Dijatah Rp 3.500 Per Hari, Pengungsi Makan Tanpa Lauk

Pemerintah Kabupaten Magelang menjatah Rp 3.500 untuk uang makan tiap pengungsi per hari. Dengan uang sebesar itu, pengungsi kerap mendapat jatah makan tanpa lauk tiap hari.

Asisten III Sekretariat Daerah Magelang Endra Wacana mengatakan selain mendapat uang makan sebesar itu, pemerintah juga menjatah uang minum sebesar Rp 1.000 dan beras sebesar 0,4 kilogram bagi tiap pengungsi per hari.

“Jadi satu pengungsi, total uang Rp 4.500 dan beras itu,” kata lelaki yang menjabat urusan logistik dalam tanggap bencana di Magelang itu, Sabtu (30/10).

Jatah logistik itu, kata dia, berlaku untuk semua pengungsi. Tak ada jatah khusus lain di luar untuk memenuhi kebutuhan itu, semisal untuk membeli susu bagi anak-anak dan bayi. “Bayi dan anak-anak tidak ada kekhususan,” kata dia.

Dia mengatakan kebutuhan beras pengungsi telah dijamin Bulog. Saat ini tim tanggap darurat bencana Magelang telah memiliki persediaan sebesar 30 ton beras. Dengan jumlah beras sebanyak itu, dia memperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan pengungsi hingga tiga hari mendatang.

Sabar (65), pengungsi asal Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, mengatakan mendapat jatah makan tiga kali sehari. Namun, selain kerap tak mendapat bagian makan, nasi yang dihidangkan di lokasi pengungsian sering tanpa lauk. “Yang pasti sayur kacang, kalau pun ada tempe cuma segini,” kata dia sembari memberi contoh ukuran tempe dengan satu ruas jarinya.

Baca Juga :  Kisah Pilu Penyiksaan Bayi 14 Bulan di 'Day Care'

Lelaki yang kini menghuni lokasi pengungsian di gedung SMPN 1 Salam di Desa Gulon, Kecamatan Srumbung, itu mengatakan panitia membagi beberapa pengungsi dalam beberapa kelompok makan. Pengelompokan itu dilakukan untuk memudahkan pembagian jatah makan pengungsi.

Posko Penanggulangan Bencana Merapi mencatat saat ini terdapat 33.522 orang pengungsi di Kabupaten Magelang. Mereka berasal dari desa-desa di lereng Merapi yang berada di Kecamatan Srumbung dan Dukun. “Ada 19 desa rawan bencana Merapi di Magelang,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Eko Triyono. (tempo)

Para pengungsi itu kini menempati 47 tempat pengungsian yang tersebar di enam kecamatan, yakni Muntilan (12 tempat), Srumbung (7 tempat), Sawangan (10 tempat), Salam (5 tempat), Mungkid (3 tempat) dan Dukun (10 tempat).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*