Diperiksa 10 Jam, Hartono Dicecar Soal Peran Yusril

Pemeriksaan Hartono Tanoesoedibjo akhirnya selesai. Selama
10 jam Komisaris Utama PT Sarana Rekatama Dinamika tersebut diperiksa tim penyidik Kejaksaan Agung. Hartono diperiksa soal keterlibatan eks Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra dalam kasus  dalam kasus korupsi Sistem Administrasi Badan Hukum.
Masih mengenakan setelan jas warna gelap, Hartono keluar dari ruang pemeriksaan Senin 20 September 2010 sekitar pukul 19.00. Ia keluar tanpa pengawalan ketat. Namun, kakak dari Harry anoesoedibjo itu tak mau memberikan keterangan sedikit pun kepada artawan yang sudah menunggu sejak pagi.

Pengacara Hartono, Andi F Simangunsong, menyatakan bahwa Hartono dicecar 27 pertanyaan oleh Jaksa soal peran  Yusril Ihza ahendra dalam kasus dugaan korupsi Sistem Administrasi Badan Hukum. ndi menyatakan tidak ada yang baru dalam pemeriksaan kali ini. “Fakta ang ada dalam kasus ini kan hanya itu-itu saja, seperti yang sudah erungkap di dalam persidangan (Yohanes Waworuntu),” ujarnya.

Andi bersikeras bahwa kliennya tidak bersalah dalam kasus yang diduga erugikan negara sebesar Rp 378 miliar ini. “Seharusnya Hartono tidak ijadikan tersangka dalam kasus ini,” ujarnya. Ia mengatakan, erjanjian kerjasama antara PT SRD dengan Kemenkumham bersifat legal an tidak bermasalah. “Kalau kita lihat kontrak kerjasamanya itu egal,” ujarnya.

Mengenai pembagian biaya akses sebesar  90 persen untuk SRD dan 10 ersen untuk Kemenkumham, ia mengatakan sebagai hal yang wajar. asalnya, saat itu PT SRD yang membiayai pembuatan Sisminbakum. Selain tu, ia menambahkan, angka itu wajar lantaran resiko yang diambil SRD ukup besar. “Saat itu tidak ada jaminan dari pemerintah kalau
sisminbakum akan booming seperti sekarang. Kalau anda perlihatkan itu epada swasta mana pun, mereka pasti akan bilang wajar,” ujarnya.

Baca Juga :  Bau Korupsi, KPK Harus Veto Pembangunan Gedung Baru DPR

Selain itu, ia mengatakan bahwa kliennya tidak tahu menahu siapa yang enggagas persentasi pembagian itu.”Pak Hartono tidak tahu siapa yang engeluarkan angka itu,” ujarnya.

Padahal, Hartono ikut menandatangani perjanjian kerjasama antara Koperasi Menkumham dengan PT SRD. Yohanes Waworuntu, tersangka lainnya, pernah mengatakan bahwa angka itu iusulkan oleh Hartono.

Andi juga membantah bahwa kliennya memiliki saham di PT SRD. Ia enyatakan, saham SRD tercatat dimiliki oleh PT Bhakti Aset Manajemen elaku kuasa dari para nasabah. Ia menyatakan, Hartono juga tidak emiliki dana di PT BAM. Sementara PT BAM dimiliki oleh PT Bhakti apital Indonesia. Sementara keterkaitan PT Bhakti Investama, erusahaan milik Harry Tanoesoedibjo dengan BCI Andi mengatakan tidak ahu menahu. “Bhakti Capital itu milik publik, itu perusahaan erbuka,” ujarnya.

Padahal dalam situs Bhakti Investama terlihat jelas bahwa Bhakti Capital Indonesia adalah anak perusahaan Bhakti Investama. Dalam  bagian strategi investasi perusahaan itu tercantum nama Global ediacom yang bergerak di bidang televisi dan BCI yang bergerak di
bisnis sekuritas. Sementara PT BAM tercantum sebagai anak perusahaan Bhakti Capital Indonesia.

Sebelumnya, Hartono Tanoesoedibjo diperiksa oleh Kejaksaan Agung. Hartono diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Yusril Ihza Mahendra. Kasus Sisminbakum sendiri bermula Kejaksaan s ketika PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD) ditunjuk menjadi pembuat dan pengelola Sisminbakum di kementerian Kehakiman dan HAM. Proyek  yang dikerjakan
oleh PT SRD bekerja sama dengan Koperasi Pengayoman Departemen Kehakiman itu berlangsung mulai  2001-2008.

Baca Juga :  CENTURYGATE SBY Manipulasi Sistem Politik, Putusan MK Sia-sia

Belakangan, proyek itu  bermasalah dan kejaksaan pun melakukan enyidikan. Hasilnya diketahui terdapat kerugian negara senilai Rp 378 iliar.

Sumber : Tempo

<!– FLASH REL

FLASH_INCLUDED

FLASH REL //–>

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*