Ditunggangi Gerombolan Mafia Kayu : Kades Pargarutan Jae dan Palsabolas Tabur Surat Tanah Palsu

graphic3 Ditunggangi Gerombolan Mafia Kayu : Kades Pargarutan Jae dan Palsabolas Tabur Surat Tanah Palsu
Hamparan hutan Pinus di Tor Simincak, “Menggelapkan mata mafia, kades
dan pemilik dadakan”.

Angkola Timur, Modus baru gerombolan mafia kayu dengan biaya murah meriah menguasai tanah untuk penebangan kayu jenis Pinus di Kecamatan Angkola Kabupaten Tapsel dengan taktik menyerobot tanah hakmilik warga Palsabolas dan Pargarutan Tonga, didukung Kades Pargarutan Jae dan Kades Palsabolas membuat surat keterangan tanah palsu memperalat nama-nama petani Dusun Sampean dan Gunungtua.

Pada mulanya gerombolan mafia kayu Pinus yang belakangan ini merajalela di wilayah Tor Simincak sejak tahun 2012 sebenarnya sudah tercium aparat penegak hukum. Sudah beberapa kasus terjadi diusut tim Polres Tapsel dan Polda Sumut, namun proses hukum penyidikan mengambang karena isuenya para gerombolan mafia Pinus “memuntah” puluhan juta duit pengamanan.

graphic1b Ditunggangi Gerombolan Mafia Kayu : Kades Pargarutan Jae dan Palsabolas Tabur Surat Tanah Palsu
Kades Palsabolas, Muhamad Sarip Harahap

Pada tahun 2013 gerombolan mafia Pinus yang terpantau mulai dari komplotan AH sering ngaku pers kacangan kemarin sore asal Padangsidimpuan (Psp) sore bersama konconya TP aktifis lsm pengkhianat lingkungan asal Sibolga, sudah 2 tahun bersaing dengan gerombolan oknum aparat SS asal Angkola Timur bersama anteknya mantan pemain Pinus yang sudah pailit GS dari Psp dan PS pion wayangnya dari Sipirok, kini menghadapi pendatang baru FRP alias CP mantan kontraktor bangkrut dari Sipirok dengan cukongnya TRS asal keluarga kaya dari Tobasa.

Walau bersaing tak sehat saling menjatuhkan satu sama lainnya, ketiga gerombolan mafia Pinus ini kompak pakai cara yang sama untuk mengingkari dan menyerobot sejumlah pemilik tanah sah yang berhak atas beberapa bidang tanah di Tor Simincak.

Setelah sejumlah saksi yang tahu persis hak kepemilikan tanah di Tor Simincak oleh warga Palsabolas dan Pargarutan Tonga, seperti mantan Kades Pargarutan Jae si Imom Sapii Harahap dkk konon disogok jutaan rupiah untuk mengelak dan membungkam, ketiga gerombolan mafia Pinus tsb bersekongkol dengan Kades Pargarutan Jae, Juliansah Harahap dan Kades Palsabolas, Muhamad Sarip Harahap.

Persekongkolan gerombolan mafia Pinus dengan para Kades di Kec. Angkola Timur lalu sepakat untuk bersubahat merekayasa surat keterangan tanah dadakan yang dibuat terburu-buru pada akhir tahun 2012, serta serta mencari dan menyuruh sejumlah warga Dusun Sampean dan Gunungtua untuk mengaku punya tanah di Tor Simincak.

graphic2b Ditunggangi Gerombolan Mafia Kayu : Kades Pargarutan Jae dan Palsabolas Tabur Surat Tanah Palsu
Kades Pargarutan Jae, Juliansah Harahap.

Terpantau pers, para petani yang disuruh ngaku punya tanah di Tor Simincak, antara lain Muhamad Soleh Siregar, Syukur Harahap¸ Irwansah Siagian, Roman P, Rustam Harahap, Zaenal Husni, Rantobangun. Ketiga gerombolan Pinus dpp AH, SS dan CP bersama Kades Pargarutan Jae dan Kades Palsabolas lantas secerpat kilat menyiapkan berkas surat-surat keterangan tanah lengkap skema kasar lokasi tanah dengan batas-batas fiktif, disodorkan untuk diteken para petani Sampean dan Gunungtua. Konon permainan kasus ini juga dilengkapi sodoran sedekah recehan untuk para petani yang mendadak seolah punya tanah garapan di Tor Simincak.

Baca Juga :  Naskah UN terlambat datang di Madina

Para mafia Pinus pun bergerak cepat berusaha menutupi kasus persekongkolan merekayasa surat tanah dadakan dengan pemilik karbitan akhiur 2012. Komplotan AH dan TP buru-buru buat Akta Tanah ke Notaris Rosminar Rangkuti di Aek Tampang dilengkapi Surat Keterangan Status Lahan dari Dinas Kehutanan Tapsel. Gerombolan SS dan GS juga tergesa bikin Akta Tanah ke Notaris Hendrik Sinaga di PadangMatinggi.

Awalnya semua proses kasus berlangsung mulus, namun belakangan mulai terungkap ketahuan ketika beberapa pemilik tanah di Tor Simincak yang sudah sejak beberapa tahun lalu menguasai tanah lengkap surat, curiga melihat tanah mereka diukur-ukur dan dipatok gerombolan mafia Pinus. Kecurigaan makin mencuat sewaktu salah seorang pemilik tanah yang sudah menguasai lahan dan punya surat sah bertahun lalu, mempertanyakan ke Imom Sapii Harahap mantan Kades yang dulu membuat surat tanahnya. Si mantan kades tsb selalu sembunyi mengelak tak mau dijumpai sa`at mau ditanya pertanggungjawabannya terhadap surat tanah masyarakat yang ditekennya, sementara ketahuan si mantan kades Imom Sapii sudah sempat ikut teken berkas kesaksian tanah dikuasai gerombolan SS dan GS.

Konyolnya, para komplotan yang tergabung dalam gerombolan mafia Pinus tsb ternyata punya banyak catatan masalah hukum. SS dan GS sewaktu main kayu Pinus di Simirik, pernah lari malam tinggalkan buruh karyawannya masuk penjara ditangkap polisi. SS dan GS pernah berperkara melawan AH dan TP di Satreskrim Polres Tapsel, dan ujungnya berdamai berakibat “muntah” duit puluhan juta. Sementara SS dan GS rebutan tanah dengan CP dan TRS, hingga kini belum tuntas.

Kasus makin terbuka ketika kuasa pemilik tanah lama mengusut ke Kantor Dinas Kehutanan Tapsel, ketahuan komplotan AH dan TP dan gerombolan SS serta GS sudah mengajukan permohonan Persetujuan Penebangan Kayu Rakyat, dengan didasari alas hak tanah rekayasa dadakan karbitan yang diduga keras melanggar hukum menyerobot tanah milik pihak lain.

 

Tumpang-tindih

Hasil penyelidikan Index, Kades Palsabolas, M Sarip Harahap dan Kades Pargarutan Jae, Juliansah Harahap sejak tahun 2011 sudah berulang kali terbitkan surat tanah tumpang-tindih di Tor Simincak. Mulanya Kades Pargarutan Jae buat surat akui tanah 35 Ha di Tor Simincak milik warisan keluarganya yang diserahkan ke pengusaha Samadiun Silaban dari Medan. Beberapa bulan kemudian, Kades Palsabolas buat surat tanah baru yang tumpang-tindih di lokasi sama bahwa sebagian tanah tsb milik warga Palsabolas.

Di akhir tahun 2012, Kades Pargarutan Jae buat surat tanah baru di lokasi sama bahwa tanah tsb milik warga Dusun Gunungtua. Sebaliknya di akhir tahun 2012 juga, Kades Palsabolas kembali buat surat tanah di lokasi yang sama juga, bahwa tanah tsb milik warga Dusun Sampean. Sehingga terjadi pembuatan surat tanah tumpang-tindih berulang kali di lokasi sama tapi pemiliknya terus berobah-obah.

Baca Juga :  Dana Pembangunan Jalan dan Jembatan Rp. 14 M

Menyikapi kasus surat tanah terbitan baru berulang kali di lokasi sama sementara pemilik lama yang sudah menguasai bertahun-tahun dengan surat sah mau digelapkan, kuasa pemilik tanah lama akhirnya menyampaikan sikap. “Jika Dinas Kehutanan Tapsel tidak mau bersikap jelas dan tidak bertindask tegas menyatakan mana surat dan pemilik yang sah, kasus akan diadukan ke Bupati agar Kabag Pertanahan mengusut tuntas kasus. Dan setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian silang tokh gerombolan mafia Pinus dan barisan anteknya para Kades di Angkola Timur masih degil ngotot bertahan, kasus akan diadukan ke Polres Tapsel dengan truduhan penyerobotan tanah bertopeng surat palsu, dengan membawa data bukti fakta sejarah bahwa sejak zaman dulu tanah di wilayah Tor Simincak adalah tanah garapan warga Pargarutan Tonga dan Palsabolas”, ketus kuasa pemilik tanah lama.

Mengutip keterangan beberapa tetua hatobangon di Pargarutan Tonga dan Palsabolas, “ Inda adong tano ni halak Sampean di Simincak. Oppung hami do na jolo mangalehen tano parsaba tu Sampean. 30 puluh tahun na lalu topat na tahun 1980 hatobangon Gunungtua Pargarutan madung manyorahkon 250 Ha tano ni halai tu Pamarentah adong lengkap Berita Acara Pago-pago na. Di dia muse sonnari adong tano ni halak Gunungtua dohot Sampean di Tor Simincak, gabus do sude. Harani hepeng mafia Pinus, golap ma mata ni halai”, tegas para hatobangon tsb.

Sayangnya, Kades Pargarutan Jae, Juliansah Harahap dan Kades Palsabolas, M Sarip Harahap membungkam sejuta bahasa, sms konfirmasi pers berulanmg kali sama sekali tak dijawab. (AR-Morniff)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Susahnya mencari pemimpin yang berjiwa mempertahankan budaya dan lingkungan yang original dan tidak tergiur semata-mata untuk uang menjadi dampak apa yang terjadi bertahun-tahun dalam pengrusakan, penebangan liar dan penghancuran hutan bahkan dengan dalih-dalih aturan dan organisasi untuk mencapai tujuan kemakmuran, surat izin penebangan hutan itu mudah didapat bahkan diusahakan dikeluarkan dengan berbagai cara untuk mendapatkan izin penebangan hutan.

    Masyarakat punya tanggung jawab menjaga lingkungan dan hutan guna menghindari bencana yang bisa mematikan masyarakat yang ada disekitarnya. Ingat…. yang menerima dampak dari rusaknya hutan adalah Masyarakat disekitarnya, sedangkan Pemerintah, Pemodal menerima dampaknya jika masyarakat tidak kuasa menahan dampak dari bencana tersebut. Bahkan bencana tersebut bisa menjadi peluang bagi sebagian Pemilik modal untuk mencari keuntungan ditengah penderitaan masyarakat dari bencana alam. Kalau hal2 seperti pemimpin di atas terjadi, secepatnya rakyat/masyarakat perlu mengganti Pemimpin/kepala desa tanpa harus menunggu2 waktu proses ini dan proses itu dari pemerintahan..

    Pemerintah yang seharusnya adalah bisa bahagian HANSIP bagi masyarakat maka jika harapan PEMERINTAH SEBAGAI HANSIP tidak bisa melakukan tugasnya, maka Masyarakat Wajib turun tangan bahkan mencegah Hansip tersebut atau mengendalikan Hansip-hansip yang bertebaran dimana-mana untuk mencari keuntungan-keuntungan pribadi walaupun kadang sering berdalih untuk kepentingan nasional dengan simbol korpri di baju seragam Hansip…

    wujudkan masyarakat yang cinta akan peduli lingkungan Hutan melalui sarana-sarana wisata hutan di Tapanuli Selatan…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*