Desa Tanjung Baringin, Padang Lawas – Desa Tertingal yang Luput dari Perhatian Pemerintah

DESA Tanjung Baringin, Kecamatan Barumun, lokasinya hanya enam kilometer dari Sibuhuan selaku Ibukota Kabupaten Padang Lawas (Palas). Namun, desa yang didiami 85 kepala keluarga (KK) ini, merupakan desa tertinggal yang hingga kini luput dari perhatian pemerintah alias belum mendapatkan fasilitas apa-apa.

Jangankan pembangunan gedung sekolah, atau sarana belanja permanen lainnya. Sarana transportasi saja belum ada. Hal itu disebabkan jalan di desa ini hanyalah bekas peninggalan masa lalu alias jaman kolonial Belanda. Itu berarti, yang ada hanyalah sisa bebatuan. Sedangkan aspalnya, lenyap tanpa bekas.

Pada 2008 lalu, desa yang berjarak lima kilometer dari jalan lintas Riau ini, pernah menjadi daerah kejadian luar biasa (KLB) demam cikungunya. Lagi-lagi, penanggulangannya sangat lamban karena memang keterbatasan transportasi.

Pantauan BATAKPOS, Minggu (18/7), terlihat kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Di badan jalan, yang tersisa hanyalah batu dasar badan. Sedangkan sisa aspal sudah tidak membekas lagi. Kerusakan yang menyerupai kubangan kerbau itu terlihat merata sepanjang  jalan yang jadi penghubung antardesa tersebut. Kedalaman lobang pun mencapai 50 sentimeter. Jika pengemudi tidak hati-hati, sepeda motor dan truk yang bertonase berat bisa tergelincir, bahkan terjerembab.

Buruknya kondisi jalan itu mengganggu mobilitas barang dan manusia. Sarana umum pengangkut warga yang ada  hanyalah beca bermotor (betor) dengan ongkos Rp5.000 per orang.

Kepala Desa Tanjung Baringin, Ahmad Kenangan Daulay mengatakan, sejak Indonesia merdeka dan hingga kini, jalan yang melintas di tengah desa tersebut memang belum pernah dilapisi aspal.  Pengaspalan yang pernah dilaksanakan pemerintah beberapa tahun silam, hanya sampai di titik 600 meter sebelum ke desa tersebut. Sedangkan arah ujung jalan atau  dari persimpangan SMP 3 Batang Bulu, pengaspalan hanya sampai di titik 500 meter. Dengan demikian, sepanjang 1.100 meter jalan di desa tersebut belum tersentuh pembangunan.

Baca Juga :  Menang 2-0, Malaysia Selangkah Lebih Dekat ke Final

“Satu-satunya pembangunan yang ada hanya pembuatan sumur bor dan MCK (mandi, cuci, kakus) beranggaran Rp150 juta dari APBD 2009. Sayangnya, hingga saat ini sama sekali tak berfungsi, ” jelas Daulay.

Dikatakannya, sumur bor itu hanya berfungsi selama enam hari. Setelah dilaporkan ke pihak kontraktor, berfungsi hanya sehari. Dan sejak itu hingga kini, sama sekali tak bisa digunakan. ”Padahal, kehadiran sumur bor tersebut sangat diharapkan warga karena di desa ini sumber air sangat sulit. Pernah 83 KK di desa ini diserang penyakit chikungunya karena mengkonsumsi air minum dari Sungai Batang Bulu yang mengalir dari beberapa desa sebelumnya, dan menurut  hasil laboratorium Dinkes Provinsi Sumut, airnya memang tidak layak pakai,” paparnya.

Sumber; http://batakpos-online.com/content/view/15590/1/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Ayo…perbanyak korupsi… biar makin banyak daerah tertinggal seperti ini. o… iya… Kementerian Daerah Tertinggal ada kan…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*