Dok, Kapan Anak Saya Dioperasi?

12 November 2009 – www.harian-global.com

Hati orangtua manakah yang tidak miris ketika melihat kondisi tubuh buah hatinya hanya terbaring lemas tidak berdaya di atas tempat tidur. Sebagai orangtua pastinya segala upaya akan dilakukan hanya untuk  bisa kembali melihat anaknya sehat kemudian  bercanda dan bermain dengan teman-teman sebayanya.

Tidak demikian halnya apa yang kini dihadapi  pasangan  suami istri Awaluddin Sitompul dan  Rusiana br Siregar asal Desa Batu  Nusa,Padangsidimpuan. Salah seorang buah hati mereka, Deliana (13) akrab dipanggil Ana terbaring di salah satu ruang rawat inap kelas 3  ruang 9 Rumah Sakit  Umum (RSU) Dr Pirngadi Medan. Dokter mendiagnosa Ana, ginjal sebelah kirinya terkena tumor. Sebagai ibu yang mengandung Ana selama  9 bulan, jelas hatinya sedih, namun ia  tidak berdaya ingin menolak semua kenyataan tersebut.Tumor itu telah membuat perut gadis kecil berkulit hitam manis membesar, seperti hamil 7 bulan, sementara berat badannya semakin menyusut, dengan berat 39 Kg. Khususnya pada bagian tangan dan kaki semakin kurus.  Bahkan senyum Deliana yang terbaring di rumah sakit milik Pemko Medan tersebut sejak sepekan lalu, hilang karena menahan rasa sakitnya. Bukan saja senyumnya yang sirna karena sakit, bahkan  anak ke 6 dari 9 bersaudara ini kini tidak mampu lagi berdiri untuk sekadar buang air kecil dan air besar. Suara rintihan menahan rasa sakit kepada ibunya, membuat perempuan berambut ikal tersebut kian merasakan kesedihan mendalam.

Dengan segenap tenaga dan pikirannya diberikan untuk melayani Ana di rumah sakit tersebut. Ia mengelap tempat tidur dan tubuh anak dengan penuh rasa keibuan, ketika Ana tengah buang air besar. Wajahnya sesekali jelas mengisyaratkan, ia juga tengah  berdoa meminta ada keajaiban untuk kesembuhan Ana.”Saya memang selalu memohon kepada Tuhan agar anak saya bisa dibawa pulang sudah dalam keadaan sehat,” katanya sembari mengangkat pundak Ana dan mengelap bagian belakang yang terkena kotorannya.
Sebelum Ana terbaring terkena penyakit ini, masih segar dalam memori ingatan di kepala perempuan berusia 45 tahun ini, ketika Ana  kelas IV SD dalam keadaan sehat, ia termasuk anak yang lincah dan disenangi teman-teman seusianya,  bermain dan berlari-lari. “Ia juga termasuk anak yang bisa menghibur hati orangtua, karena itu  tidak pernah terbayang kalau anak saya sakit seperti ini,” kata Rus sambil membelai lembut rambut hitam anaknya yang pendek.

Baca Juga :  Kapolres Madina Sosialisi Program Keamanan

Sebelumya perempuan yang menggunakan daster ini, mengatakan, kelas 4 SD  Ana memang sering mengeluh di bagian perutnya sakit, namun ia dan keluarga berpikir itu hanya penyakit perut biasa, seperti anak-anak lain. Namun puncaknya, ketika Ana bermain sambil berlari-lari dengan temannya ia terjatuh tepat di jalan yang ada “polisi tidur” (seperti bukit kecil di jalan yang dibuat untuk mencegah laju kencang kendaraan).

Setelah terjatuh, Ana menangis dan mengadu karena merasa sakit. Keluarga sopir angkutan umum  Sidimpuan tersebut, lalu sempat membawa ke tukang urut. Namun tidak juga sembuh malah semakin parah, lalu mereka mencoba ke bidan, hasilnya sama saja, kondisi badannya semakin parah. “Ia sempat pingsan karena menahan sakitnya,”kata Rus.

Perlahan-lahan perut gadis berbulu mata lentik ini makin membesar dan makin membesar,  sehingga keluarga membawa ke Rumah Sakit Dr Pirngadi Medan, sempat sebulan rawat jalan, karena tidak memiliki uang. Lalu dokter pada  tanggal 2 November kamarin meminta datang dan  diinapkan  di ruangan tersebut.

“Untungnya ada kartu Jamkesmas sehingga biaya untuk berobat dapat tertolong, kan gratis, jika tidak ada kartu tersebut saya tidak tahu lagi bagaimana,”katanya Kini yang membuat hati perempuan yang bekerja sebagai rumah tangga ini berdebar-debar, karena  Ana yang sudah dirawat lebih dari sepekan tidak kunjung jua dioperasi.”Iya dokter belum juga mengoperasi anak saya,”kata Rus singkat.
Dalam sehari padahal katanya, ada lebih tiga dokter yang memeriksa Ana.”Dokter anak, dokter ahli bedah, terus satu lagi lupa dokter apa itu,”katanya mencoba mengingat. Dalam keterangan dokter kepadanya, Ana belum bisa dioperasi pengangkatan ginjal sebelah kiri karena harus menunggu perut mengempis sedikit. “Yah kalau sudah demikian dikatakan dokter saya  hanya percaya saja, karena saya sendiri tidak ngerti. Pak dan buk dokter itulah yang lebih tahu bagaiamana baik buruknya kondisi anak saya, hanya saja minta saya janganlah terlambat penanganannya,”katanya mengiba.

Baca Juga :  Selama 2009, Kejari P.Sidimpuan Tangani 388 Perkara

Sejauh ini upaya untuk membuat perut gadis yang kerap mengerang menahan sakit tersebut mengempis, dokter memberikan kepadanya obat-obat tablet dan juga seperti infus berwarna kuning, cairan itu yang disalurkan melalui selang ke tangannya.
Meskipun demikan, Rus akan selalu  masih gelisah, jika anaknya belum dioperasi  “Yah sebagai ibu tentu saya tidak bisa tenang  sebelum para dokter tersebut mengoperasi anak saya,”ujarnya sambil menyulangkan gorengan ke mulut anaknya dengan sabar.
Selain itu menunggu perut Anak mengempes, kendala lain, kata dokter, karena melihat ada beberapa kelainan selain ginjal, namun sayangya dokter yang bersangkutan tidak memberitahukan apa kelainan yang dimaksud. “Saya menyerahkan anak saya kepada dokter, karena merekalah yang lebih mengetahui kondisi anak saya, hanya minta saya, janganlah sampai terlambat pertolongan itu kepadanya,” katanya pasrah.

PostLink: https://apakabarsidimpuan.com/2009/11/dok-kapan-anak-saya-dioperasi/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*