Efek Domino Century Boediono

JAKARTA – Keterlibatan Wakil Presiden Boediono dalam skandal bailout Bank Century masih menjadi misteri. Namun, Boediono yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia tentu tidak mungkin buta terhadap upaya yang terjadi pada 2008 silam.

Praktisi Hukum Alexander Lay menilai keterlibatan Boediono dapat dilihat dari dua poin krusial. Pertama, saat BI memberikan bantuan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada Bank Century.

Kedua, pertemuan BI yang dipimpin Boediono dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk meminta persetujuan pemerintah perlunya Bank Century diselamatkan yang dananya berasal dari pemerintah atau penyertaan modal sementara (PMS).

Terkait poin pertama, Alexander Lay mengatakan, menurut peraturan BI syarat suatu bank menerima FPJP ialah memiliki rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) minimal 8%. Tapi CAR Bank Century saat itu sekitar 1%.

Peraturan itu diubah dengan singkat menjadi CAR positif sehingga akhirnya Bank Century memenuhi kriteria menerima FPJP. “Apakah motif mengubah peraturan sehingga CAR menjadi positif dilakukan semata-mata demi menyelamatkan Bank Century dengan alasan menyelamatkan perekonomian nasional atau ada motif lain,” ujarnya saat diskusi dengan tema Efek Domino Century Boediono, Jakarta, hari ini.

Alexander menegaskan sebagai Gubernur BI Boediono dapat mengubah peraturan BI tentang CAR.

Terkait poin kedua, pengacara yang sempat mencuat namanya dalam kasus Cicak vs Buaya itu mempertanyakan apakah data yang dipresentasikan BI benar adanya. Saat pertemuan itu, Sri Mulyani memutuskan hanya mengeluarkan dana Rp600 miliar, tapi dalam kenyataanya berkembang menjadi Rp2 triliun dan akhirnya Rp6,7 triliun.

Baca Juga :  Dapat Sumbangan Rp 1,2 M, Darsem Kini Bak Toko Emas Berjalan

“Kalau diketahui saat itu CAR Bank Century negatif, pasti pemerintah tidak akan menyetujui sehingga disengaja menggunakan data sebelumnya saat CAR masih positif, walaupun dalam kenyataanya saat presentasi ternyata CAR-nya sudah negatif,” ujarnya.

Ia menambahkan jika dugaan tersebut bisa dibuktikan itu merupakan kesengajaan yang didesain untuk keuntungan pribadi dan merugikan keuangan negara.

“Lalu apakah benar uang yang disetujui untuk Bank Century ternyata dialirkan ke kelompok tertentu, atau partai tertentu bahkan untuk tim pemenangan pemilu. Itu yang perlu dibuktikan dan pendalaman,” tegasnya.

Senada dengan itu, Anggota Timwas Century Akbar Faizal menilai keterlibatan Boediono dapat diukur dari proses FPJP dalam menetapkan CAR dan PMS. “Yang bertandatangan dan memberikan persetujuan di FPJP siapa? Dan yang mempresentasikan PMS ke Kemkeu siapa? Ya itu (Boediono),” ujarnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Denni Purbasari, mengatakan tidak ada yang salah dengan pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) yang dilakukan Mantan Gubernur Bank Indonesia, Boediono, kepada Bank Century.

“Kalau sejak awal yang disangkakan adalah FPJP, maka FPJP adalah kebijakan,” katanya pada saat menjadi pembicara dalam diskusi yang sama, hari ini.

Namun baginya, persoalan Century ini bukan lagi isu ekonomi, melainkan sudah beralih menjadi isu politik. Karenanya, lanjut Denni, jika melihat kasus ini dari ilmu ekonomi, maka sudah tamat.

Baca Juga :  Patrialis Di Tangkap Tangan KPK, Ketua MK Mohon Maaf

Artinya, secara logika ekonomi, keputusan Boediono menyelamatkan Century sudah tepat. Namun, lanjut Denni, yang jadi persoalan adalah, apakah ada motif lain di balik kebijakan tersebut? Itulah yang harus segera ditemukan oleh lembaga penegak hukum.

Sumber: waspada.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*