Dongeng Tokek & Komodo

Oleh: Djoko Suud Sukahar – detikNews *)

Jakarta – Komodo diikutkan kontes tujuh keajaiban dunia. Padahal satwa ini sudah sangat lama dikenal kepurbaannya di dunia. Ditambah organisasi New7Wonders yang masih perlu dipertanyakan kredibilitasnya, maka rasanya terlalu rendah biawak purba yang dimistiskan sebagai Naga Api itu dimintakan pengakuan lagi. Adakah ini cermin pengelola pariwisata kita belum mengenal kekuatan pariwisata negeri sendiri?

Sudah beberapa tahun lalu pendaftaran komodo ini simpang-sengkarut. Berawal dari biaya besar yang diminta penyelenggara, ancaman untuk tidak menyertakan satwa ini dalam kontes, hingga menjadi seruan massal untuk mengirimkan SMS dukungan.

Proses itu membuat kita ragu. Ragu dengan penyelenggaranya, juga ragu dengan manfaat pengakuan kalau komodo masuk sebagai salahsatu dari tujuh keajaiban dunia. Sebab pengakuan itu tidak serta-merta mengangkat pariwisata di Nusa Tenggara Timur buming. Toh masih banyak persoalan wisata yang perlu dibenahi.

Pariwisata adalah keunikan, keamanan, dan sarana, selain pengenalan. Dari sisi keunikan, komodo, Pulau Komodo dan sekitarnya, alam serta laut wilayah yang diapit Pulau Flores dan Sumbawa itu sangat memadai. Tak salah jika dalam peta wisata dunia, Indonesia dikenal dengan segitiga Bali-Toraja-Komodo-nya.

Tiga kawasan ini sangat kuat menyerap minat wisman untuk datang. Ketiganya ditahbiskan sebagai sosok wisata budaya dengan mayoritas pengunjung berasal dari Eropa, Amerika, dan belakangan Asia (Jepang dan Korea). Namun khusus Bali dan Komodo, turis Australia memberi warna cukup berarti. Di Bali mereka suka di kawasan Kuta, sedang di NTT kebanyakan ria di Labuan Bajo yang ‘bebas bugil’.

Keunikan memang modal utama. Sedang sekundernya adalah keamanan. Sisi ini berperanan untuk meningkatkan dan menurunkan tingkat kedatangan wisman.

Pernah seminggu setelah bom Bali saya tidur di cottage Villa Rumah Manis yang juga pemilik Paddi’s yang dibom. Di ratusan cottage itu, berhari-hari hanya saya dan satu bule yang menghuni. Saya melihat frustrasinya wajah-wajah karyawan hotel. Dan saya meneteskan airmata ketika pemilik hotel yang juga teman saya itu menolak uang saya untuk membayar fasilitas yang saya nikmati.

Baca Juga :  Sang Presidenku Dibenci dan Dipuji

Keamanan Bali dan Toraja kini sudah kondusif. Kabupaten Manggarai ‘pemilik’ Pulau Komodo juga sama. Namun bom meledak di Pondok Pesantren Umar bin Khattab di Desa Senolo, Bima, Sumbawa beberapa waktu lalu berperan besar bagi penurunan wisman. Ini kesia-siaan usaha menjual pariwisata jika keamanan tidak terjaga.

Ketiga yang sangat penting di pariwisata adalah sarana. Memasuki Pulau Komodo, terbanyak turis datang via Maumere. Dari kota itu lewat jalan darat kurang bagus hingga Manggarai. Atau dari Mataram sampai Labuhan Haji naik ferry ke Alas dan jalan darat hingga Sape yang kondisinya juga hampir sama.

Sarana ini sangat vital. Di tahun 90-an ketika Warsito menjadi Gubernur Lombok, saya diundang khusus untuk dimintai saran. Sebagai ‘pengelana’ saya sangat paham daerah ini, termasuk daerah-daerah lain di Indonesia. Mulai budaya dan kekayaan tradisi, hingga tabiat masyarakatnya.

Kala itu daerah ini masih miskin. Kemiskinan itu dianggap memalukan. Rata-rata orang Sasak bekerja di Denpasar-Bali. Dari Mataram menuju Bayan jalannya tidak terbayangkan. Begitu juga menuju Rambitan, Sada, dan Kuta, apalagi sampai ke Lombok Tengah dan Timur. Padahal dari sisi budaya, daerah-daerah itu unik. Juga di Rambanbiak yang sekarang telah berganti nama menjadi Dasan Baru.

Saya mengusulkan pada Gubernur itu untuk membangun jalan. Menghidupkan semua tradisi, menginventarisasi flora dan faunanya, serta membuat maskot Lombok. “Kita jual kemiskinan itu Pak Gubernur untuk mensejahterakan rakyat Bumi Selaparang,” kata saya.

Gubernur cerdas dan visioner itu akhirnya menggelontorkan dua APBD untuk membangun jalan. Memformat Senggigi menjadi kawasan wisata elit. Menjual pulau-pulau kecil (gili), tracking Rinjani dan Segara Anak, mengenalkan burung Tangkoko, dan membuat maskot sakempat. Maskot ini memang bukan rumah Sasak. Itu lumbung padi. Tapi tak apalah. Yang penting punya maskot.

Baca Juga :  Moratorium PNS, Menurut Pandangan Honorer Kemenkeu

Setelah itu mengundang travel agent dunia. Mengajak wartawan majalah turisme di berbagai negara pesiar di seluruh Lombok. Setahun kemudian, penerbangan dari Bali (Denpasar) ke Lombok (Selaparang) yang biasanya dua kali sehari melonjak sampai sebelas kali. Entah sekarang. Terutama dengan bandara baru yang dulu juga dirancang Gubernur Warsito.

Pengenalan atau promosi memang juga penting. Tapi itu setelah keunikan obyek, keamanan, serta sarana terpenuhi. Dalam persoalan Komodo, kontes yang diikuti adalah bagian dari promosi. Adakah kita sudah melakukan yang paling urgen dari wisata ketimbang ikut kontes yang masih seperti suara tokek itu?

Elemen wisata alam, sea, sun, sand (dan sex?) semuanya ada di negeri ini. Kita terlalu kaya untuk wisata budayanya. Kalau tidak pandai-pandai mengemas dan menjual, maka bukan devisa yang didapat, justru musibah. Itu sudah terjadi di berbagai daerah yang rusak karena pemahaman soal wisata yang salah. (detik.com)

*) Djoko Suud, pemerhati sosial dan budaya

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*