DPRD Pematangsiantar Buka Posko Korban Calo CPNS

DPRD Pematangsiantar siap membuka posko pengaduan terhadap masyarakat yang menjadi korban calo CPNS. Disinyalir, para calo bukan hanya berasal dari kalangan birokrasi, tapi diduga ada anggota DPRD yang terlibat.

Ketua DPRD Marulitua Hutapea dan Wakil Ketua Zainal Purba serta anggota DPRD, Rabu (27/7) mengaku belum mengetahui persis keterlibatan oknum anggota DPRD sebagai calo CPNS. “Kami memang sudah mendapat laporan secara lisan dari masyarakat tentang adanya anggota DPRD yang terlibat dalam pencaloan, tetapi secara tertulis belum. Tetapi jika memang benar, kami sangat menyayangkan karena itu bukan tupoksi anggota DPRD,” kata Marulitua. Marulitua menambahkan, walaupun DPRD belum memiliki Badan Kehormatan (BK), tetapi anggota dewan yang jelas-jelas melakukan pidana, maka diancam pemecatan.

Tidak Ada Penyisipan

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pematangsiantar Pariaman Silaen menegaskan, dalam teknis penerimaan CPNS tidak ada istilah penyisipan. Walaupun ada lowongan yang kosong ketika formasi umum dibuka, pengisiannya hanya dapat dilakukan di penerimaan tahun berikutnya.

“Istilah penyisipan hanya pernah digunakan sekitar 15 tahun lalu. Dulu orangtua yang pensiun bisa digantikan anaknya. Tetapi sekarang itu tidak berlaku. Contohnya formasi CPNS tahun 2010, ada tujuh formasi kosong, tetapi tidak dapat disisip karena tidak ada peraturannya,” kata Pariaman melalui telepon.

Sebelumnya diberitakan , Lalo Hutapea (45) warga Kerasaan I Kecamatan Pematang Bandar, Simalungun, melaporkan Kepala UPTD Pendidikan Siantar Marihat, Katharina Rosmeri Siregar karena diduga menipu dengan modus memasukkan anaknya menjadi CPNS. Lalo rela mengeluarkan uang Rp140 juta, tetapi SK dan penempatan tak kunjung terealisasi.
Disebut-sebut, oknum anggota DPRD Pematangsiantar terlibat dalam pencaloan tersebut.

Baca Juga :  Polisi Terus Sisir Perampok Bersenjata di Sumut

Lagi, Calo CPNS Dipolisikan
Oknum PNS Pemkab Deli Serdang, Rumondang Manurung (50) warga Jalan Pama Gang Tumiran, Deli Tua, dipolisikan karena menjadi calo CPNS. Ia memastikan bisa menjadikan Regina Margi Siregar (24) menjadi CPNS Pemko Pematangsiantar dengan meminta uang Rp120 juta. Merasa dibohongi, Jenner Siregar (46), ayah Regina menempuh jalur hukum.

Informasi yang dihimpun, Rabu (27/7) menyebutkan sebelum penerimaan CPNS tahun 2009 di Pemko Pematangsiantar, di akhir tahun 2008, Rumondang mendatangi Jenner di rumahnya, Jalan Negeri Bosar Simpang Dua, Kelurahan Nagahuta Siantar Simarimbun.

Rumondang menawarkan kepada Jenner dirinya bisa menjadikan Regina sebagai PNS di Pemko Pematangsiantar. Syaratnya dengan menyerahkan uang Rp120 juta. Tertarik dengan tawaran tersebut, tanpa curiga Jenner langsung setuju.

Oktober 2009, korban melalui temannya Saka Mang (48) mengantarkan uang tahap pertama kepada Rumondang sebesar Rp60 juta. Sedangkan tahap kedua diserahkan November 2009, juga Rp60 juta. Setelah menerima uang, Rumondang menyuruh Regina mendaftar seleksi CPNS di Pemko Pematangsiantar. Lalu nomor ujian Regina diserahkan kepada Rumondang. Singkatnya, saat pengumuman CPNS tahun 2009, Regina tidak masuk daftar lulus.

Namun saat itu Rumondang bukan mengakui kesalahannya. Malah ia berjanji akan memasukkan Regina menjadi PNS di Pemko Pematangsiantar, yakni melalui penyisipan. Namun janji Rumondang tidak dipenuhi. November 2010, Rumondang kembali menyuruh Regina mendaftar seleksi CPNS ke Pemko Pematangsiantar. Regina menuruti dan memeroleh nomor ujian 33905001.

Baca Juga :  Teroris Targetkan Bunuh Wali Kota Tanjung Balai dr Sutrisno Hadi SpOG

Selanjutnya Rumondang meminta fotokopi kartu ujian Regina pada 22 Desember 2010. Tapi hasilnya, Regina tidak lulus. Regina dan orangtuanya pun meminta uang kembali. Namun Rumondang menghindar. Kapolresta Pematangsiantar AKBP Alberd TB Sianipar melalui Kasubbag Humas AKP Altur Pasaribu membenarkan telah menerima laporan pengaduan Jenner. Jika terbukti, Rumondang akan dijerat Pasal 278 atau 372 KUHPidana tentang penipuan dan penggelapan. (esa/osi/awa)

metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*