DI UJUNG NGOLU NI NATUA-TUA

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Deni Siahaan, seorang penyiar (RRI Sibolga) yang menyair dan mencipta lagu ini, tampaknya benar-benar berusaha menyadarkan orang (muda) Batak terhadap kewajibannya kepada orang tua yang bukan cuma dapat ditunjukkan saat upacara besar mengiringi pemakaman. Sabar, dan tunjukkan kewajiban memuliakan saat penghujung hayat adalah sesuatu yang oleh lagu yang tercipta oleh pengalaman pribadi ini dianggap sesuatu yang amat patut dikeluhkan. Benarkah demikian susahnya hidup bagi orang Batak ujur?

4362398538 3a58fb746f DI UJUNG NGOLU NI NATUA TUA
Orang Tua (flickrs)

****************************
Bagi Edi Hanafi, seorang pengacara kondang di Medan, mengoleksi salah satu di antara album-album yang memuat lagu Batak “Uju Di Ngolunghon Ma Nian” (Andai dipenghujung Hayatku) belumlah cukup. Secara bergantian ia kerap menikmati 2 penampilan penyanyi yang berbeda sembari pergi atau pulang dari pekerjaan, di dalam mobilnya yang dilengkapi video dengan sound system stereo yang bagus. Itu pun tidak cukup baginya. Jika berkunjung ke pesta berkeyboard ala Medan, ia akan selalu berusaha tampil mendendangkan lagu kesukaannya ini. Anehnya, sama sekali ia tak faham bahasa Batak. “Enak didengar dan didendangkan, entah apalah artinya”, kata pria bersuku-bangsa Banten ini dengan ringan.

Lagu ini bercerita tentang derita seorang tua yang ujur di Masyarakat Batak. Mari kita kutip syairnya:

Hamu anakhonhu// Tampuk ni pusu-pusukhi// Pasabar ma amang, pasabar ma boru// Laho pature-ture ahu//Nungga matua ahu// Jala sitogu-toguon i//Sulangan mangan ahu//Siparidion ahu//Ala ni parsahitonhi//So marlapatan marende, margondang, marembas hamu molo dung mate ahu//So marlapatan na uli na denggan patupaonmu molo dung mate ahu//Uju dingolunghon ma nian//Tupa ma bahen angka na denggan//Asa tarida sasude//Holong ni rohami marnatua-tua i//

Kebiasaan Buruk?
Salah satu jenis rites of passage (ritus peralihan) terpenting bagi orang Batak ialah kematian, berhenti hidup. Seseorang yang meninggal, apalagi dalam keadaan sudah sepuh, wajib diupacarai dengan mengerahkan segala kemampuan ekonomi. Ini sekaligus dapat menjadi ukuran kebesaran dalam arti seluas-luasnya. Upacara kematian bisa berlangsung berhari-hari dan tentu saja membutuhkan biaya besar. Syair lagu di atas dapat diterjemahkan secara bebas demikian:

Wahai anak-anakku. Buah hatiku tersayang. Perbanyaklah sabar. Dalam mengurus akhir hayatku. Aku sudah renta dan sakit-sakitan. Sudah harus dituntun, dimandikan dan disuapi (makan). Tak akan bermanfaat lagi (bagiku) kalian berdendang, bergendang dan menari, saat aku sudah meninggal. Tak akan bermanfaat lagi (bagiku) segala kepatutan dan kebajikan yang kalian persembahkan, saat aku sudah meninggal. Andai di akhir hayatku kalian persembahkan segala kebajikan, untuk menunjukkan kasih sayang terhadap orang tua.

Baca Juga :  Bahasa Inggris Jokowi Dipuji

Pentingnya sahala orang tua kepada anak tidak dapat diabaikan oleh orang Batak. Bahkan setelah orang tua meninggal, upaya untuk memuliakan dengan mendirikan tambak (makam) dengan bermacam corak lazim dianggap kewajiban. Orang Batak memang memiliki total investasi yang tidak sedikit untuk hal semacam itu. Belum lagi jika seseorang sepuh meninggal di perantauan, kewajiban pertama biasanya ialah bagaimana membawa mayatnya pulang kampung. Tak jarang pula upacara mangongkal holi (menggali kembali tulang-belulang yang sudah dikubur sekian lama, untuk dikebumikan kembali dengan upacara besar), dianggap menjadi kewajiban bagi keluarga. Tentu saja ini tak terkait dengan agama yang dianut.

Tetapi lagu ini bercerita tentang sebuah paradox yang jarang sekali diperhatikan. Saat dalam penderitaan yang ujur, dan dalam keadaan amat tergantung kepada orang lain, orang tua kerap tak mendapat pelayanan semestinya dari putera dan puterinya. Memang belum ada sebuah survey yang memberi penjelasan seberapa besar kecenderungan seperti ini terjadi pada seluruh keluarga Batak. Lagu ini memang bukan sebuah hasil survey.

Tetapi, tampaknya sebuah pengalaman pahit yang amat menoreh sebuah kepedihan batih yang berkelanjutanlah yang dicoba dikoreksi oleh lagu Uju Dingolunghon Ma Nian. Putri Silitonga beruntung menjadi pelantun pertama lagu yang akhirnya sangat populer ini. Lagu ciptaan Deni Siahaan populer sejak direkam pada tahun 2006. Sebelumnya, tahun 2002, saat putri masih duduk di bangku kelas II SMA, popularitasnya hanya terbatas di sekitar wilayah kota Sibolga dan Tapanuli Tengah.

Kepada media Deni Siahaan pernah membeberkan kisah pahit yang pernah dialami oleh diri dan keluarganya demikian:

Kaki dan tangan ayah saya patah, sehingga harus dirawat total. Dalam proses perawatan inilah muncul kejenuhan kepada anak-anaknya. Maklum saja, sang ayah harus diantar ke kamar mandi, dimandikan, dan harus disuapi makan karena kondisi tersebut.

Setiap kali kami mengeluh dan merasa jenuh merawat ayah, ibu selalu menasehati kami agar berbuat yang terbaik kepada orangtua, karena tidak ada lagi gunanya berbuat baik jika orangtua sudah meninggal. Jadi saat hiduplah berbuat yang terbaik kepada orangtua. Itulah selalu nasehat ibu kepada kami anak-anaknya. Dan nasehat itulah yang selalu terngiang di benak saya sehingga dengan sendirinya tercipta syair lagu ini.

Baca Juga :  Bupati Ajak Warga Jaga Ekosistem Sungai

Digandrungi dan Komersil
Dengan penonjolan saxofone dalam instrumennya, lagu ini telah dinyanyikan oleh penyanyi nasional papan atas. Sebutlah penyanyi serba bisa Victor Hutabarat. Grup Trio Santana, Mangaloksa Trio, Trio Century, dan Andy Trio. Belum lagi penyanyi-penyanyi atau group lain yang belum populer. Penyanyi solo non Batak Edo Kondologit pun tercatat telah merekam keindahan suaranya untuk lagu bernada kritik yang amat menyentuh ini.

Jangan-jangan ia pun sama seperti Edi Hanafi orang Banten yang amat menyukai lagu ini (tak faham makna).

So marlapatan na uli na denggan patupaonmu molo dung mate ahu.Uju dingolunghon ma nian.Tupa ma bahen angka na denggan. Asa tarida sasude. Holong ni rohami marnatua-tua i. [Tak akan bermanfaat lagi (bagiku) segala kepatutan dan kebajikan yang kalian persembahkan, saat aku sudah meninggal. Andai di akhir hayatku kalian persembahkan segala kebajikan, untuk menunjukkan kasih sayang terhadap orang tua.


*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul DI UJUNG NGOLU NI NATUA TUAn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*