Desakan Pindah Ibu Kota Semakin Kuat – Ketua DPR Setuju Palangkaraya

Gagasan pemindahan lokasi ibu kota negara terus bergema. Jakarta yang penuh kemacetan dan problem sosial dianggap sudah tidak layak menjadi pusat pemerintah. Para politikus dan sejumlah intelektual mulai menyodorkan kota alternatif tempat presiden dan para menteri mengendalikan pemerintahan.

Ketua DPR Marzuki Alie mendukung Palangkaraya, Kalteng, sebagai ibu kota mendatang. Dia menilai posisi kota itu bisa menyeimbangkan pembangunan Jawa dan luar Jawa. Sementara, sejumlah ilmuwan yang menyusun Visi Indonesia 2033 lebih memilih ibu kota negara berada di Kalimantan Timur. Yakni, membentuk kota baru yang disangga Balikpapan dan Samarinda.

“Usul kami mengerucut ke Kalimantan Timur,” kata Andrinof Chaniago, dosen Fisip UI, yang menjadi ketua tim Visi Indonesia 2033. Di tim ini juga ada ekonom Ahmad Erani Yustika, dosen Unibraw. Rekomendasi yang merupakan hasil riset itu digarap sejak 2008 lalu.

Menurut Andrinof, Kalimantan Timur merupakan titik yang paling cocok untuk membuat keseimbangan pertumbuhan antara wilayah barat dan timur atau Jawa ?luar Jawa. Menurut dia, ibu kota negara yang baru harus menggunakan lahan kosong atau betul-betul baru. Bukannya menempel atau mengubah status kota yang sudah ada di Kaltim, seperti Samarinda dan Balikpapan. Kedua kota itu bisa difungsikan sebagai kota penyangga atau kota pendidikan. “Jadi, ibu kota negara ini benar-benar kota baru,” ujarnya.

“Ibu kota itu seharusnya berkonsep modern agar mampu bersaing dengan kota global lain. Jakarta sudah tidak mungkin,” kata Andrinof yang juga direktur eksekutif CIRUS Surveyors Group di Jakarta kemarin (1/8).

Jakarta, kata dia, telanjur amburadul. Problem kemacetan dan tata ruang yang kacau diperparah dengan padatnya jumlah penduduk. Bahkan, ibu kota negara itu kini “dikepung” sekitar 30 juta penduduk yang tersebar di Jabodetabek.

“Jakarta jelas tetap harus dibenahi. Namun, sebagai ibu kota negara, Jakarta telanjur susah dibangun menjadi kota yang berperspektif global,” kata Andrinof.

Secara umum, lanjut dia, Kalimantan aman dari gempa. Namun, pantai timur memang memiliki kemungkinan ikut merasakan efek gempa dari perairan di sekitar Maluku dan Sulawesi. Karena itu, lokasi ibu kota bukan selatan dari Kalimantan Timur. Namun, bisa 100 sampai 150 km dari Samarinda atau Balikpapan ke arah timur.

Baca Juga :  CSIS: angka golput capai rekor terbaru

Andrinof mengakui, sebagian kalangan masih memilih pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Tengah. Menurut Andrinof, ini lebih sebagai romantisme atas ide Bung Karno. Padahal, tekstur lahan di Kalimantan Tengah cenderung flat dan gambut, sehingga rawan banjir. Dia mencontohkan Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah, yang sering kebanjiran.

“Kota kecil dengan penduduk sekitar 200 ribu itu saja bisa kebanjiran,” katanya. Karena itu, Andrinof menegaskan, tekstur lahan lokasi ibu kota sebaiknya memiliki sedikit kemiringan.

Andrinof memperkirakan proses pemindahan ibu kota secara menyeluruh bisa tuntas dalam 10 tahun. Anggarannya sekitar Rp 100 triliun yang dicairkan secara bertahap. “Rp 10 triliun setiap tahun. Dalam lima tahun sudah muncul bentuk lokasi baru ibu kota. Pada tahun ketujuh beberapa fungsinya bisa berjalan dan tahun kesepuluh selesai sepenuhnya,” kata Andrinof.

Wacana pemindahan ibu kota juga sempat muncul pada era Orba. Tapi, lokasi yang ditawarkan masih di sekitar Jakarta. Beberapa alternatif yang disodorkan adalah Jonggol, Bogor; Serang bagian Selatan; Bogor Selatan; dan Subang, Jabar. Tapi, menurut Andrinof, itu tidak akan efektif. Alternatif itu hanya memindahkan keruwetan.

Andrinof menambahkan, DPR dan DPD tidak perlu repot-repot membuat naskah akademik untuk ide pemindahan ibu kota. Naskah visi Indonesia 2033 sudah menuangkan data dan analisis padat setebal 60 halaman.

Jakarta Jadi Kota Bisnis

Ketua DPR Marzuki Alie menyambut baik wacana pemindahan ibu kota negara. Dia menilai, Jakarta sudah tidak layak lagi karena terbelit kemacetan dan urbanisasi. “Pertumbuhan kendaraan jauh lebih cepat daripada pengembangan jalan karena dihadapkan dengan kesulitan tanah,” kata dia di Jakarta kemarin (1/8).

Menurut kader Partai Demokrat itu, problem kemacetan Jakarta mungkin bisa dipecahkan melalui pembangunan monorel, subway, atau busway. Tingginya traffic di Pelabuhan Tanjung Priok bisa diselesaikan dengan membangun pelabuhan baru di Jawa Barat dan Banten. “Tapi, itu hanya menyelesaikan masalah Jakarta. Tidak sampai menyelesaikan masalah pemerataan pembangunan dan pertumbuhan,” ujarnya.

Baca Juga :  Gayus: Jadikan Saya Staf Ahli Kapolri, Dalam 2 Tahun RI Bersih Korupsi

Dia setuju memindahkan ibu kota dengan tujuan keseimbangan pembangunan di seluruh Indonesia. “Manakala ibu kota kita pindahkan ke arah yang diperhitungkan mampu menstimulus pertumbuhan Indonesia Timur, tentunya itu menjadi baik sekali.”

Bila ibu kota pindah, menurut dia, Jakarta diposisikan sebagai sentra bisnis. Beban sebagai pusat pemerintahan sepenuhnya disangga oleh ibu kota baru itu.

Menurut dia, pemindahan ibu kota bukan hal tabu. Ibu kota Amerika Serikat, kata dia, berpindah dari New York ke Washington DC. Begitu juga ibu kota Australia yang dipindahkan dari Sydney ke Canberra. “Jadi, saya kira tidak ada masalah. Pemindahan ibu kota ini rasional dan logis untuk kita lakukan.”

Marzuki mendukung lokasi baru ibu kota itu di Kalimantan Tengah. Apalagi, jelas dia, beberapa kajian menyebutkan bahwa Palangkaraya cukup visible untuk menjadi ibu kota negara. “Dari Papua lebih dekat. Dari Sumatera juga tidak terlalu jauh. Karena lokasinya berada di tengah-tengah, Kalteng cukup menarik untuk menjadi ibu kota baru,” katanya.

Sumber: http://metrosiantar.com/METRO_TANJUNG_BALAI/Desakan_Pindah_Ibu_Kota_Semakin_Kuat

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

6 Komentar

  1. mau atau g’ mau tetap Palangkaraya adalah wilayah yang strategis sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    Posisi strategis berada di tengah-tengah pulau-pulau lainnya di Indonesia dan tidak adanya gunung berapi, tanah longsor, banjir, gempa bumi apalagi tsunami kecuali meteor jatuh dari langit aja..hehehe
    hanya saja perlu dikaji lebih mendalam tentang geologi tanahnya bagi bangunan, terutama gedung-gedung pencakar langit karena geologis tanahnya adalah tanah gambut. Tapi hanya dengan campur tangan ahli geologi dan arsitek maka semua ini dapat diatasi dengan mudah kok.

  2. bila ibu kota pindah d palangkaraya apa bsa mnjadi lbih baik dari ibu kota yg skarang ini ,sring kbanjiran,macet.,.,ibu kota skarang sudah ngacak.,.,ujar saya daerah palangkaraya tidak lah etis untuk d jadikan ibu kota sudah banyak tragedi atau bncana d daerah sebrang sana,.,.subang lebih cocok untuk d jadikan ibu kota apalagi subah daerah yang sangat sejuk dan nyaman jauh lg dari bncana banjir maupun gmpa..,.bila coment saya nie tdak pnting acukanlahhh.,.,

  3. sabgat setuju kpda bapak Marzuki Alie..
    secepatnya..lbh baik.
    kasian warga JKT macet Mulu.kan ribet bukan kita d’palangkaraya,tp org JKT itu sendiri.

  4. Pulau Jawa sudah hampir tenggelam menahan beban berat penduduk dan pembangunan, Semakin cepat pemindahan Ibukota Negara semakin bagus, JANGAN HANYA WACANA, kemanapun pindahnya, siapaun pemilik tanah disan, tidak ada masalah asal diluar pulau Jawa dan Bali yang sudah cukup padat . Jakarta sudah cukup sumpek sudah tidak nyaman tinggal di jakarta.

  5. Ketika saya menuju Kota Sampit dari Palangkaraya melalui jalan darat, saya melihat banyak lahan kosong disisi kiri dan kanan jalan. Saya bertanya kepada sang sopir yang mengendarai kenderaan kami, : “Pak, kenapa tanah-tanah seluas ini tidak diolah menjadi lahan pertanian oleh penduduk disini ???. Sang sopir menjawab,” Tanah-tanah ini pak, sudah dibeli dan milik orang Jakarta, khan ibukota negara mau dipindahkan kemari ! (Palangkaraya). Loh….begitu rupanya.

  6. Kalau Ketua DPR Marzuki Alie setuju Palangkaraya menjadi Ibukota Negara RI, saya Bangun SIregar, SH tidak setuju alasannya adalah Kalimantan Tengah (Palangkaraya) jaraknya dari laut untuk dijadikan pelabuhan sangat jauh karena pelabuhan laut sangat penting untuk arus perdagangan. 2. Jangankan di Palangkaraya sebagai Ibukota Negara, di Jakarta saja pun tetap ibukota negara, kota2 penyangganya saja (Bogor Depok, Tangerang Bandung, Cilegon dll) yang berdekatan dengan Jakarta masih kurang terurus apalagi kalau sudah pindah ke Kalimantan Tengah. 3. Alasan untuk memindahkan ibukota hanya karena faktor kemacetan dan atau kepadatan penduduk, adalah sangat tidak mendasar. 4. Seandainyapun terjadi pemindahan ibukota nantinya, saya setuju jika pindah ke Banjarmasin karena dekat dengan laut.5. Yang penting sebesarnya bukan masalah pindah ibukota atau tidak supaya masyarakat sejahtera tetapi yang paling perlu dan penting adalah siapa yang memimpin negara ini, apakah dia cerdas atau tidak. Ketika jaman Presiden Soekarno, masyarakat begitu cinta sama pemimpinnya dan merasa at home sebagai orang Indonesia, kenapa dijaman modern ini rasa nasionalisme masyarakat menuru ? Saya sedang memikirkannya, bagaimana dengan anda ?.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*