Di PALAS Harga Sawit dan Karet Beranjak Naik

Di PALAS Harga Sawit dan Karet Beranjak Naik

PALAS-METRO; Harga hasil komoditas pertanian jenis sawit dan karet di Kabupaten Padang Lawas (Palas) beranjak naik sejak tahun baru hingga saat ini. Penyebabnya saat ini hasil panen petani lagi musim trek alias berkurang. Untuk harga sawit dari Rp1.000 menjadi Rp1.150 per kilogram, sedangkan untuk getah karet dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram di tingkat petani, bahkan Rp12 ribu di pabrik.

Demikian dikatakan salah satu toke dan pengusaha sawit di wilayah Gading Kecamatan Barumun Tengah (Barteng), Kabupaten Palas, Tongku Hasibuan (45). Menurutnya, naiknya harga sawit karena faktor musim trek, yaitu terjadi penyusutan hasil sawit. Misalnya jika biasanya para petani sawit dalam satu hektare mampu menghasilkan 1 ton setiap kali panen (mendodos, red), namun saat ini terjadi penyusutan dan hasilnya tidak sampai seperti biasanya.

“Itu sudah menjadi hukum alam di usaha bisnis sawit, semakin sedikit hasil sawit maka harga secara otomatis akan mengalami kenaikan. Namun ada juga faktor ekonomi Indonesia sudah mulai ke arah yang normal atau membaik,” ujar Tongku di sela-sela melakukan penimbangan sawit dari para pengumpul tingkat desa.

Hal senada juga disampaikan toke getah karet di Gading, Irpan Harahap (30). Harga komoditas karet mulai membaik di tingkat harga pasaran pengumpul semenjak 6 bulan terakhir. “Harga karet sudah mulai pada titik normal, di mana harga karet pernah mencapai Rp12 ribu per kilogram di pabrik dan Rp10 ribu per kilogram di tingkat harga petani,” ujarnya.

Baca Juga :  Mati, traffic light di persimpangan ibukota Paluta

Pantauan METRO, akibat kenaikan harga sawit tersebut warga nampak sangat serius dan antusias memanen hasil sawitnya, terutama mengumpulkan brondolan sawit (sawit yang pecah sehingga satu persatu buahnya berserakan dari tandan, red) karena warga merasa sayang, kalau tidak dikumpulkan dan dijual ke toke, karena tingginya harga sawit.

“Kalau dulu ketika harga sawit turun (6 bulan lalu Rp500 per kilogram, red), kami biarkan aja brondolan berserakan, karena kita capek mengumpulkan, apalagi harganya pun rendah. Tapi, kalau sekarang kita merasa sayang kalau dibiarkan berserakan tidak diambil, karena kita jual ke toke, kan lumayan. Kalau satu goni saja sudah berapa uangnya,” sebut Yustina (45) warga Galanggang ketika mengumpulkan brondolan sawit di kebunnya. (amr)

Sumber: www.metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*