DPR, Gus Dur & Jeruk Purut Anak TK

Muhammad Nur Hayid – detikNews

*) Muhammad N Hayid, Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pendapat perusahaan.

Jakarta – Sungguh semua orang akan berkata ‘benar juga kata Gus Dur’. Mantan presiden RI ke 4 itu pernah menyatakan anggota DPR seperti anak Taman Kanak-kanak (TK). Saat itu, Juli 2001, Gus Dur akan dijatuhkan dari kursi presiden oleh parlemen. Kini, hampir 9 tahun kemudian, lihatlah perilaku para anggota dewan.

Anak TK adalah anak balita yang usianya masih dalam tahap perkembangan. Mereka ingin tahu banyak hal dan menyampaikan juga banyak hal. Kadang mereka taat dengan aturan yang ditetapkan sang guru atau orang tua. Tapi tidak jarang mereka liar, asyik mengikuti alur pikirannya sendiri untuk bertindak dan beraktivitas.

Pada masa TK inilah, anak ingin dilihat eksistensinya. Egoismenya tinggi dan ingin dilihat selalu berhasil dan dipuji. Pada masa inilah mereka banyak belajar bernyanyi dan berbicara semaunya sendiri. Sederhananya, anak TK itu memang ada dalam masa pertumbuhan manusia yang paling dasar setelah selesai belajar bicara.

DPR adalah lembaga perwakilan rakyat yang diatur oleh UUD 45 dan UU. Lembaga ini diberi tugas menjadi pengawas pemerintah (controlling), membuat UU (legislating) dan menyusun anggaran (budjeting). Di tangan lembaga inilah nasib bangsa ini akan ditentukan, tentunya selain di tangan lembaga eksekutif dan yudikatif. Di pundak wakil rakyat yang ada di parlemen ini pula masa depan bangsa akan dipertaruhkan. Karenanya DPR dan anggotanya harus benar-benar bermutu dan bekerja untuk rakyat meski mereka berasal dari partai-partai yang berbeda kepentingan.

Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Nama aslinya adalah Abdurrahman Addhakhil. Tapi ia sering disebut dengan nama Abdurrahman Wahid karena memimjam nama depan ayahnya yang bernama Wahid Hasyim. Gus Dur adalah sosok kiai, politisi, budayawan, intelektual dan aktivis gerakan yang tidak diragukan lagi kompetensinya. Gus Dur tidak pernah surut walau sejengkal jika sedang memperjuangkan keyakinannya. Termasuk dalam memperjuangkan demokrasi, kebebasan, pluralisme dan HAM. Sampai akhir hayatnya, Gus Dur tetap konsisten dengan perjuangannya itu.

Baca Juga :  Pemalsuan Data Otentik Amdal PT Agincourt Resource - Laporan Warga Batang Toru `Mandeg` di Polda Sumatera Utara

Lalu apa hubungannya antara DPR, Gus Dur dan anak TK? Jelas, secara langsung memang tidak ada hubungannya. Tetapi, jika kita amati secara cermat soal perilaku anggota dewan akhir-akhir ini, kita akan bisa menarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara ketiganya. Hubungan ini sangat jelas saat kita menyaksikan wakil rakyat saat sidang paripurna DPR, khususnya yang terkait dengan Skandal Century. Apalagi Selasa (2/3/2010) kemarin dalam paripurna DPR sempat terjadi ricuh dan hampir adu jotos, bukannya ini seperti prilakunya anak kecil?

Gus Dur saat menjadi presiden tahun 1999-2001 lalu memang tidak pernah absen membuat gebrakan. Saking seringnya, Gus Dur harus beberapa kali berurusan dengan DPR. Mungkin karena bosan dan jenuh dengan perilaku dewan, Gus Dur pun membuat gerah anggota parlemen dengan menyebut DPR sebagai taman kanak-kanak (TK). Tentunnya sebutan ini bisa dimaknahi bahwa orang-orang yang ada di DPR, ya seperti anak TK. Begitulah media nasional saat itu menulis.

Penyebutan ini sontak saja membuat anggota parlemen menjadi marah dan kalap. Gus Dur dinilai melakukan contemp of parliament, melakukan penghinaan terhadap parlemen. Akibat keberaniannya dengan parlemen itu, akhir cerita, di sebuah malam yang buta pada Juli 2001, Gus Dur yang hanya mengenakan celana kolor dipaksa melambaikan tangan untuk keluar dari Istana Negara tempat ia berkantor. Ia dijatuhkan dari kursi presiden.

Baca Juga :  Wisata Madina Tidak Didukung Infrastrukutur

Meski demikian, cap anak TK pada DPR tidak pernah hilang. Terlebih bila anggota parlemen tidak bisa menunjukkan etika dan kinerja yang baik untuk kepentingan rakyat. Selasa (2/3/2010) kemarin, anggota DPR ricuh saat pembacaan hasil Pansus Century, cap yang diberikan Gus Dur itu pun kembali terkenang.

Waktu, katanya, bisa menyembuhkan segala luka. Waktu juga akan membuat seseorang tumbuh kembang dan menjadi dewasa. Tapi bagi anggota DPR, waktu seperti tidak mengubah apa-apa. Anggota DPR tidak kunjung beranjak dari dunia ‘taman kanak-kanak’. Pergantian waktu bagi DPR seperti jeruk purut yang mengkerut. Polah anggota DPR tetap sering membikin kita cemberut. Entah sampai kapan kita harus bersabar. He he he …

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 13 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*