Ekspedisi Meraba Sipirok (EMAS) III ke Cagar Alam Dolok Sipirok Hopong, Perkampungan yang Terisolir

Oleh: Budi Hatees *)
Penulis sering keluar-masuk hutan, pencatat perjalanan

Dusun  Hopong ,  yang ada dalam wilayah administrasi  Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput),  adalah perkampungan yang terisolir.   Itulah kesan paling kuat yang saya rasakan ketika menginjakkan kaki ke dusun itu, Kamis, 26 Desember 2013  lalu.

Bagda azan Magrib saat saya tiba. Saya ke Hopong bersama rombongan Ekspedisi Meraba Sipirok (AMAS) III. Langit sudah mengatup beberapa menit lalu. Kegelapan  mengental. Satu-satunya nyala cahaya hanya kerdip dari api rokok. Warna merah yang redup itu, lebih dari cukup sebagai penanda bahwa ada  manusia  di sekitar kami.

Dia adalah Basirun Siregar,  begitu laki-laki 65 tahun itu memperkenalkan diri saat muncul di hadapan kami.  Samar, bentuk wajahnya tak tertangkap mata. Hanya suaranya, terdengar lembut dan bersahabat, yang membuat kami bersorak kegirangan. Basirun Siregar mempersilahkan kami masuk ke dalam  rumahnya. Rumah itu terbuat dari kayu,  tak dicat. Warnanya hitam,  sewarna serat kayu yang telah menua.

Kami, 25 orang, berdesak-desakan di dalam rumah.  Masih ada yang tak tertampung, terpaksa berdiri di luar.  Seseorang kemudian muncul dari balik  pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur.  Seorang  perempuan, Basanah Boru Rambe (55),  membawa lampu minyak—botol minuman suplemen yang diberi sumbu berupa potongan kain. Sebagian ruang tamu  itu makin jelas bentuknya.

Seperti juga Basirun Siregar, Basanah Boru Rambe murah senyum. Sapaannya sangat bersahabat, meskipun ia belum mengenali kami.  Ia mengenakan selendang dari sutra untuk menutup rambutnya, membelitkan kain sarung motif burung merak di bawah pinggangnya. Penampilannya khas perempuan desa dari keluarga Batak muslim.  “Silahkan duduk!” ucapnya.

Kami memperkenalkan diri sebagai rombongan EMAS III, yang melakukan ekspedisi  di kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok. Kami baru saja berjalan kaki selama 7 jam dari Desa Rambasihasur,  Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.  Rombongan ekspedisi sebanyak 25 orang berasal dari berbagai kalangan—mahasiswa, pegawai negeri sipil, aktivis lingkungan, petugas polisi kehutanan, petugas dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Selatan, petugas  dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Utara, pelajar, dan pemuda dari berbagai desa di Kecamatan Sipirok.

Kecamatan Sipirok  dipagari  jajaran Bukit Barisan, kawasan hutan yang merupakan cagar alam. Di sebelah Barat berjajar Dolok (Gunung) Sibualbuali dan merupakan kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali. Sebelah Timur berdiri Dolok Bariba, dan di sebelah Utara membentang Cagar Alam Dolok Sipirok.  Secara umum, warga Kecamatan Sipirok kurang memahami status cagar alam tersebut, sehingga tingkat kesadaran mereka untuk menjaga kelestariannya sangat rendah.

Dalam rangka memperkenalkan potensi seluruh cagar alam yang ada di wilayah Kecamatan Sipirok, Pengurus Besar  Ikatan Alumni Pelajar  Sipirok (PB IKAPSI) menggelar Ekspedisi Meraba Sipirok (EMAS) sejak awal 2013.  EMAS I digelar PB IKAPSI di kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali  pada Februari 2013,  dan  rombongan berhasil menemukan habitat  Bunga  Bangkai (Amorphophallus titanum) serta menginventaris berbagai jenis anggrek langka di dalam kawasan.

Pada Agustus 2013, EMAS II kembali digelar dan kawasan Dolok Bariba menjadi lokasinya.  Kawasan ini terdiri dari tujuh bukit yang berdiri berjajar, masing-masing bukit memiliki sejarah perjalanan para raja di masa lalu sebelum Kecamatan Sipirok terbentuk. Dolok Bariba juga  dikenal sebagai tempat bersejarah karena Pahlawan Nasional asal Kecamatan Sipirok, Sahala Muda Pakpahan,  bergirilya di kawasan ini selama bertahun-taun pada  masa perang kemerdekaan Republik Indonesia.

EMAS III digelar PB IKAPSI ke kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok.  Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan KeputusanMenteri Pertanian No. 2669/Kpts/Um/14/1982,  membentang seluas 6.970 ha. Sebagain kecil wilayahnya berada  di Kecamatan Pahaejae, Kapupaten Tapanuli Utara, sisanya berada di wilayah Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Lantaran letak cagar alam ini menjadi  perbatasan dua  kabupaten, kelestarian lingkungan hutan hujan tropis ini kurang mendapat perhatian dari kedua pemerintah daerah tersebut. Pembalakan liar dan perburuan liar kerap terjadi.  Padahal,  cagar  alam ini satu dari sedikit kantung yang merupakan habitat Orang Utan Sumatra (Pongo abelii) di Pulau Sumatra.

Ketika rombongan ekspedisi bertolak  pada pukul 10.00 Wib dari Desa Rambasihasur, diperkirakan hanya butuh waktu  3 sampai 4  jam  untuk melintasi Cagar Alam Dolok Sipirok dengan  rute Desa Rambasihasur—Dusun Hopong.  Ternyata perkiraan meleset, dan kami tidak pernah membayangkan akan kemalaman di perjalanan. Kami pun tak punya gambaran akan mengetuk pintu rumah siapa bila tiba di Hopong.

Untunglah kami bertemu Basirun Siregar begitu memasuki batas  perkampungan penduduk di Dusun Hopong.  Ia tak mengira akan bertemu dengan kami, karena tidak menduga ada orang yang akan menembus Cagar Alam Dolok Sipirok lewat jalur Desa Rambasihasur—Dusun Hopong.  Jalur itu berat. Untuk pergi ke Desa Rambasihasur, sudah dua  tahun warga Dusun Hopong tidak pernah  lagi melewati jalur itu. Keheranan itulah yang mendorong Basirun Siregar mengundang kami  ke rumahnya.  Ia memahami  letih yang mendera kami, karena sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi medan yang baru saja kami lalui.

Baca Juga :  Ha... Ada Provinsi Sumatera Tenggara di Sumut?

Basirun mengatakan, dari segi administrasi, Dusun Hopong  bagian dari Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Desa  ini memiliki empat dusun: Lumban Garaga, Hapundung, Panongkalan, dan Hopong.  Jarak antara dusun  satu dengan dusun lainnya berkisar 5-6 km.  Jarak itu dihubungkan oleh jalan tanah yang akan menjelma hamparan bubur pada musim  hujan.  Kondisi jalan ini membuat Dusun Hopong terisolir,  tertutup akses masyarakat terhadap realitas kemajuan pembangunan nasional  yang sedang berlangsung di luar dusun.

“Kami keluar hanya pada hari pasar (Senin). Itu pun sebatas Pasar Simangumbang, ibu kota Kecamatan Simangumban,” katanya.

Jarak dari Dusun Hopong ke Pasar Simangumban sekitar 14 km. Pada hari pasar, ada kendaraan umum sebagai sarana transportasi.  Sebuah jeep bergardan dua, yang baknya dimodifikasi menjadi sarana angkutan manusia sekaligus barang.   Dengan tarif Rp20.000 per orang, kendaraan itu melaju di jalan tanah yang menghubungkan Dusun Hopong dengan Pasar Simangumban.

Tak jarang sopir menyuruh  penumpang turun bila mencapai jalan yang terlalu menanjak.  Beban yang terlalu berat dikhawatirkan membuat mobil tua itu ngos-ngosan, yang akhirnya akan menyebabkan kecelakaan.  Sopir kendaraan tua itu bukan orang sembarangan. Ia harus ekstra hati-hati,  karena jurang menganga yang curam dan dalam di kiri dan kanan jalan siap menyambut segala kesalahan  perhitungan.

Kecelakaan acap terjadi. Korban jiwa tidak terbilang. Sebab itu, kalau tidak punya keberanian ekstra,  warga lebih memilih berjalan kaki untuk sampai ke Pasar Simangumban.  Kendaraan hanya mengangkut barang—hasil-hasil pertanian selama sepekan yang akan dijual ke  pedagang pengumpul di Pasar Simangumban. Uang hasil penjualan itu yang akan dibelanjakan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

Berjalan kaki sejauh 14 km  tidak pernah jadi masalah bagi warga Dusun Hopong.  Sudah bertahun-tahun lakon hidup semacam  itu mereka nikmati. Berjalan kaki beramai-ramai. Sepanjang perjalanan mereka melupakan letih yang mendera sendi sambil bercakap-cakap tentang banyak hal.  Sekali-sekali mereka beristirahat, terutama bila mencapai dusun-dusun yang  ada di sepanjang jalan.

 

Kampung tua dan situs sejarah

Dusun Hopong  merupakan perkampungan  tua, konon  sudah berdiri sejak zaman masyarakat masih menganut kepercayaan (sipelebegu) atau animisme--sebelum datang pengaruh agama.  Ini dibuktikan dengan adanya hamparan  situs purbakala, terletak  sekitar 500 meter dari dusun tersebut.  Situs itu berupa kumpulan patung batu  berbentuk  manusia dalam  sikap duduk.

Ada dua belas patung , salah satu patung berukuran lebih besar dari sebelas patung lainnya. Posisi patung yang lebih besar berada di depan sebelas patung lainnya. Keduabelas patung sama-sama menatap kea rah depan.  Patung  yang besar berdiameter 60 cm dengan tinggi sekitar 100 cm.  Sementara sebelas patung lainya berdiameter 30 cm dengan tinggi bervariasi,  sekitar 70 cm  sampai 90 cm. Kondisi patung-patung itu mulai rusak pada beberapa bagian. Bahkan, ada lima patung yang sudah tumbang dan tidak tertanam ke tanah.

Patung-patung itu sudah dipindahkan warga ke tengah-tengah perkampungan  karena  khawatir dicuri orang.  Patung-patung itu awalnya berada sekitar 500 meter dari perkampungan,  di dalam hamparan tanah lapang.  Patung-patung itu menghadap ke arah bukit-bukit yang kini menjadi kawasan cagar Alam Dolok Sipirok. Pada salah satu lembah bukit di kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok, ada gua yang diyakini masyarakat sebagai tempat keramat.  Kemungkinan besar pada masa lalu gua itu disembah masyarakat yang masih menganut sipelebegu (animism). Posisi ke dua belas patung  menghadap ke gua di lereng salah satu bukit di Cagar Alam Dolok Sipirok.

Dilihat dari posisi itu, diduga patung-patung tersebut merupakan tempat penyembahan. Tapi, bila dikaitkan dengan cerita yang berkembang di lingkungan masyarakat, patung-patung itu merupakan penanda kuburan atau makam. Patung-patung itu adalah nisan. Konon, patung paling besar merupakan nisan dari pemimpin masyarakat penyembah sipelebegu, sedang sebelas patung lainnya nisan dari para pengikutnya.

Hopong dikenal sebagai muasal masyarakat Batak bermarga Siagian.  Kata “siagian” berasal  dari  kata “sianggian” dalam Bahasa Batak Angkola, yang artinya “anak terakhir (bungsu)”.   Marga  Siagian merupakan bungsu dari rumpun  marga Siregar,  marga  masyarakat yang merupakan pembuka kampong (panusunan bulung) di Kecamatan Sipirok.

Sebagai bungsu, marga Siagian mendapat lokasi untuk membuka perkampungan baru berupa untuk masyarakat marganya. Daerah  itu  kemudian disebut Hopong,  berada di lereng bukit yang kini menjadi kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok.  Kata “hopong”  diambil dari nama  sejenis tanaman  yang dominan  tumbuh di kawasan itu.  Hopong merupakan tanaman yang unik, rasa buahnya  yang  asam  sepat  hanya muncul dari pangkal batang,  sering pula menyentuh tanah. Tidak pernah mengenal musim buah. Selalu ada setiap saat, tapi tidak bisa dimanfaatkan.

Baca Juga :  Harimau Dimata Orang Mandailing

Keunikan pohon Hopong muncul dalam peribahasa masyarakat Batak Angkola. “Disukka-sukka songon manaek hopong” (Dipaksakan seperti memanjat hopong), yang  maknanya untuk menyebutkan perilaku yang dilakukan tetapi tidak bermanfaat.

Meskipun berada di dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Utara yang sebagian besar penduduknya dominan merupakan masyarakat beradat Batak Toba, tetapi masyarakat Hopong justru beradat Batak Angkola. Bahasa daerah yang dipergunakan warga Hopong merupakan gabungan dua bahasa daerah, Batak Toba dan Batak Angkola. Perbedaan kedua bahasa daerah ini hanya pada dialek, tak terlalu berpengaruh pada makna.

Sebelum  otonomi daerah, Hopong adalah wilayah administrasi pemerintahan desa  yang  otonom. Wilayahnya mencakup perkampungan Lumban Garaga, Hapundung, dan Panongkalan.  Tiga perkampungan itu terbentuk  belakangan,  dibangun oleh  masyarakat dari Hopong, dan dikenal sebagai perkampungan panjaean (perpindahan).  Perkampungan baru  itu erat kaitannya dengan  factor budaya yakni tradisi manjae.

Manjae adalah tradisi  pindah  rumah,  biasanya diperuntukkan kepada pengantin baru.  Setelah  membentuk rumah tangga baru, pasangan suami-istri wajib tinggal bersama orang tua dari  pihak laki-laki sambil belajar tentang cara membangun rumah  tangga. Setelah pihak orang tua laki-laki mengajari pengantin baru dan meyakini bahwa pasangan suami-istri itu akan mampu mandiri, maka diputuskan agar pasangan baru itu manjae.

Kata manjae berasal dari kata dasar jae  yang artinya “ilir”. Imbuhan man pada kata jae  dalam bahasa Batak Angkola berarti pergi atau diberangkatkan ke “ilir”. Sedangkan rumah orang tua laki-laki berada di ulu. Jadi, manjae adalah tradisi dalam lingkungan budaya Batak Angkola yang mengharuskan  rumah tangga baru untuk hidup mandiri sebagai keluarga baru.

Sebelum  tradisi manjae dilaksanakan, terlebih dahulu disiapkan rumah untuk pengantin baru. Penyiapan rumah diawali dengan penentuan  lahan untuk lokasi pembangunan  rumah. Pada masa lalu,  lahan yang dipersiapkan itu harus lokasi baru dengan asumsi kelak lokasi itu akan menjadi perkampungan baru. Biasanya lokasi baru itu dikaitkan dengan tingkat kesuburan tanah yang ditandai dengan penanaman  burangir (sirih). Jika sirih bisa tumbuh di lahan tersebut, maka lahan itu bisa ditanamai tanaman budidaya untuk mata pencaharian calon penghuni baru.

Setelah lokasi ditentukan, maka rumah bagi pengantin baru itu dikerjakan secara gotong royong. Setelah selesai, pengantin baru dibawa ke rumah baru itu. Digelar tradisi masuk rumah, biasanya dilaksanakan sebelum matahari terbit. Masuk rumah ditandai dengan acara manyantan—memakan dan menaburkan santan yang dimasak dengan gula aren (semacam tepung-tawar dalam tradisi Melayu). Selesai acara itu,  keluarga baru calon penghuni rumah dipersilahkan masuk ke rumahnya.

Rumah-rumah tempat manjae (panjaean) itu kelak semakin banyak dan akhirnya terbentuk sebuah perkampungan baru. Perkampungan ini menjadi bagian dari Hopong. Sebab itu, sebelum otonomi daerah,  seluruh wilayah yang ada di sepanjang jalan menuju Hopong disebut Hopong.

Nama Hopong juga dikenal warga di luar Dusun Hopong.  Warga Desa Rambasihasur,  yang ada di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan,  misalnya. Warga  Desa Rambasihasur sering pergi ke Desa Hopong dengan jalan kaki, menembus kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok. Begitu juga sebaliknya, warga Desa Hopong acap berkunjung ke Desa Rambasihasur. Waktu normal yang dibutuhkan warga cuma 2-3 ja.

Kedua desa ini, meskipun berada di dua kabupaten berbeda, masih memiliki hubungan kultural yang erat. Hubungan kultural yang diikat oleh tali persaudaraan semarga. Dusun Hopong  yang dikenal sebagai asal muasal masyarakat bermarga Siagian, rumpun marga dalam masyarakat Batak Toba.  Marga Siagian merupakan pendiri Dusun Hopong, dengan sendirinya seluruh warga dominan bermarga Siagian. Ketika masyarakat Dusun Hopong beranjak dewasa dan hendak melakukan ikatan pernikahan,  baik laki-laki maupun perempuan, mereka harus mencari jodoh dari orang  yang bukan bermarga Siagian. Perkawinan satu marga merupakan pantangan yang melanggar hukum dan nilai-nilai adat. Pelakunya akan mendapat ganjaran berat.

Sebab itulah, pemuda bermarga Siagian dari Dusun Hopong akan mencari jodoh di luar daerahnya. Desa Rambasihasur salah satu desa terdekat dari Desa Hopong, dan masyarakat di Desa Rambasiharus merupakan masyarakat marga yang dominan bermarga Siregar. Perkawinan pun terjalin antar warga Dusun Hopong dengan warga Desa Rambasihasur, dan hubungan tali persaudaraan yang diikat oleh hubungan pernikahan membuat masyarakat kedua desa itu bersikunjungan.

“Kalau ada acara siluluton (kematian) atau acara siriaon (pesta pora seperti pernikahan) di Hopong, warga Rambasihasur akan berangkat beramai-ramai ke sana melalui cagar alam. Begitu juga sebaliknya,” kata Ucok.

Ucok Siregar, yang lahir dan menetap di Desa Rambasihasur, sering pergi ke Hopong untuk mengunjungi ompung (kakek),  orang tua dari ibunya. Ayahnya bermarga Siregar,  menikahi seorang gadis dari Hopong.  Sebab itu, melintasi Cagar Alam Dolok Sipirok dalam rangka bersilaturahmi, sudah dilakoni masyarakat Desa  Rambasihasur  maupun Hopong selama ratusan tahun.  Bahkan, warga sering harus melintasi cagar alam itu pada malam hari jika ada keperluan yang mendesak.

Baca Juga :  DI UJUNG NGOLU NI NATUA-TUA

 

Konflik dengan Satwa

Dusun Hopong  dihuni sekitar 40 kepala keluarga. Sebagian besar bekerja sebagai peladang dan membudidayakan padi gogo. Padi di  lahan kering ini satu-satunya andalan masyarakat, panen sekali dalam waktu enam bulan. Hasil panen ini jadi bekal hidup mereka selama setahun. “Kami juga menanam kopi,coklat, dan tanaman produksi lainnya. Tapi tidak pernah memanen hasilnya, karena habis dimakan Beruk, Monyet, dan Orang Utan,” kata Basanah Boru Rambe.

Dusun Hopong berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok. Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan KeputusanMenteri Pertanian No. 2669/Kpts/Um/14/1982,  membentang seluas 6.970 ha. Sebagain kecil wilayahnya berada  di Kecamatan Simangumbang, Kapupaten Tapanuli Utara,  sisanya berada di wilayah Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Ke dusun ini acap datang Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Utara, terutama petugas Pam Swakarsa. Selain untuk mensosialisasikan program-program pelestarian lingkungan cagar alam, kunjungan itu juga untuk mengantisipasi hadirnya pelaku pembalakan hutan dan perburuan  liar.  Petugas BKSDA Sumatra Utara membagi-bagikan poster berisi potret berbagai  jenis fauna langka  seperti Orang Utan, Trenggiling, Harimau, Landak, Rusa, Kijang, Kambing Hutan, Tapir, Pelanduk, dan sebagainya.

Meskipun kampanye terus berlangsung,  pelaku  pembalakan liar sering keluar-masuk kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok melalui Dusun Hopong.  Tapi, lantaran Hopong merupakan daerah tertinggal dan Negara nyaris tidak pernah hadir di tempat ini, para pelaku pembalakan liar sangat leluasa. Truk-truk milik pembalak liar masuk ke Hopong, lalu keluar membawa kayu  yang ditebang di dalam kawasan cagar alam.

Aksi pembalak liar yang begitu leluasa, dan mengganggu habitat flora dan fauna di dalam kawasan cagar alam.  Cagar Alam Dolok Sipirok merupakan hutan lebat dengan vegetasi yang sangat rapat. Variasi jenis pohon-pohon beragam  ukuran sampai yang berdiameter satu setengah meter, tapi jumlahnya sudah jarang.  Hal yang tak biasa ditemukan di dalam kawasan ketika pohon berdaun jarum tumbuh bersamaan dengan pohon berdaun lebar.  Biasanya, kedua jenis pohon ini saling mengalahkan. Pohon-pohon yang bisa ditemui di dalam kawasan seperti Meranti Bunga (Shorea parvifolia), Kenari (Canarium), Malu Tua (Tristia sp),  Rotan (Calamus Manau), Anggrek (Bulbophylum), Kantong Semar (Nephenthes sp),  Pandan (Pandanus sp), Pinus (Pinus merkusii), Sampinur Bunga (Podocarpus imbricatus), Sampinur Tali (Dacrydium junghuhnii),  Kemenyan (Styrax sp), Hoteng (Quercus sp), Haundolok (Eugenia sp) dan sebagainya.  Sedangkan fauna yang bisa dijumpai seperti burung Poksai jambul putih (Garrulax leucophus), Poksai hitam,  Poksai kacamata merah, Murai hijau, Murai janggut,  Julang, Kutilang emas, Pergam, Perkutut, dan lain-lain. Ada juga  Siamang (Symphalangus syndactylus),  Kambing hutan (Capricornus sumatrensis), Harimau Sumatra (Pantheratigris sumatrae), dan Orang Utan Sumatra (Pongo abelii).

Cagar Alam Dolok Sipirok satu dari sedikit kantong di Pulau Sumatra yang merupakan habitat Orang  Utan Sumatra.  Hal ini  diakui Nasir Siregar,  yang ikut dalam EMAS III. Dia adalah petugas Pam Swakarsa Cagar Alam Dolok Sipirok  yang diangkat BKSDA Sumatra Utara karena perhatiannya sangat tinggi terhadap Orang Utan Sumatra, biasa disebut Mawas.  Karena Nasir Siregar sangat menguasai  pola hidup Orang Utan  Sumatra yang ada di dalam  Cagar Alam Dolok Sipirok, para aktivis lingkungan hidup yang sering meminta jasanya untuk meneliti Orang Utan memanggil Nasir Siregar sebagai Nasir Parmawas. “Habitat Orang Utan di dalam kawasan cagar alam mulai terganggu,” kata Nasir Parmawas.

Basanah Boru Rambe mengatakan,  terganggunya habitat Orang Utan di dalam kawasan cagar alam mebuat fauna itu sering masuk kampong.  Tidak jarang Orang Utan mengambil hasil kebun seperti kopi, coklat, dan buah-buahan. Akibatnya, warga Hopong tidak bisa mengandalkan hasil kebunnya. Sebab itu, warga Hopong berharap agar konflik warga dengan Orang Utan atau dengan fauna yang ada dalam kawsan Cagar Alam Dolok Sipirok segera dicarikan solusinya. Harapan itu disampaikan kepada rombongan ekspedisi, yang berjanji akan menyampaikannya kepada BKSDA Sumatra Utara.

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut - lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.

Budi Hatees dapat dihubungi lewat Email: budi.hatees@gmail.com.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. mohon info apakah di cagar alam dolok sipirok ini masih ada habitat satwa trenggiling…mohon infonya ya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*