Download Isi Buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS Karya George Aditjondro

Membongkar Gurita Cikeas?
Ulasan: Oleh Imam Musthafa
Penulis adalah peneliti pada The Indonesia View Yogyakarta

Buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS Karya George Aditjondro

Kamis, 31 Desember 2009
Dunia pers kembali menghangat dengan terbitnya buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro. Terbitnya buku itu mendapatkan kritikan tajam dari perbagai pihak. Diklaim datanya tidak benar dan fitnah. Akibatnya terjadi pro-kontra di kalangan elite pemerintah.

Substansi isi buku tersebut, selain mengupas masalah skandal Bank Century, juga menyoroti yayasan berafiliasi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yaitu Yayasan Kepedulian Sosial Puri Cikeas (Yayasan Puri Cikeas), Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, dan Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK).

Para pembina yayasan tersebut masuk ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Menurut pandangan penulis, sistem yang dipakai SBY sama dengan yayasan pada era Soeharto.

Buku ini oleh penulis sengaja diterbitkan berbarengan dengan momentum skandal Bank Century. Tujuannya adalah mengungkap dalang di balik Bank Century. Dari hasil penelitiannya, terdapat perbedaan dengan pemberitaan pers. Menurutnya, pemberitaan dari pers keliru bahwa yang menerima dana dari Bank Century adalah keluarga SBY, padahal adalah Boedi Sampoerna. Sedangkan Boedi Sampoerna memiliki keterikatan dengan SBY dan Partai Demokrat, yaitu dengan menginvestasi dana sebesar Rp 150 miliar untuk mendirikan harian Jurnal Nasional (Jurnas).

Sedikit mengurai isi buku tersebut, tentunya buku ini sangat berbahaya bagi SBY dan Partai Demokrat. Tidak mengherankan apabila dari Partai Demokrat muncul pernyataan bahwa datanya fitnah. Sekjen Partai Demokrat Amir Samsuddin termasuk pihak yang tidak setuju dengan buku itu. Alasannya, isi buku tersebut tidak ada korelasinya dengan judulnya, yaitu Membongkar Gurita Cikeas dan mengaitkan dengan masalah Bank Century. Sedangkan isinya tidak membicarakan kasus Bank Century.

Dari pihak yang kontra, buku tersebut dianggap menggangu demokrasi, sementara yang pro menilai sebaliknya, menyuburkan demokrasi. Dalam pemerintahan demokrasi memang harus ada pihak oposisi sebagai penyeimbang atau mengontrol kebijakan pemerintah supaya perjalanan roda pemerintahan stabil.

Tidak berlebihan apabila menurut pandangan komentator buku ini, Koordinator Badan Corruption Watch Danang Widyoko, buku George bisa menyuburkan demokrasi. Sebab, kekuasaan harus dikontrol. George Junus Aditjondro hanya mau mengontrol pemerintah, terutama memetakan sejumlah yayasan yang selama ini tidak diketahui publik.

Tulisan George pada dasarnya memberikan pendidikan politis terhadap rakyat Indonesia. Selama ini penanaman pendidikan politik agak berkurang terhadap masyarakat. Partai politik (parpol) senantiasa sibuk dengan perannya untuk merebut kekuasaan. Akibatnya, rakyat selalu dininabobokan oleh para elite politik.

Langkah George sangat pas dalam melaksanakan pendidikan politik. Rakyat yang menbaca buku ini dengan sendirinya akan tergugah dan menyadari bahwa selama ini terdapat aneka problem yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, rakyat diajak untuk kritis terhadap fenomena yang ada. Jika hal ini terjadi, kesuburan demokrasi dapat terwujud.

George Junus Aditjodro adalah penulis yang jati dirinya berbeda dengan penulis lainnya. Karakteristik idealismenya sebagai penulis memiliki aura tersendiri. Dia tidak merasa takut terhadap berbagai konsekuensi yang menimpa dirinya. Sekalipun ia mengetahui bahwa bukunya berisiko kepada dirinya, karena membongkar rahasia pemerintah, toh ia tetap menerbitkannya juga.

Keberaniannya merupakan sisi lain dan nilai lebih dirinya. Saat dunia buku mengalami krisis intelektual oleh para penulis, George berani tampil berbeda dengan melawan arus yang terjadi. Mentalitasnya sangat kukuh sebagai seorang penulis. Sedangkan penulis era sekarang tidak menpunyai mentalitas-ideologis. Akibatnya, senantiasa dihantui perasaan takut manakala menulis yang sifatnya perlawanan (resistensi).

Patut disyukuri dan dibanggakan negara kita memiliki penulis yang memiliki idealisme. Dirinya menpunyai kesadaran untuk memajukan bangsa dan negara. Sebab, di tengah arus globalisasi, amat sulit mendapatkan buku yang sifatnya kritis dan dinamis, melainkan hanya buku-buku pasar (marketable). Itu menjadikan citra penulis pada era sekarang kering idealisme.

Sosok seperti itu memang ditunggu-tunggu oleh bangsa. Persoalannya, negara tidak akan berubah kecuali masyarakatnya telah cerdas, serta kritis terhadap fenomena yang ada. Ia menempatkan posisinya sebagai rakyat untuk memprotes tindakan pemerintah yang tidak adil.

Baca Juga :  Jalinsum Taput-Tapsel Rawan Macet

Figur demikian di negara kita sebelumnya telah muncul, yaitu Munir, aktivis HAM, yang telah meninggal dunia akibat terkena racun. Gerakannya dalam melakukan perlawanan demi keadilan dan kebenaran amat kuat. Sayangnya, gerakannya tidak berlangsung lama. Akan tetapi, karakter Munir mirip dengan George yang berani melawan arus demi mengungkap kebenaran.

Oleh karena itu, terlepas dari tulisan George menuai kontroversi, mentalitasnya patut dicontoh oleh anak bangsa, terutama para penulis, sehingga rakyat dapat menerima pencerahan dari kreativitasnya. Harapan kita, mudah-mudahan karakternya dapat menjalar ke penulis lainnya. Menurut pandangan penulis, George merupakan “roh” baru atau “obor” terhadap penulis lainnya.

Tidak bisa dibayangkan apabila di negara kita terdapat penulis yang berwatak demikian. Besar kemungkinan Indonesia dapat bergerak cepat menuju kemajuan. Sebab, rakyat senantiasa mempunyai kesadaran untuk mengontrol atau mengawasi kebijakan pemerintah. Selama ini penyakit di negara yang masih belum tuntas adalah kebodohan. Akibatnya, rakyat tidak menyadari bahwa terdapat ketidakadilan di sekitarnya.

Sebagai figur berbeda dengan lainnya, dia telah membentuk dirinya ke publik, mencitrakan dirinya sebagai “pahlawan” yang tingkat kepahlawanannya berjalan di jembatan riil. Dia tidak seperti para politikus yang sekadar membentuk pencitraan (imagology), tapi tidak memberikan bukti konkret di lapangan setelah pencitraannya terbentuk.

Membentuk identitas diri itu amat penting. David Easton mengatakan, diri seorang merupakan rekonstruksi sosial. Artinya, menjadi cerminan sosial, sejauh mana kepribadiannya bergerak. Sementara kasus pada George telah memberikan kesan positif terhadap masayarakat bahwa perjuangannya amat ikhlas untuk memajukan negara.

Tingginya prestise dari kepribadian George makin terbukti saat bukunya “diterjang” habis-habisan oleh berbagai pihak yang tidak sepakat. Sikapnya makin menantang terhadap pemerintah untuk mempertanggungjawabkannya. Bahkan, dia merasa senang menakala ada debat umum terhadap pemerintah. Tulisannya merupakan beban moral yang harus dipresentasikan ke publik.***

Sumber: http://www.suarakarya-online.com

Amien Rais menilai isi buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’ karangan George Aditjondro, mengungkap hal-hal yang sensitif. Meski demikian, Amien meminta agar buku tersebut tidak dilarang untuk beredar di pasaran. …

Download Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas Karya George Aditjondro

Tak hanya mendapat reaksi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, buku karya George Junus Aditjondro berjudul ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’ juga menghilang dari pasaran.

Buku George berisi dugaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya dalam kasus Century. Yayasan-yayasan yang dikelola keluarga Cikeas disebut sebagai motor dalam mencari dukungan politik dan mencari dana.

Padahal, “nggak banyak yang baru. Soal keluarga Cikeas, banyak yang sudah tahu itu. Kali ini diekspos di publik, dikaitkan dengan kampanye,” kata George Aditjondro ketika dihubungi VIVAnews, Minggu 27 Desember 2009.

George lalu menjelaskan isi bukunya itu. “Ada profil dinasti Sarwo Edi Wibowo, ada foto SBY dan Ani Yudhoyono menghadiri pernikahan anak Artalyta Suryani [terpidana kasus penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan],” kata dia.

Kata George, hal itu sudah diketahui publik. “Datanya banyak yang download dari internet. Kalau soal yayasan dari situs masing-masing,” tambah dia.

****
Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, mengatakan SBY prihatin dengan buku karangan George Aditjondro.

“Di dalam buku itu disebutkan dengan fakta-fakta yang sepertinya tidak akurat dan tidak mengandung kebenaran yang hakiki. Ini yang diprihatinkan presiden,” kata dia di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Sabtu 26 Desember 2009.

Kata Julian, tidak menutup kemungkinan ada langkah hukum yang akan dilakukan SBY maupun yayasannya.

“Buku itu telah dirilis dan dipublikasikan di publik maka yang akan diminta nanti pertanggungjwabannya adalah sejauh mana keotentikan, validitas data, dan kalau perlu sampai proses dimana metodelogi yang digunakan. Sehingga pak Adi Tjondro sampai pada kesimpulan yang disampaikan buku tersebut,” kata Julian.

Baca Juga :  Penangkapan Warga Batangtoru Malapetaka Bumi Tapsel

Sumber VivaNews.com

LINK DOWNLOAD ISI BUKU:

TEKS (PDF) VERSION – DOWNLOAD DISINI (357kb)

FULL VERSION – DOWNLOAD DISINI (6,8 mb)

note: setelah anda diberikan link dl oleh 4shared.com click kanan dan “save linked content as

———————————–

UPDATE #1
George Segera Diperiksa Polres Jaksel

George Aditjondro (inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Penulis buku Membongkar Gurita Cikeas, George Aditjondro akan segera diperiksa di Polres Metro Jakarta Selatan. George dipanggil terkait laporan anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, Ramadhan Pohan, Rabu (31/12).

Kepastian tentang kapan George Aditjondro diperiksa masih belum diketahui. Yang jelas, pihak Polres Jakarta Selatan sudah memeriksa tiga saksi terkait laporan Ramadhan Pohan.

Satu diantara tiga saksi itu adalah saksi korban, Ramadhan Pohan sendiri. Sementara dua lainnya adalah orang yang ikut menyaksikan terjadinya pemukulan terhadap Pohan oleh George di Doekoen Coffe, Rabu (31/12).

Seperti diketahui, pada saat digelar acara bedah buku karya George, Membongkar Gurita Cikeas, terjadi insiden antara George dan Ramadhan Pohan. Saat itu, George memukul Pohan dengan kertas.

Akibat pukulan itu, Pohan mengalami luka. Pohan langsung membawa masalah ini ke Polda Metro Jaya hari itu juga. Selanjutnya, oleh Polda Metro Jaya kasus ini dilimpahkan ke Polres Jakarta Selatan karena lokasi kejadian berada di Jalan Pancoran, tempat kejadian perkara.

Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Gatot Eddy Pramono menjelaskan, selain tiga saksi, penyidik juga sudah mengumpulkan barang bukti untuk diperiksa.

Diantaranya adalah rekaman video yang menunjukkan adegan saat George memukul Ramadhan Pohan dengan kertas dan buku.[*/ims]

UPDATE #2

Ramadhan Pohan Terlalu Berhalusinasi

Ramadhan Pohan

INILAH.COM, Jakarta – Panitia penyelenggara acara pre launching buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’ Adhi Massardi menilai anggota DPR fraksi Partai Demokrat Ramadhan Pohan terlalu berhalusinasi.

“Aditjondro hanya mengibas bukunya seperti mengusir lalat kok,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan salah satu radio swasta siang tadi.

Tapi, lanjutnya, karena kata-kata Ramadhan Pohan itu sudah ngawur dan terlalu berhalusinasi menyebabkan Aditjondro sedikit kesal. Ramadhan ngotot di dalam buku tersebut mengatakan ada dana Century yang masuk ke koran yang dia pimpin (Jurnas). “Padahal di buku itu sama sekali tidak ada seperti yang dia tuduhkan itu. Jadi dia (Ramadhan) sama sekali ngarang, mengada-ngada dan itu sudah berkali-kali disampaikan kepada George. George akhirnya menanyakan di halaman mana yang mengatakan seperti itu sambil menyodorkan buku tersebut ke Ramadhan,” paparnya.

Adhi juga menyesalkan keberadaan beberapa orang pengunjuk rasa dari pro SBY yang datang ke acara tersebut. Apalagi para pengunjuk rasa ini mengaitkan buku ini merupakan bagian dari permusuhan antar agama. “Nah ini kan sudah sangat SARA dan ini sangat berbahaya. Seharusnya Presiden SBY tidak membiarkan anak buahnya berlaku seperti itu. Dan kemudian dikirim Ramadhan Pohan sebagai ubur-ubur untuk memancing suasana seperti itu. Didisain agar pembicaran yang kita bikin pun menjadi beralih. Tapi ini kan tidak berhasil,” tukasnya. [cms]

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*