Dihadang Warga, Eksekusi Tanah di Kampung Teleng Ditunda

Eksekusi perkara tanah nomor 06/Pdt.G/2004/PN-PSP di Jalan Prof AM Yamin No 45 Kampung Teleng, Kelurahan Wek III, Kecamatan Padangsidimpuan (Psp) Utara, Psp seluas 1.533 meter bujur sangkar oleh Pengadilan Negeri (PN) Psp dihadang sekitar 50-an warga, Kamis (17/6). Eksekusi akhirnya ditunda dengan waktu tidak diketahui

Rencana aksi eksekusi tanah ini sempat tegang karena warga yang di antaranya kaum ibu dan keluarga dari Hj Rosmawar Dalimunthe selaku tergugat dalam perkara tanah ini, menentang aksi eksekusi tanah tersebut oleh PN Psp sesuai surat tanggal 17 Pebruari 2010 Nomor W2.U5/264/HT.04.10/II/2010, dengan memblokade jalan dan berunjuk rasa dengan pengawalan dari personel Polresta Psp.

Aksi menolak eksekusi tanah ini sendiri akhirnya ditunda oleh pihak PN Psp dengan waktu yang tidak diketahui. Ini sebagaimana dikatakan perwakilan dari PN Psp, yakni Sekretaris PN Psp Jawatin SH kepada warga yang memblokade jalan selama sekitar dua jam, hingga membuat arus lalu-lintas macet.

Sementara kasus ini sendiri menurut Hj Rosmawar Dalimunthe bermula dari gugatan yang diajukan oleh Prof Dr Marwali Harahap selaku penggugat ke PTUN tanggal 17 Januari 2005 lalu dengan nomor 60/G/2004/PTUN-MDN, ditolak pihak PTUN dan telah berkekuatan hukum tetap yang dimenangkan oleh tergugat yakni Hj Rosmawar Dalimunthe.

Selanjutnya selama beberapa tahun sengketa ini terus berlanjut hingga Hj Rosmawar Dalimunthe mencari keadilan hukum ke Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia, terkait sengketa tanah yang dialaminya. Yakni dengan menyurati institusi tertinggi hukum tersebut tanggal 8 Juni 2009 tentang permohonan petunjuk dan penundaan eksekusi perkara tanah No 06/Pdt.G/2004/PN-PSP, dan sedang proses peninjauan kembali di atas sengketa tanah miliknya yang dinyatakan sah dengan kepemilikan sertifikat No 294 dan dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Psp tanggal 29 Januari 2003. “PN Psp tidak melihat semuanya secara jelas. Apakah kami masyarakat miskin ini tidak bisa mendapatkan kedilan?” teriaknya bersama dengan anaknya Mahmud Harahap dan warga lainnya di hadapan petugas PN Psp yang akan melakukan eksekusi.

Baca Juga :  Madrid Ingin Rekrut Lagi Van Nistelrooy

Dijelaskan Rosmawar, sambil memperlihatkan bukti-bukti otentik surat-surat dan lainnya, sengketa tanah itu terjadi setelah Prof Dr Marwali Harahap, warga Jalan Juanda No 55, Medan dan Syahrun Harahap SH, pensiunan jaksa warga Jalan Singgalang No 9 Medan mengklaim tanah atas nama Hj Rosmawar merupakan tanah mereka. Selanjutnya melakukan gugatan perdata maupun pidana terhadap Hj Rosmawar tahun 2005 lalu.

Rosmawar berharap agar penegak hukum mampu menegakkan kebenaran dan keadilan kepadanya atas kasus sengketa tanah itu. Di mana dirinya dengan kelengkapan surat atas tanahnya menang di PTUN Medan dan sudah berkekuatan hokum, namun setelah tergugat memasukkan gugatan ke PN Psp, dirinya sebagai tergugat kalah di PN Psp.

Anehnya menurut Hj Rosmawar, sekalipun tim kuasa hukumnya telah menerangkan secara detail dengan bukti dan fakta yang nyata, PN Psp kembali mengeluarkan surat eksekusi perkara No.W2.U5/670/HT.04.10/VI/2010, tanggal 11 Juni 2010 ditandatangani langsung Ketua PN Psp, Musthofa SH.

Hj Rosmawar mengaku heran dan tanda tanya dengan sikap PN Psp yang terkesan ngotot untuk mengeksekusi tanah tersebut. Padahal terbukti bahwa orangtuanyalah pemilik tanah tersebut. Jika PN Psp tetap menjalankan eksekusi, dirinya dan keluarga besar serta kerabat familinya akan terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan apa yang menjadi hak keluarganya seperti yang mereka lakukan, Kamis (17/6), dengan menghadang dan menolak eksekusi yang dilakukan PN Psp.

Baca Juga :  Isu Mutasi Besar-besaran Merebak di P. Sidimpuan

Sumber: http://metrosiantar.com/sidimpuan_raya_/Dihadang_Warga_Eksekusi_Tanah_di_Teleng_Ditunda

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*