Drama Penembakan 5 Menit di Mapolsek Hamparan Perak

Saat itu, sekitar pukul 01.00 WIB, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang, yang semula hening berubah mencekam. Suara tembakan berkali-kali terdengar dari bangunan sederhana Mapolsek Hamparan Perak. Markas polisi itu diserang serombongan orang tak dikenal selama sekitar 5 menit.

Pada Rabu (22/9/2010) sekitar pukul 00.00 WIB, 6 sepeda motor melintas bersama-sama di depan Mapolsek Hamparan Perak.

Pada 01.00 WIB, sekitar 12 hingga 15 orang yang saling berboncengan dengan sepeda motor memasuki halaman Mapolsek.

Sekitar semenit kemudian, terdengar suara tembakan. Dor dor Dor! Orang-orang yang mengenakan penutup kepala tersebut menembaki kaca Mapolsek. Mereka lantas membuang bungkusan berisi bensin yang diberi sumbu atau seperti bom molotov ke papan reklame yang ada di Polsek.

“Kejadiannya pukul 01.00 WIB,” kata Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno kepada detikcom.

Sekitar pukul 00.03 WIB, serombongan orang tersebut merangsek masuk ke dalam Mapolsek dan langsung mendatangi petugas. Timah panas ditembakkan ke arah dua orang polisi di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK). Dengan gerakan cepat, para pria berpenutup kepala itu menembak seorang petugas lainnya yang berada di ruang reskrim, tak jauh dari sel.

“Mereka menembak dengan membabi buta,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Baharudin Djafar. Karena itulah tiga korban tewas dengan jumlah peluru yang bersarang di tubuh cukup banyak.

Ketiga petugas yang tewas adalah Bripda Riswanda yang ditembus 6 pelor, sedangkan dua korban lainnya masing-masing bersarang 9 peluru dan 4 peluru. Petugas tersebut bernama Aipda Deto Sutejo dan Aiptu B Sinulingga.

Saat peristiwa mencekam itu terjadi, menurut Polda Sumut, ada 4 petugas di dalam Mapolsek. Namun hanya tiga petugas yang menjadi korban tembak serombongan pria tidak dikenal tersebut. Sebab seorang petugas lainnya sedang berada di ruangan lain. Informasi terbaru menyebutkan di dalam kantor itu ada 5 orang, dua orang lainnya memilih bersembunyi karena tidak mengantongi senjata.

Baca Juga :  Pengungsi Sinabung Demo BPBD Karo

Pelaku juga berupaya membakar mobil polisi dengan cara melempar semacam bom molotov. Untungnya api yang menyala dapat dipadamkan oleh petugas lain yang berada di sekitar lokasi.

Saat penyerangan, warga mendengar letusan tembakan sebanyak belasan kali dari arah Polsek. “Pertama kita dengar letusan tembakan. Habis itu berturut-turut tembakannya,” kata Arif (29), seorang warga yang tinggal tidak jauh dari Polsek Hamparan Perak, Rabu (22/9/2010).

Mendengar suara tembakan, Arif pun agak mendekat. Saat itu juga ia melihat sejumlah orang meninggalkan lokasi dengan sepeda motor dari berbagai jenis dengan cepat. Para pelaku berboncengan dengan membawa senjata laras panjang.

Beberapa selongsong dari tiga jenis peluru ditemukan di sekitar lokasi. Jenis pertama, peluru berkaliber 7,62 milimeter yang biasa digunakan untuk senjata serbu jenis AK-47 atau AK-56. Jenis kedua berukuran 5,56 milimeter yang biasa digunakan untuk senjata SS1 atau M-16, dan jenis lainnya berkaliber 9 milimeter yang biasa digunakan pistol jenis FN.

Polisi menduga kuat, pelaku penyerbuan Mapolsek ini ada hubungannya dengan pelaku perampokan Bank CIMB Niaga terkait terorisme. “Pasti terkait dengan itu (terorisme). Ini terkait pelaku perampokan di CIMB. Soalnya mereka itu orang terlatih,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Polisi Iskandar Hasan kepada detikcom. Meskipun terlatih, namun Iskandar menangkis pelakunya dari unsur TNI.

Seperti diketahui, Hamparan Perak adalah salah satu wilayah penggerebekan tersangka teroris oleh Densus 88 di Sumut. Dari wilayah itu, Densus berhasil menangkap tiga dari 19 tersangka teroris, yakni Marwan alias Wakno alias Wakgeng (39), Kasman Hadiyono alias Yono (43) dan Surya Saputra.

Baca Juga :  Penderita TB di Sumut Terus Meningkat

Untuk memburu para pelaku, Polda Sumut menerjunkan satuan Brigade Mobil (Brimbob). Lokasi kini telah dipasangi garis polisi, meski demikian warga sekitar terus berdatangan untuk melihat dari dekat tempat kejadian perkara.

Peristiwa berdarah itu berlangsung cepat, hanya 5 menit. Hal ini berdasar pengakuan Dedi Rianto, yang saat peristiwa terjadi berada di sekitar Mapolsek Hamparan Perak. Saat itu, Dedi berdiri sekitar 20 meter dari kantor polisi.

Saat letusan senjata terdengar, pemuda 19 tahun itu sedang memberi makan lembunya. Saat melihat ada serombongan orang bermotor yang menenteng senjata, dia pun bersembunyi di bak sampah karena takut terlihat. Menurut dia, sekitar lima menit setelah tembakan tembakan meletus, kelompok penembak tersebut meninggalkan Polsek.

SUmber: detik.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*