DL Sitorus Makin Tersudut Soal Asal Uang Suap

Posisi DL Sitorus sebagai terdakwa perkara suap kian tersudut. Pasalnya, pada persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Senin (9/8), saksi-saksi yang dihadirkan menguatkan bahwa uang Rp300 juta untuk menyuap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PT TUN) Jakarta memang berasal dari DL Sitorus.

Saksi pertama yang dihadirkan adalah Asti Kusmiati, staf administrasi pada kantor notaris Yoko Vera Mokoagow. Di hadapan persidangan yang dipimpin hakim ketua, Jupriyadi itu, Ati mengaku pernah diperintahkan notaris Yoko Vera untuk menyerahkan cek BNI senilai Rp300 juta ke pengacara DL Sitorus, Adner Sirait.

Namun ternyata, Adner Sirait meminta agar uang dalam bentuk cash. Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Agus Salim sempat bertanya ke Ati apakah benar Adner pernah menghubunginya melalui telpon dan mengatakan, “Hari gini kok kasih orang cek.” Ati pun membenarkan pembicaraan soal itu.

Akhirnya, cek memang dicairkan. “Saya cairkan ke BNI. Uangnya pecahan 50 ribuan dan 100 ribuan,” ungkap Ati.

Setelah cek dicairkan, Ati menemui Adner Sirait untuk menyerahkan uangnya. Penyerahan dilakukan di samping kantor Wali Kota Jakarta Timur. Namun perempuan yang mengaku bekerja pada Yoko Vera sejak 2001 itu mengaku tidak tahu maksud pemberian itu. Ati hanya mengatakan, dirinya pernah melakukan hal serupa ketika disuruh bosnya menyerahkan uang Rp300 juta ke Adner sebagai fee pengacara.

“Setahu saya uang itu untuk fee lawyer, Bu Yoko juga bilang begitu. Saya pernah membayarkan fee lawyer ke Pak Adner Rp300 juta untuk kasus di PN Bekasi,” ujar Ati. untuk menjawab pertanyaan JPU tentang maksud pemberian uang itu.

Baca Juga :  Komisi VIII DPR - 11 Anggota DPR ke AS dan Hanya 5 ke Wasior

Meski tidak tahu maksud pemberian uang itu, namun Ati membenarkan jika uang hasil pencairan cek di BNI memang dibungkus dengan kertas coklat di dalam kantong plastik hitam.

Sedangkan Yoko Vera yang juga dihadirkan sebagai saksi mengaku bahwa pada 29 Maret 2010 pagi, dirinya dihubungi DL Sitorus. Pada pembicaraan per telepon, pemilik PT Sabar Ganda itu menanyakan ke Yoko Vera apakah ada berkas yang harus ditandatangani. Yoko Vera pun mengatakan ada berkas yang perlu tanda tangan DL Sitorus.

Karenanya, DL Sitorus meminta Yoko Vera datang ke Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. “Kami bertemu di lobi. Setelah menandatangani berkas, Pak DL titip cek untuk fee lawyer Pak Adner Sirait,” kata Yoko Vera.

Hanya saja Yoko Vera tidak tahu jika cek dari DL Sitorus itu akan digunakan untuk menyuap hakim PT TUN DKI, Ibrahim. Yoko Vera memang mengakui bahwa dirinya tahu soal sengketa kepemilikan lahan di Cengkareng Jakarta Barat antara PT Sabar Ganda dengan Pemda DKI yang sedang ditangani PT TUN DKI.

Namun ditegaskannya, dirinya tidak mengenal Hakim Ibrahim. “Saya tidak kenal dengan Pak Ibrahim. Setahu saya, cek Rp300 juta itu untuk fee lawyer,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, DL Sitorus bersama dengan pengacaranya, Adner Sirait, didakwa telah menyuap hakim pada PT TUN DKI Jakarta, Ibrahim. Menurut JPU KPK, pemberian uang itu terkait dengan perkara banding bernomor register 36/B.2010/PT.TUN/JKT, guna menguatkan putusan tingkat pertama di PTUN DKI Jakarta yang amar putusannya memenangkan gugatan DL Sitorus dalam sengketa kepemilikan lahan di Cengkareng, Jakarta Barat, melawan Pemda DKI.

Baca Juga :  Kapolri: Jenderal Daftar Calon Pemimpin KPK Tak Wakili Polri

JPU menegaskan, uang suap itu dimaksudkan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepada Ibrahim untuk diadili.

Sumber: http://metrosiantar.com/METRO_TANJUNG_BALAI/DL_Sitorus_Makin_Tersudut_Soal_Asal_Uang_Suap

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*