Di SDN 107 Panyabungan, Kursi & Meja Tak Layak Pakai

Mobiler di SDN 107 di Desa Sopo Batu, Panyabungan, Madina sangat memperihatinkan dan tak layak pakai. Masyarakat yang melihatnya mungkin tak menyangka, masih ada sekolah yang fasilitas belajarnya seperti meja, kursi, papan tulis dan lainnya seperti barang rongsokan.

Jarak SDN 107 yang sebelumnya bernomor 146947 hanya sekitar 6 kilometer dari pusat kota kabupaten yakni Panyabungan, tapi kondisinya gedung sekolah ini juga sangat memperihatinkan. Sebanyak 118 siswanya terpaksa belajar di atas meja dan bangku yang telah berulang kali rusak dan kemudian diperbaiki lagi secara manual atau seadanya.

Kepala SDN 107 Panyabungan Yusron kepada METRO mengatakan, selama lima tahun bertugas di SDN 107, dia telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan pengadaan mobiler ke pihak Dinas Pendidikan (Disdik), namun belum pernah ditanggapi. Akibatnya, selama lima tahun itu pula siswa tetap belajar di bangku dan meja rongsokan.

“Kondisi juga telah terjadi selama puluhan tahun sebelum saya di sini. Walaupun sudah sering saya mengajukan permohonan bantuan ke Disdik melalui unit pelayanan unit pelaksana teknis (UPT) Panyabungan, tapi belum terealisasi. Saya tak tahu apa penyebabnya, padahal Disdik selalu bilang ke kami akan segera terealisasi dalam waktu dekat,” sebutnya.

Saat ini, tambah Yusron,  siswa yang berjumlah 118 orang terganggu mengikuti proses belajar mengajar. Pasalnya, sekolah yang hanya memiliki tiga ruangan belajar ini dan terpaksa dalam 1 ruangan dibagi menjadi dua kelas, ditambah fasilitas meja, kursi dan papan tulis yang rusak termakan rayap seperti barang rongsokan.

”Kami sangat berharap pemerintah mengalokasikan anggaran untuk penambahan gedung serta memberikan mobiler baru, agar siswa dapat belajar dengan nyaman dan tersedia ruang gurupun. Selama ini mobiler yang rusak diperbaiki secara manual dengan bahan-bahan yang tak bisa dipakai lagi,” tambahnya

Kepala Disdik Madina melalui Kabid Sarana, Asmara Hadi SPd saat dikonfrimasi METRO mengatakan, pihaknya telah mengetahui kondisi sekolah tersebut. Katanya, bukan hanya sekolah itu saja, tetapi masih ada sejumlah sekolah yang lain yang sama-sama membutuhkan mobiler. Dia menjelaskan anggaran untuk bantuan ke SDN 107 direncanakan ditampung di APBD tahun 2012.

Baca Juga :  Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB) Sumut; Masyarakat Palas Jangan Terprovokasi

”Karena dananya akan ditampung di APBD 2012, sekitar April tahun depan bisa direalisasikan. Bukan hanya di sekolah itu saja, namun di sekolah lain juga membutuhkan mobiler yang sama,” katanya. (wan/mer)

Guru Jarang Masuk
Selain fasilitas mobilernya yang rongsokan di SDN 107,  sejumlah guru di sekolah tersebut jarang masuk mengajar. Akibatnya siswa memeroleh ilmu tidak maksimal dan sering kosong jam pelajaran.

Pantauan METRO, Senin (10/10) sekitar pukul 11.15 WIB, siswa kelas 2 dan kelas 4 masih berada di luar ruang belajar dan terlihat masih bermain di sekitar halaman sekolah yang dekat dengan kebun masyarakat. Saat ditanyai, mereka mengaku guru kelasnya tak masuk mengajar.

Salah seorang siswa mengaku, mereka sering tak belajar karena gurunya tak masuk kerja. Meski demikian, mereka tetap memilih bertahan di sekolah hingga jam belajar selesai karena masih ada guru yang lain.

“Gurunya nggak datang bang, paling nanti digantikan guru yang lain,” sebut siswa tersebut polos sambil meneruskan permainannya.

Mereka juga mengatakan sangat sulit belajar dengan kondisi mobiler yang ada. Karena satu ruangan digabungkan dengan kelas yang berbeda, akibatnya belajar terganggu oleh murid yang lain. ”Karena ruangan digabung menjadi dua kelas, ruangan pasti ribut dan kami tak bisa belajar,” tambahnya.

Kepala SDN 107 Panyabungan, Yusron membenarkan ada sejumlah guru yang jarang masuk mengajar dan tak diketahui apa alasannya. Katanya, dari 8 jumlah guru ditambah kepala sekolah, yang aktif hadir hanya empat guru saja.
Yusron memang menyayangkan ulah sejumlah guru itu dan telah berulang kali meneasehatinya, namun kenyataannya tetap juga absen.

”Saya sudah sering menasehati mereka, tetapi tetap juga mereka absen. Ada dua guru yang jarang sekali masuk mengajar tanpa alasan yang jelas. Saya tak tahu bagaimana lagi bertindak apalagi untuk mengatasinya, karena ketidakhadiran mereka sangat mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah ini,” katanya.

Adapun kedua guru itu adalah Marakayu Siregar guru PNS yang bertempat tinggal di Simatorkis Tapsel yang menjadi guru di SDN 107 Panyabungan beberapa tahun terakhir. Kemudian guru yang bernama Muda, juga jarang masuk tanpa alasan yang jelas.

Baca Juga :  PUD Usulkan Dana Pengaspalan Jalan Sihoringkoring

Guru lainnya, Bahrum saat ini kondisinya lagi menjalani penyebuhan usai operasi jantung. Guru Yusnida absen karena mengalami kecelakaan lalu lintas, Kamaruddin Ahmad yang sedang kuliah. “Yang aktif hadir hanyalah tenaga honorernya. Akibatnya banyak siswa yang ketinggalan pelajaran” ujarnya.

Keluhan ini juga disampaikan salah seorang orangtua murid, Sudirman. Dia mengatakan, orangtua siswa sudah sering mengeluh sikap sejumlah guru yang jarang masuk mengajar, karena anak-anak merekalah yang menjadi korban dengan ketinggalan pelajaran.

”Kami berharap agar pemerintah bisa mengatasi hal ini, karena anak-anak kami juga menjadi malas ke sekolah, dengan berdalih gurunya tak datang. Kalau hal ini terus terjadi anak-anak kami tak akan bisa pintar,” ungkapnya. Sementara Kadisdik Madina, Imron Lubis SPd yang dikonfirmasi lewat Kabid Pendidikan Dasar, Jamilah SH tidak berhasik dihubungi. Ketika dihubungi melalui telepon selulernya, tak aktif.

Kondisi ini mendapat teguran keras dari Komisi 1 DPRD Madina yang membidangi pendidikan. Sekretaris Komisi 1, Iskandar Hasibuan menyesalkan ulah sejumlah oknum guru yang tak bertanggung jawab atas tugasnya itu. “Guru seharusnya memahami tugas pokok dan fungsinya untuk mengajar dan mendidik anak menjadi prilaku yang baik, dan apabila seorang guru tak bertanggung jawab seperti itu, harusnya Bupati harus menindaknya dengan tegas dan kalau memungkinkan jabatannya dicopot saja,” katanya. (wan/mer)

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*