib. Lalu untuk mendeteksi siapa yang harus bertanggung jawab, pemerintah bisa membaca peta sebaran titik api dengan peta konsesi, bakal ketahuan apakah titik api itu dari kebun masyarakat atau konsesi perusahaan.

Lalu, apalagi yang pemerintah tunggu. Apakah akan terus berdiam diri. Korban terus bertambah, luasan hutan dan lahan yang terbakar terus meluas. Kejadian serupa bahkan terjadi setiap tahun, namun pemerintah terkesan takut menindak para pelaku. Sekarang, kita sebagai masyarakat semakin bisa melihat harkat dan martabat para pemimpin negeri ini. Mereka bukannya tak mampu menegakkan hukum sebagai panglima di republik ini, akan tetapi mereka tidak mau lantaran keadilan hukum yang bisa jadi sudah terbeli.

Pemerintah jangan terus jadikan masyarakat sebagai tumbal dari ketidaktegasan penegakan hukum di republik ini. Sudah terlalu banyak derita yang ditanggung oleh masyarakat. Jangan lagi ditambah dengan membiarkan hutan dan lahan terus terbakar dan hilang. Jika pemerintah tidak tegas menindak para pelaku, maka mari bersama kita menyambut musim asap di republik ini setiap tahunnya.*** sumber- analisadaily.com

* Penulis adalah Jurnalis di Media Online Lingkungan Mongabay Indonesia dan tinggal di Yogyakarta

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*