Disinyalir Korban “Markus” ; Suami Istri Cari Keadilan Hukum di PN Padangsidimpuan

P.Sidimpuan, Suami istri, Arifin Pulungan alias Ucok Pulungan dan Erlina Sari Sinaga (36) warga Jalan Cemara, Gang Semen, Kelurahan Kantin Kecamatan Padangsidimpuan Utara, memohon perlindungan hukum atas kasus yang dialami mereka.

Ucok Pulungan menjelaskan, Senin (17/5), kasus ini berawal ditetapkanya putusan hakim PN Padangsidimpuan Mustafa SH dkk, Nomor 628/Pid.B/2009/PN. PSP, tanggal 19 Januari 2010 terhadap terdakwa Erlina Sari Sinaga, bersalah melakukan tindakan penipuan barang perhiasan emas sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut pasal 378 KUHP, dan dijatuhkan hukuman 10 bulan hukuman penjara.

Meskipun ia menerima putusan hakim tersebut, tetapi Erlina Sari Sinaga tetap membantah telah melakukan penipuan. Karena sejak awal mereka sudah berniat dan berupaya hendak berdamai dengan bersedia mencicil dan melunasi hutang piutang mereka. Tetapi hal ini ditolak saksi korban Abdul Wahab Chaniago, dan tetap ngotot agar kebun milik warisan keluarga pihak mertuanya yang terletak di Kecamatan Siais sebagai pengganti pembayaran hutang, sehingga kasus ini berlanjut sampai ke meja pengadilan.

Sedihnya, setelah Erlina Sari Sinaga menjalani masa penahanan kurungan penjara selama 10 bulan (kini tersisa 1 bulan lagi-red), pihak Abdul Wahab Chaniago mengajukan kasus ini lagi dalam bentuk perdata, dan saat ini sedang menjalani persidangan marathon di PN Padangsidimpuan, dengan nomor perkara : 39/Pdt.G/2009/PN-PSP.

Kebun Warisan

Dalam penjelasannya kepada wartawan, Ucok Pulungan suami Erlina Sari Sinaga mengatakan, sejak awal pihaknya telah menduga ada itikad tidak baik dari penggugat Abdul Wahab Chaniago, yaitu ingin menguasai kebun sawit seluas 7 Hektar milik warisan keluarga mereka dengan cara cara yang bertentangan menurut hukum.

Baca Juga :  Minim Pasokan , Beras Mahal Di Psp & Madina

Ucok Pulungan pada duplik tergugat-tergugat mengatakan, tidak benar tergugat Erlina Sari Sinaga memiliki niat untuk menguasai emas serta uang dari penggugat. Karena Arifin Pulungan tidak pernah menerima emas beserta uang dimaksud dari Abdul Wahab Chaniago.

Ucok Pulungan merasa dirinya telah dipaksalan terlibat dalam persoalan ini, terutama saat Abdul Wahab Chaniago dan sejumlah bodyguardnya datang ke kebun memaksa ia dan istrinya agar mau menandatangani surat perjanjian yang telah di konsep sendiri oleh Abdul Wahab. “Jadi mana mungkin kami memiliki niat untuk menguasai emas serta uang milik penggugat”, kata Ucok Pulungan.

Dijelaskan Ucok lagi, lahirnya perjanjian tersebut tidak sah atau tidak layak dilakukan, karena tidak sesuai dengan hati nurani tergugat II dan lahirnya surat perjanjian tersebut tidak normal sehingga tidak memenuhi syarat-syarat perjanjian.

Di samping itu kerugian material dan immaterial yang dimaksud para penggugat tidak jelas, hal ini dapat terlihat tidak dirincikannya secara jelas penggugat yang mana yang mengalami kerugian.

Sehingga dengan demikian, jelaslah yang melakukan perbuatan hukum tidak ada kaitannya dengan tergugat II dan terguat III, hal ini diakui para penggugat serta Pengadilan Negeri yang diputuskan perkara pidana No Reg 628/Pid.B/2009/PN. PSP, “Sehingga kami menyatakan menolak gugatan pengugat Abdul Wahab Chaniago, dan menghukum penggugat untuk membayar biaya yang timbul” kata Ucok Pulungan.

Baca Juga :  Jalinsum via Kotanopan lancar kembali

Sementara itu, majelis hakim PN Padangsidimpuan yang menangani gugatan perdata ini nomor perkara : 39/Pdt.G/2009/PN-PSP, Erwin,SH ketika diminta wartawan atas kasus ini belum bisa memberikan penjelasan. (ben)

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55376:disinyalir-korban-qmarkusq–suami-istri-cari-keadilan-hukum-di-pn-padangsidimpuan&catid=51:umum&Itemid=31

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*