Djalatong dan Sejarah Mandailing Polit

Oleh: Marwan Dalimunthe *)

6455183925785a2276b526e5496f73d9c74d13d Djalatong dan Sejarah Mandailing Polit
Marwan Dalimunthe

Terkenallah sebuah kisah seorang anak yang bisuk ratusan tahun yang lalu, mendiami wilayah mandailing, anak yang patuh ber-orang tua, anak yang rajin beragama dan mempunyai kepekaan sosial terhadap kehidupan keluarganya. Anak ini dikenal dengan panggilan gelar “Djalatong”.

Djalatong banyak yang membenarkan bahwa anak ini keturunan bermarga “Lubis” yang kehidupan orang tuanya sebagai “Marpadati”. Keluarga Djalatong amat sangat dihormati dikampungnya oleh karena kesantunan dan hormat ber-orang tua, djalatong ini juga disamping sebagai anak yang santun dan hormat mempunyai kelebihan terhadap seni mandailing yang disebut dengan “Onang – Onang” (rumpun batak diluar tapsel menyebut “Si-Togol). Onang – onang salah satu seni musik, bernyanyi “halak mandailing” yang mana dalam nyanyianya mengungkapkan kepiluan hatinya dan perasaan yang dialami saat itu. Onang-onang ini sangat menyentuh hati, dan perasaan bahkan tidak jarang orang yang mendengar nyanyian ini meneteskan air mata, akan kegundahaan dan penderitaan seseorang terhadap nyanyian tersebut, nyayian ini dulu akan lebih merdu dan indah apabila musiknya dipadu dengan seruling atau uyup-uyup (alat musik tiup terbuat dari pohon padi).

Kepintaran dan kepandaian Djalatong dalam seni onang onang, sangat disenangi oleh orang orang tua dahulu kala, dan setiap djalatong mengembala kerbaunya disawah djalatong tidak luput dari seruling bambunya menemani kerbau makan ruput disawah maupun ladang yang banyak ditumbuhi rumput rumput. Djalatong yang pada saat itu masih berumur belasan tahun sangat akrab dan rajin membantu orang tuanya “Marpadati” keberbagai tempat yang bahkan berhari hari lamanya didalam perjalanan.

Padati adalah jenis transportasi darat pada jaman dahulu kala yang mana digerakkan oleh se-ekor kerbau sebagai lokomotip. Padati layaknya transportasi adalah salah satu moda yang penting bagi setiap orang untuk pendistribusiaan dagangannya keberbagai wilayah dimandailing bahkan menembus batas keberbagai wilayah lain disumatera. Kerbau yang bagus dan sehat dapat mengarungi derasnya sungai, kubangan lumpur dan bahkan terjalnya bukit.

Keluarga djalatong dikenal sebagai pelaku transportasi pedati yang budiman, dan bersahabat terhadap setiap orang yang membutuhkan jasa transportasinya keberbagai tempat sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh orang lain baik pedagangan, petani dan orang yang mau merantau. Sebagaimana biasanya apabila orang yang memesan pedatinya untuk tujuan jauh dan dalam jarak tempuh berhari hari, Ayah Djalatong selalui mempersiapkan bekal diperjalan berupa Beras, garam, dan Ikan asin disamping peralatan memasak yang selalui bersamanya didalam padati tersebut.

Indahnya alam mandailing yang terbetang dibagian selatan sumatera utara, bagi keluarga djalatong tidak sulit mendapatkan sayur sayuran dan daun daun yang dapat dimakan sebagai lauk pauk makannya didalam perjalanan. Apabila kejernihan sungai sungai yang mengelilingi mandailing dapat diminum langsung tanpa proses dimasak terlebih dahulu. Tuntutan hidup dan keterbatas kehidupan ratusan tahun yang lalu Djalatong yang masih berusia anak – anak, amat sering diajak oleh orang tuanya mengikuti perjalan jauh menemani orang tuanya diperjalan disamping sebagai teman diperjalan. Djalatong juga sebagai penghibur hati melintasi indahnya alam alam mandailing yang masih sangat alami. Seolah olah alam ikut sedih dan menangis akan kepiluan nyanyian “onang onang” Djalatong yang menyentuh dan kadang menyayat hati.

Baca Juga :  ORANG TOBA - Dengan Tarombo Sianjur Mula-Mula

“ Oale….ooonang onang. I son ami nadua namaronang on, nada dong da imbar non dohot orbo bara na godang on….. Arian borgin namanjalai hangoluaan on “

Begitulah kira kira nyanyian “onang oang “ Djalatong menemani perjalanan kerbaunya (padati) apabila menemani ayahnya diperjalanan, melintasi tebing tenbing terjal dan mengarungi sungai sungai deras silih berganti, hingga ketujuan.

Suatu ketika terjadi kisah yang sangat dikenal sejarah halak mandailing dengan sebutan “Mandailing Polit”. Pada suatu saat sejarah ini ratusan tahun yang lalu pada waktu itu Berawal dari Ayah Djalatong mendapatkan pesanan mengantar barang dangangan pedagang kepesisir pantai barat diwilayah mandailing selatan yang konon katanya daerah tersebut sekarang dikenal dengan wilayah “Natal”. Perjalanan menempuh tujuan ini dengan menggunakan pedati ditemuh sekitar 1 minggu lamanya diperjalan, sebagaimana biasanya Ayah djalatong didalam perjalanya selalu selalu mempersiapkan bekal dijalan berupa beras dan ikan asin 1 ekor kecil, sebagai lauk pauknya dijalan. Sulitnya kehidupan dan keterbatasan mendapatkan ikan asin sebagai “Pangaronca” (Lauk) pada masa itu ikan asin tersebut hanya dicelupkan kedalam sayuran yang dimasak (Bulung gadung masakan khas mandailing-angkola tapsel). Setelah sayur tersebut masak ikan asin tersebut kembali diambil dari masakan lalu dikeringkan kembali, untuk dipake kembali pada saat memasak sayur makanan dihari kemudian.

Sebagian pendapat membenarkan bahwa kisah tersebut benar adanya, akan tetapi dalam mencelupkan ikan asin tersebut sebagai pangaronca (lauk) dengan menggunakan seutas tali dari pelepah daun dengan mengikat ekor ikan asin tersebut lalu mencelupkan dan mengangkat berulangkali sampai masakan tersebut siap disantap. Adapula yang berpendapat disamping kejadiaan tersebut ada satu kisah yang mengelitik hati dan mengumbar kenangan tak terlupakan dikala pada saat diperjalanan menuju pantai barat selatan wilayah mandailing. Djalatong dan ayahnya sewaktu memasak “Bulung gadung” ada se-ekor katak melompat ketempat masakannya tanpa diketahui oleh keduanya:

Djalatong : Ligi ma ayah bulung gadung hita on…!
Ayah : Aha dei amang..?
Djalatong : Aso adong ayah nagodangan pangaronca naon…?
Ayah : Sambil melihat masakanya “ Bo baya naolongan dope roa ni Tuhan tu hita itamba IA pangaroncata on.

Terlepas kebenaran kisah tersebut, djalatong menunjukkan bahwa mempunyai peranan akan sejarah tersebut yang sekarang disalah artikan artian sebenarnya akan “Mandailing Polit” bahwa “Mandailing Polit” sebenarnya adalah ungkapan terhadap si Djalatong, hemat, yang taat ibadah, tekun, rajin, pandai bergaul, menyanyangi dan hormat kepada orang tuanya. Disamping itu djalatong juga adalah salah satu si-togol yang dimaksud saudara saudara kita dari wilayah bagian utara, sumatera utara.

Baca Juga :  KETA KU SIPIROK (bag-1): LUKISAN SEORANG SENIMAN

Pesisir pantai barat tujuan “Padati” djalatong dahulu kala dikenal sebagai pusat perdagangan dan persinggahan kapal kapal negara asing diwilayang selatan mandailing sumatera utara. Pelabuhan Natal termasuk pelabuhan tertua pada jaman itu. Kebesaran Tuhan YME, pada saat djalatong yang masih kecil bermain main diatas kapal dan tertidur akan kelelahan diatas kapal, akhirnya terbawa oleh kapal kapal asing ke eropa. Ada yang membenarkan bahwa djalatong ini mendiami wilayah eropa dari keturunan Mandailing pertama sekali.

Sepeninggal Djalatong, ayahnya sebagai tukang padati dengan hati yang lunglai, menyanyat hati dan sedih atas kehilanggan putranya kembali kemandailing dengan air mata yang tak kunjung habis. Rindu, sayang dan rasa kehilangan bertahun tahun lamanya tidak bisa hilang dari ingatan keluarganya tersebut sampai akhirnya tutup usia dalam kesedihan atas kehilangan anak. Ayah Djalatong dikenal orang sebagai seorang tokoh mandailing dan dimakamkan dengan layak dan dihormati seantero mandailing – angkola.

Dalam satu kisah lain Djalatong yang dulu terbawa kapal asing ke-eropa, pada saat dewasanya dan menjadi orang tua beranak pinak dieropa, kembali kemandailing mencari keluarganya yang dulu terpisah, setelah pertemuan dengan keluarganya di-mandailing ada yang membenarkan djalatong pulang kembali ke-eropa melalui pelabuhan laut di tapanuli tengah (sibolga) dan menjadi orang yang sukses dikawasan eropa tanpa lupa atas kegemarannya “maronang – onang”.

“ Onang onang… nada tinggal hami tumandailing on, godang niroa dohot pinomparnami on, halak sahuta marpor niroa on”

Dan disisi lain para tokoh ada juga yang berpendapat, dan ada juga yang membenarkan sekembalinya djalatong dari eropa, dan mendapatkan orang tuanya sudah lama meninggal dunia akhirnya djalatong menetap tinggal dimandailing untuk berbakti kepada orang tuanya dan berserah diri kepada Tuhan YME sampai pada saatnya ajal menjumpainya ditanah kelahiranya Mandailing yang tercinta. Wallahu A’lam

Semoga sejarah dari kisah Djalatong ini menjadi dukungan moral bagi kita bahwa mandailing itu jauh dari “Gut-gut, dan “Polit” dalam kehidupan yang benar dan hakiki”. Semoga

Kisah ini dihimpun dari berbagai tokoh, sesepuh warga mandailing- angkola dijakarta.

6455183925785a2276b526e5496f73d9c74d13d Djalatong dan Sejarah Mandailing Polit*)Penulis Adalah seorang pemerhati pada adat-adat Angkola mandailing, Bekerja dan Berdomisili di Jakarta, Frofil facebook.com/uwandm

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

7 Komentar

  1. mandailing polit dari kata manipol(manifestasi politik jaman orde lama) yang diplesetkan. tapi ada benarnya juga. kalo ada kisah kisah lain disharekan juga, untuk nambah pengetahuan. mkasih…..

  2. sangat bgus untuk mnambah wwasan sejarah sosial….. tp sejarah tntang ungkapan “mandailing polit” blom ada trlihat dan makna ungkapan tersebut…. mkasih…. salam sejarah

  3. Orang Mandailing masih tergolong suku yang paling sukses diantara suku lain dan lebih dapat diterima dalam pergaulan masyarakat di nusantara. Jadi kalau orang Mandailing pelit pasti kenyataannya akan lain. Cerita Jalatong bkn merupakan penafsiran org pelit, tetapi adanya ajakan ” MANGAN MAJOLO HITA SO MARDAHAN” atau ” INDA LANGA MANGAN BE ?” seolah2 mengajak tetapi harus ditolak.

  4. Tdk ada alasan yg membenarkan orang Mandailing pelit, bahkan org Mandailing paling royal diantara suku2 lain, coba kita lihat menu2 makanannya baik saat pesta maupun dirumah makan, bangunan2nya selalu tdk mau kalah, mobil2 transportasinya kalau yang jelek2 tidk akan laku.Emasnya aja AMEH 2,5 gram emasnya orang lainnya.Pakaiannya pestanya itu aslinya emas lho … suku lain ada yg gak pake baju.Kalau pesta mesti 2 kali sekali di rumah perempuan baru di rumah laki2.Istilah pelit itukan ditafsirkan dari cara org Mandailing kalu ngajak pake basa basi.

  5. terima kasih penjelasan anda. tapi yang pasti kalo ada yg bilang orang mandailing pelit ada benarnya. itu kenyataan. mungkin karena dekat dengan orang padang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*