Ekowisata dapat Menekan Laju Kerusakan Hutan

(Analisa/yogi yuwasta) DANAU TASIK: Danau Tasik merupakan salah satu keindahan alam yang berada di kawasan penyangga Suaka Margasatwa (SM) Barumun tepatnya di kawasan ekowisata Barumun Nagari, Kecamatan Batang Onang Kabupaten Paluta.

Batang Onang, Konsep ekowisata yang melibatkan aspek peran serta dan partisipasi masyarakat diyakini bisa menekan laju deforestasi kawasan hutan. Resistensi untuk mempertahankan keberadaan kawasan hutan akan terbangun jika masyarakat memperoleh manfaat langsung pengelolaan hutan.

Demikian disampaikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Sipirok Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Kasta Sembiring saat berkunjung ke zona penyangga kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barumun di Desa Batu Nanggar, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Rabu (3/12). “Meningkatnya pertumbuhan penduduk akan mendorong perluasan penggunaan lahan termasuk kawasan hutan. Untuk itu, dibutuhkan partisipasi dan peran masyarakat untuk mengantisipasi kerusakan hutan,”jelasnya.

Lebih lanjut, sama sepeti kawasan hutan lainnya, SM Barumun dengan luas kawasan mencapai 40.330 haktera juga tak lepas dari aktivitas perambahan ilegal yang dilakukan oknum penggarap. Setidaknya 1.000 hektare lebih kini sudah beralihfungsi menjadi perkebunan, tempat tinggal dan sebagainya.

“Keterbatasan personel dengan luas kawasan yang tak seimbangan selama ini menjadi kendala menjaga kelestarian hutan. Jadi, sangat dibutuhkan sekali peran masyarakat dalam melakukan pengasawan. Menjadikan kawasan penyangga sebagai kawasan ekowisata diharapkan menjadi solusi yang ampuh dalam melestarikan kawasan SM Barumun,”terangnya.

Baca Juga :  Meski Sengit, Musda KNPI Palas Tetapkan Risman Secara Aklamasi Sebagai Ketua

Program Percontohan

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BBKSDA Sumut, Fitri Nur mengatakan, kawasan ekowisata Barumun Nagari yang merupakan penyangga SM Barumun adalah salah satu program percontohan konsep kesatuan pengelolaan hutan konservasi (KPHK) berbasis landskap yang berkolaborasi dengan berbagai pihak. Konsep pemanfaatan hasil hutan non kayu ini diharapkan bisa menekan angka gangguan kawasan dan perambahan.

“SM Barumun merupakan kawasan non taman nasional (TN) terluas yang ada di Sumut. Kawasan ini juga menjadi habitat beberapa jenis satwa kunci seperti harimau Sumatera, orang utan, siamang, burung rangkong dan beruang madu yang jika dikelola dengan memanfaatkan jasa lingkungan bisa membuka peluang bagi masyarakat sekitar kawasan dan pihak lainnya untuk mendapatkan keuntungan. Jika kesamaan visi ini terbangun kami yakin rasa mempertahankan kawasan SM Barumun juga akan terbangun,”urainya.

Sementara, Manajer Program Barumun Nagari Ecotourism, Hendry Suryadi mengatakan, konsep ekowisata yang ditawarkan pada kawasan penyangga SM Barumun ini menitikberatkan pada aspek konservasi, pendidikan dan peningkatan ekonomi warga lokal. Selain menikmati sensasi petualangan dengan menggunakan mobil jeep dan sepeda wisatawan nantinya juga akan diajak secara langsung menggali kearifan budaya masyarakat lokal. Seperti misalnya melihat langsung proses pembuatan gula aren, menikmati sajian kuliner lokal ‘holat’ dan menikmati kesenian tradisional seperti gordang sambilan.

“Ke depan, kami yakin pengelolaan kawasan ini akan sangat baik sekali. Karena semua unsur ekowisata yang dibutuhkan wisatawan minat khusus ada seperti sisi petualangan, pendidikan dan budaya. Kami juga berharap konsep ekowisata yang melibatkan peran masyarakat lokal bisa memberi kontribusi nyata dalam upaya pelestarian kawasan SM Barumun,”ungkapnya. (yy)

Baca Juga :  Rumah warga rusak tertimpa tower seluler di kampung Sabasiala Kilang Papan Sipirok

/(Analisa)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*