Di Palas, Gara-gara Harta Warisan – Adik Habisi Abang Kandung

METRO; Kepolisian Sektor (Polsek) Barumun menggelar reka ulang kasus pembunuhan Pangadilan Hasibuan (50), yang dilakukan adik kandungnya Buan Hasibuan (38), di Batang Bulu Tanggal, Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Padang Lawas (Palas), Selasa (11/5). Dalam rekonstruksi terungkap, pembunuhan tersebut terjadi akibat uang Rp10 juta hasil penjualan harta warisan.

Dalam rekonstruksi yang berisikan 10 adegan tersebut, korban Pangadilan Hasibuan diperagakan Zulpan Harahap, salah seorang warga. Sementara tersangka Buan Hasibuan diperagakan sendiri oleh tersangka.

Saat kejadian itu, Senin (29/3) lalu sekira pukul 22.00 WIB, awalnya terlihat saksi Marhan Hasibuan (30-an) yang merupakan anak Pangadilan, memanggil tersangka Buan yang merupakan adik kandung korban, ke rumah ayahnya Pangadilan atas perintah Pangadilan. Jarak antara rumah korban dan Buan sekitar 25 meter.

Pemanggilan tersangka Buan oleh Pangadilan, untuk membicarakan masalah harta warisan mereka. Di dalam rumah, korban sudah duduk di atas hambal di ruang tengah rumah semi permanen. Sedangkan tersangka duduk di sebelah kiri korban. Sementara Marhan pergi keluar rumah.

Sekitar 15 menit, keduanya terlibat cekcok membahas soal harta warisan. Korban tidak terima karena dicurigai tersangka telah memakan uang hasil penjualan tanah harta warisan. Pangadilan pun memukul wajah Buang dengan memakai tangan.

Mendapat pukulan dari abangnya, tersangka Buan langsung berdiri dan diikuti oleh Pangadilan. Kemudian tersangka memukul korban balik dan mendorongnya hingga terjungkal mengenai meja yang ada di dekat pintu dapur. Pangadilan pun langsung mengambil pisau dapurnya yang ada di atas meja dan hendak menusukkannya ke sebelah kiri bahu tersangka. Namun, tusukan korban ditangkis tersangka dengan tangan kirinya hingga tangannya terluka kena sabetan pisau.

Seterusnya tersangka mengambil pisau (jenis pisau dapur panjang sekitar 25 centimeter) yang ada di saku depannya, dan langsung menusukkannya ke dada sebelah kanan Pangadilan sebanyak dua kali, hingga akhirnya korban tersungkur ke depan. Kemudian tersangka kembali menusukkan lagi pisaunya ke bagian pundak Pangadilan sebanyak dua kali.

Baca Juga :  UN di Tabagsel aman dan lancar

Setelah ditusuk tersangka, dengan sekuat tenaga dan berlumuran darah, korban keluar dari pintu depan rumahnya untuk menyelamatkan diri. Namun sekitar dua meter dari pintu rumah, korban lalu roboh dan tersungkur. Tersangka langsung melarikan diri ke rumah saudara perempuannya di Desa Arse Bulu Sonik, Kecamatan Barumun. Namun, tersangka berhasil ditangkap petugas kepolisian keesokan harinya, Selasa (30/3) pagi skeira pukul 08.00 WIB.

Dalam reka ulang yang digelar di rumah korban, terlihat tersangka dengan tenang dalam mengikuti rekonstruksi tersebut. Reka ulang berjalan sukses tanpa ada hambatan. Bahkan masyarakat desa tersebut antusias menyaksikan rekonstruksi yang langsung dipimpin Kapolsek Barumun AKP Herwansyah Putra SH bersama Kanitreskrim Iptu Kusnadi dan personel Polsek, serta Kacabjari Sibuhuan Kifli Ramadhan Harahap SH.

Pengacara tersangka Syafaruddin Hasibuan SH yang hadir dalam reka ulang tersebut menyebutkan, ada delik yang meringankan tersangka termasuk dalam KUHP yang digunakan, karena dilihat bersama dalam reka ulang, tidak ada terjadi pembunuhan berencana namun penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya orang. Sehingga yang digunakan pasal 351 KUHP ayat 3, bukan 338-340 pembunuhan berencana.

“Kita lihat saja nanti dalam proses persidangan bagaimana fakta-faktanya, karena kita melihat sesuai dengan reka ulang,” sebut Syafaruddin.

Kapolres Tapsel AKBP Subandriya SH MH melalui Kapolsek Barumun AKP Herwansyah Putra SH mengatakan, tersangka dikenakan pasal 338 KUH Pidana tentang kejahatan terhadap jiwa orang lain junto 354 ayat (2) tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Informasi yang dihimpun METRO, peristiwa pembunuhan yang menggegerkan warga tersebut berawal dari adanya perselisihan antara korban dengan tersangka terkait penjualan harta warisan berupa sawah yang dijual mereka seharga Rp10 juta.

Di mana dari hasil penjualan tersebut, mereka mufakat untuk membangun lahan kebun yang juga milik orang tua mereka seluas 4 hektare. Kemudian juga disepakati, korban memegang uang hasil penjualan sawah, sedangkan tersangka bertugas mencatat segala pengeluaran dalam proses pembangunan lahan tersebut.

Baca Juga :  Makanan Kadaluarsa Banyak Beredar di Madina

Di sinilah muncul kecurigaan antara korban dengan tersangka termasuk tersangka menilai korban ingkar. Dari keterangan saudara dari pihak istri tersangka, Ongku Lubis (45), warga Desa Tanjung Baringin, Kecamatan Barumun, tersangka merasa korban ingkar, karena menurut keterangan tersangka, korban enggan berbicara dan menemuinya.

“Karena merasa tak enak dengan tindakan korban, tersangka menyampaikannya kepada anak korban. Kemudian anak korban menyampaikanya kepada ayahnya yang kemudian memanggil tersangka agar datang ke rumahnya,” ujar Ongku Lubis.

“Di sinilah awal mulai kejadiannya. Korban langsung menampar tersangka dengan mengatakan agar tersangka jangan mencurigainya menghabiskan uang hasil penjualan sawah itu. Akibat tamparan itu, tersangka emosi, kemudian keduanya berkelahi. Korban mengambil pisau dan langsung menikam tersangka. Namun karena mengelak, pisau hanya melukai tangan tersangka. Setelah itu tersangka menikam tubuh korban berulang kali dengan pisau yang terselip di pinggangnya. Usai melakukan penikaman, tersangka keluar dari rumah, kemudian dikejar korban. Namun di depan pintu rumah, korban tersungkur dan tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan,” pungkas Ongku. (amr)

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Adik_Habisi_Abang_Kandung

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*