Di Paluta, Minyak Tanah Rp10 Ribu per Liter

Sejak sepekan terakhir, para ibu rumah tangga di Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, mengeluh karena langkanya minyak tanah (mitan). Selain sulit didapat, harga mitan juga bisa mencapai Rp10.000 per liter. Padahal, biasanya mitan dijual Rp4.500 sampai Rp5.000 per liter.

Informasi dihimpun METRO dari beberapa ibu rumah tangga mengaku, ada beberapa warung yang menjual minyak tanah dengan harga sangat mahal yakni antara Rp8 ribu-Rp10 ribu per liter. Tingginya harga tersebut, sangat menyulitkan warga untuk membelinya jika dibandingkan penghasilan yang diperoleh.

“Untuk memeroleh minyak tanah sangat sulit, kadang kami membeli dengan harga yang mahal hingga mencapai Rp10.000 per liter. Sementara minyak yang diperoleh dari pangkalan sudah terjadwal dan terkadang hanya sebagian warga saja yang kebagian. Sedangkan warga lainnya dengan terpaksa harus mencari pengecer di desa lain, itupun dengan harga yang cukup tinggi,” kata Masniati boru Siregar, Jumat (4/2).

Akibat langkanya minyak tanah ini, sambung Masniati, dirinya terpaksa beralih ke kayu bakar, dan ini sangat menyulitkan. Sebab, mereka harus mencari kayu bakar ke kebun.

Hal senada diungkapkan Nurmala boru Harahap. Ia mengaku sudah lelah berkeliling mencari minyak tanah, tapi selalu kehabisan. Karena ketiadaaan minyak tanah, ibu dari tiga anak ini terpaksa beralih ke kayu bakar untuk memasak kebutuhan sehari-harinya.

Baca Juga :  "Pac-man" Pilih Kamp Latihan Terburuk

Untuk itu kedua ibu rumah tangga ini berharap kepada pihak terkait agar menertibkan pangkalan minyak tanah yang mencari keuntungan di atas harga normal serta diminta untuk memikirkan kelangkaan mitan serta mengawasi jalannya pendistribusian minyak tanah di wilayah Paluta.

Salah seorang pengecer minyak tanah yang enggan disebutkan namanya menuturkan, dirinya membeli minyak tanah di pangkalan dengan kisaran harga Rp4.500-Rp5.500 per liter.

Untuk mendapatkanya di pangkalan, sambungnya, dirinya harus mengetahui jadwal kedatangan agen ke pangkalan dan memberikan panjar agar jatah tidak dijual kembali.

“Pikirkan lah Dek, kalau kita terlambat mengambil jatah di pangkalan. Jatah itu dijual mereka, paling tidak kita harus beri panjar sama pangkalan, agar jatah kita tidak dijual,” sebutnya. (thg) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*