DPRD Sumut Pertanyakan Hasil Eksplorasi Sorik Mas Mining

Komisi D DPRD Propinsi Sumatera Utara mempertanyakan apa hasil dari eksplorasi mas bertahun-tahun yang dilakukan PT Sorik Mas Mining dengan luas wilayah 66.200 ha di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Anggota Komisi D Jamaluddin Hasibuan bahkan menuding Sorik Mas telah mengambil untung dari kegiatan eksplorasi. Dia menduga, Sorik Mas hanya berkedok eksplorasi, tetapi kenyataannya sudah masuk pada tahap eksploitasi.

“Saya menduga, Sorik Mas tidak lagi mengeksplorasi, tetapi sudah mengeksploitasi. Bagaiamana ini,” tanya Jamaluddin kepada Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Sumut Untungta Kaban dalam rapat di Gedung Dewan, Rabu (9/2).

Pertanyaan itu dilontarkannya merujuk paparan Kadistambern soal tiga perusahaan yang melakukan eksplorasi hasil bumi di Sumut, yakni Sorik Mas Mining, Dairi Prima Mineral dan Agincourt Resources.

Jamaluddin menduga, diam-diam Sorik Mas sudah mengeruk keuntungan dengan berdalih mengangkut hasil eksplorasi ke Pekanbaru. Ini berlangsung bertahun-tahun. “Mereka bahkan pernah mau meminjam truk saya,” jelasnya. Dia meminta ketegasab Kadis, sampai kapan eksplorasi bisa dilakukan,” sebutnya,” sebutnya.

Kadishub Untungta Kaban menyebutkan, Sorik Mas Mining belum sampai pada tahapan eksploitasi atau produksi. Sekaitan dengan itu, Sorik Mas belum juga mengajukan soal penanganan analisis dampak lingkungan. “Laporan ke kami dan hasil temuan kami, mereka masih eksplorasi dan belum berproduksi,” sebutnya.

Walau demikian, Komisi D belum puas dengan jawaban itu. Jamaluddin mengatakan, sebaiknya Komisi D menjadwalkan kunjungan langsung ke lapangan. Usulan Jamaluddin bahkan langsung direspon Ketua Komisi D Maratua Siregar. “Ya, ya akan kita jadwalkan nanti,” kata Maratua.

Baca Juga :  200 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Jika Sorik Mas Mining menjadi sorotan, namun tidak untuk Agincourt Resources yang melakukan eksplrasi mas dan mineral pengikut di Batang Toru Madina, Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara seluas 1163.962 ha dan PT Dairi Prima Mineral di Dairi seluas 27.420 ha galian timah hitam dan seng.

“Mudah-mudahan Agincourt sudah bisa berproduksi di Desember 2012. Demikian juga kita harapkan agar Dairi Prima Mineral segera mengantongi izin produksi setelah keluarnya peraturan presiden,” jelasnya.

Sekretaris Komisi D Tunggul Siagian mengatakan, sebaiknya ada kontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) bagi daerah di sekitar eksplorasi. Dia juga meminta Distamben memastikan soal persyaratan Amdal nantinya terpenuhi. *** (inimedanbung.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*