Empat Mayat Ditemukan Lagi – Total Korban ALS 19 Orang

Tim evakuasi kembali menemukan empat penumpang ALS yang tewas, Senin (27/6). Keempatnya, Dinda Pratiwi (5), Rizki Anugrah (5), Popy Mustika Rani (12), dan Rahayu (31). Maka total korban yang tewas dalam bus naas itu berjumlah 19 orang, empat laki-laki dan 15 perempuan. Jumlah itu sesuai dengan laporan yang masuk ke tangan polisi.

Dinda Pratiwi (5) warga Bengkulu, ditemukan mengambang sekitar pukul 09.00 WIB sebelum tim melakukan penyisiran. Rizki Anugrah (5) warga Rao Sumbar ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB dan Popy Mustika Rani (12) warga Lubuk Pakam sekitar pukul 12.00 WIB melalui penyisiran tim dari Brimob Detasemen C Polda Sumut. Terakhir, Siti Rahayu (30) warga Lubuk Pakam ditemukan sekitar pukul 19.00 WIB. Setelah dievakuasi, keempat mayat langsung dibawa ke RSUD Tapsel.
Kemarin, keseluruhan mayat dijemput keluarga masing-masing. Dan, keempat mayat yang ditemukan Senin (27/6) juga telah diberangkatkan setelah terlebih dahulu disalatkan di Masjid Sri Alam Dunia Sipirok Godang, Kecamatan Sipirok, Tapsel.

Kekurangan Oksigen
Seluruh korban tewas diakibatkan kekurangan oksigen. Hal ini ditegaskan dokter RSUD Tapsel dr Eti dan dr Sriwati, kepada METRO, Senin (27/6), di Ruang IGD RSUD Tapsel. “Menurut hasil pemeriksaan yang kami lakukan, sebagian korban memang ada mengalami luka gores dan luka memar. Itu tentu akibat benturan dan seripihan kaca. Namun, tidak lah menjadi penyebab kematian bagi mereka. Kami pastikan secara keseluruhan korban tewas karena tenggelam di dalam bus sehingga kekurangan oksigen,” beber keduanya.

Ditambahkannya, seluruh korban sudah teridentifikasi sesuai dengan keterangan para keluarga yang menunggu. “Sudah diidentifikasi dan bagi yang beragama Islam sudah dimandikan, bahkan disalatkan di masjid terdekat. Selanjutnya, dibawa pulang oleh keluarga masing-masing,” kata mereka. Sebelumnya, Heri (33), warga Desa Sahmat Lubuk Pakam, adik ipar Siti Rahayu (31) korban terakhir ditemukan, kepada METRO mengatakan, mereka mengetahui kejadian naas yang menimpa keluarganya melalui salah satu korban selamat Dona atau Nenang (12).

“Dia anak abang saya Dedi (38) yang tinggal di Bengkulu. Rencananya mereka mau pindah ke Bengkulu karena abang telah mendapat kerja di sana. Namun, ia malah menelpon saya dan minta jemput karena mereka terjatuh. Kami sudah bermalam di depan masjid sebelum kakak dan keponakan saya ditemukan,” katanya. Dikatakannya, mereka menyayangkan upaya evakuasi yang terkesan lamban, sudah pukul 08.30 belum ada upaya pencarian. Lama sekali kakak iparku di dalam telaga itu, sebentar lagi abang (suami Siti Rahayu) datang ke mari,” tandasnya sambil menitikkan air mata.

Korban Dapat Santunan Rp25 Juta
Jumlah korban penumpang ALS BK 7088 DL yang tewas di Aek Latong sebanyak 14 orang dipastikan semuanya mendapat santunan dari PT Jasaraharja Sumut masing-masing sebesar Rp25 juta. Hal ini ditegaskan Kabag Pelayanan Jasaraharja Sumut Haryo di ruang kerjanya, Senin (27/6).

Dalam pemberian santunan korban meninggal dunia, kata Haryo, paling lama diberikan dalam sepekan ini. Santunan tersebut akan diberikan kepada ahli waris korban sesuai UU No 34 tahun 1964. “Yang dimaksud ahli waris dalam hal korban meninggal dunia, yaitu, janda atau dudanya yang sah, dalam hal tidak ada janda/dudanya yang sah, kepada anak-anaknya yang sah. Dalam hal tidak ada janda/dudanya dan anak-anaknya yang sah kepada orangtuanya yang sah,” kata Haryo.

Haryo juga menegaskan, pemberian santunan itu semuanya akan diberikan kepada ahli waris tanpa membedakan si korban memiliki tiket atau tidak memiliki tiket bus. “Semua korban kita berikan santunan kepada ahli warisnya. Kami tidak memandang si korban memiliki tiket bus atau tidak sebagai penumpang bus tersebut. Ini sesuai dengan UU No 34 Tahun 1964 Jo PP No 18 Tahun 1965,” tegasnya.

Pelayat Iringi Kepergian Nenek dan Cucu
Ratusan pelayat mengiringi kepergian Dahniar dan cucunya Asyifa Azahra (Sifa) kepemakaman muslim Jalan badi, Medan Tembung, Senin (27/6). Dahniar dan cucunya, merupakan penumpang bus ALS yang tewas. Kedua orang tua Sifa, Alseprijal Chandra dan Andriwati tak kuasa menahan air mata di pusara anak bungsu mereka. Kesedihan bahkan sangat dirasakan Julika, kakaknya Sifa bocah kelas dua sekolah dasar. Gadis kecil ini terus memandangi makam adik yang dikasihi sambil sesekali memegangi nisan dengan berurai air mata. Lisa (10) satu dari korban yang selamat dalam peristiwa terbaliknya bus ALS itu.

Baca Juga :  Kantor Bupati Padang Lawas Sepi, Bupati, Wabup dan Sekda Tak Ngantor?

Di rumah duka, Alseprijal menuturkan, sebelumnya ia memang tidak ingin kedua anaknya untuk ikut ke Padang Pariaman dengan kedua orang tuanya. “Gak enak juga perasaan kalau anak saya pergi dengan ayah dan ibu karena saat itu ibu lagi sakit. Tapi ini saya bilang dengan mamak sambil seloroh saja,” kata Alsaprijal. Bahkan, usai salat Jumat, ia datang ke rumah orang tuanya di Jalan Bhayangkara untuk melihat kedua anaknya sebelum berangkat sore hari. “Saya sempat memvideokan Julika dan Syifa. Mereka memang suka difoto dan untuk didokumentasikan di handphone. Sebelumnya Alsaprijal juga sempat bermimpi menunggangi singa. Akan tetapi perasaan itu hanya dianggap mitos biasa. Saya tidak mengerti apa maksud dari mimpi tersebut,” ujarnya. (ran/ann/ila/mag-7/smg)

Sopir Diburon
Kedua sopir yang berhasil melarikan diri, Unggul dan Rahmad kini dalam pengejaran pihak kepolisian. “Sampai saat ini, sopir bus masih dalam buruan kita,” tegas Kabid Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso. Sementara itu, Humas ALS Alwi Matondang di ruang kerjanya, Jalan Sisingamangaraja, Medan, meminta agar kedua sopirnya menyerahkan diri.
“Sampai saat ini saya belum tahu di mana keberadaan kedua sopirnya. Sopir I, Unggul Syahputra Lubis (28), warga Jalan Sudirman, Kelurahan Lubuk Pakam Pekan, Lubuk Pakam, dan sopir II, Rahmat Hidayat (29), warga Jalan Karya Gang Masjid, Kelurahan Karang Berombak, Medan,” katanya.

Pantuan wartawan Sumut Pos (grup METRO) di loket Bus ALS, Jalan Sisingamangaraja, Senin siang, terlihat warga ramai antre beli tiket untuk keberangkatan Padang, Bukit Tinggi, Pekan Baru, Bengkulu dan daerah lainnya. Iwei Jambak (34), warga Aceh, terkait dengan insiden jatuhnya bus ALS itu mengaku, semua menyerahkan kepada Allah SWT. Diterangkan pria beranak dua itu, ia akan meminta sopir untuk menurunkan penumpang jika melewati daerah terjal atau berbahaya.
“Pas di daerah berbahaya, saya akan meminta sopir untuk menurunkan semua penumpang dan menyuruh bus untuk berjalan duluan dan menunggu kami di depan agar bisa selamat. Kan lebih baik mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

Disinggung mengenai sopir ALS yang masih berusia muda, menurut Iwei Jambak, kalau bisa sopirnya harus berusia sedikitnya 30 tahun ke atas dan mempunyai pengalaman banyak. “Kalau saya pribadi tidak terima dengan sopirnya karena melarikan diri dan masih berusia muda. Seharusnya pihak ALS mencari sopir yang berpengalaman dan sedikitnya berusia 30 tahun ke atas karena lebih berhati-hati dalam membawa bus,” tambahnya. Hal senada juga diucapkan wanita berbaju putih dengan rambut sebahu yang enggan namannya disebutkan. “Kalau saya sih, mendingan saya pilih turun dulu baru di depannya saya naik lagi. Mendingan cari selamat dan cari baik saja,” tuturnya.

Iyut Jambak (56), warga Pulo Brayan Bengkel juga menuturkan yang sama. Diterangkan pria yang mengantarkan sanak keluargannya ini, pihak ALS harus lebih ketat lagi dalam memilih sopir. “Sopirnya itu tidak berpengalaman. Sudah tahu jalan terjal, kan lebih baik dia menurunkan sewanya dulu dan ketika di jalur aman baru sewanya dinaikkan kembali,” ungkapnya sambil berlalu pulang. (jon)

10 Jenazah Tiba di Medan
Jenazah korban kecelakaan maut bus ALS di Aek Latong Tapanuli Selatan pada Minggu (26/6) dini hari lalu yang dijanjikan sampai di PT ALS Jalan Sisingamangaraja, Medan Minggu (26/6) sore baru sampai di lokasi Senin (27/6) sekira pukul 10.35 WIB.

Baca Juga :  11 Bupati dan Walikota Pemenang Pilkada di Sumut Serentak Dilantik Agustus

Sepuluh jenazah yang dibawa ke PT ALS dengan menggunakan enam unit ambulans RS Umum Sipirok masuk beriringan tepat pada pukul 10.35 WIB. Namun, iringan ambulans yang pertama hanya datang lima unit dengan sembilan jenazah. Sedangkan jenazah terakhir datang dengan satu unit ambulans lagi sekira pukul 11.17 WIB. Masing-masing ambulans tersebut memiliki plat kendaraan BB 161 F yang berisikan jenazah Desi Trifona dan Rendi. BB 241 G, Kumala Sari dan Husni Amaliyah. BB 190 F Yuni Sipiani dan Dimas. BB 211 F Assifa Azhara dan Dahniar dan BB 221 F Rohana. Sedangkan ambulans terakhir yakni BK 9830 H berisikan Trisnawati.

Pantauan Sumut Pos (grup METRO) di PT ALS, saat kedatangan jenazah, di dalam ambulans jenazah telah dikafani. Humas PT ALS Alwi Matondang mengatakan, sebelum diberangkatkan jenazah sudah dimandikan, dikafani, dan disalatkan di RS Umum Sipirok.

Hanya berselang delapan menit, atau tepatnya sekira pukul 10.43 WIB, kesembilan jenazah yang datang lebih awal dengan lima unit ambulans itu langsung diberangkatkan ke rumah duka. Anggota keluarga yang menunggu dengan cemas sebelum kedatangan jenazah belum sempat meluapkan tangisnya dengan mendalam. “Sudah, langsung antar saja jenazahnya,” ujar karyawan PT ALS berulang-ulang kepada sopir dan anggota keluarga yang sempat histeris melihat jenazah. Menurut Alwi, jenazah yang didatangkan ke PT ALS tersebut merupakan jenazah yang berdomisili di Medan dan Deli Serdang. Sedangkan jenazah yang berdomisili di Pasaman, Padang dan Bengkulu telah langsung di antar ke rumah duka pada Minggu (26/6) malam.

Sementara itu, keluarga korban Trisnawati yang sejak Minggu (26/6) siang sudah menunggu di PT ALS semakin cemas karena jenazah belum sampai juga. “Katanya kemarin sudah duluan berangkat. Ini koq malah yang terakhir,” ujar Reza anak sulung korban.

Ambulans dengan plat kendaraan BK 9830 H yang membawa jenazah Trisnawati akhirnya sampai di PT ALS sekira pukul 11.17 WIB. Seluruh anggota keluarga yang datang ke PT ALS langsung berteriak histeris. Bahkan anak sulung Trisnawati, Ardiansyah, yang menjadi lokasi tujuan berangkatnya ia dari Medan juga telah tiba dan bersama-sama menangisi jenazah dengan histeris. Dan hanya berselang empat menit, anggota keluarga langsung membawa pulang jenazah ke rumah duka.

Sebelumnya, menurut Reza, ada anggota keluarga yang bertepatan akan pergi ke Padangsidimpuan pada Minggu (26/6) malam. “Mereka sudah sampai di lokasi kejadian, namun, oleh pihak PT ALS di lokasi tak membolehkan membawa jenazah ibu. Tak ada alasan jelas yang mereka utarakan mengapa pihak keluarga tak boleh membawa jenazah pulang ke rumah duka,” tegasnya.

Dengan kematian sang ibu, secara pribadi Reza mengaku akan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini. “Karena menurut saya itu adalah kelalaian kerja. Maka, saya akan menempuh jalur hukum, saya menuntut PT ALS bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Saya juga tahu yang memiliki saham yang juga pemilik unit bus ALS dengan plat kendaraan BK 7088 DL dengan nomor pintu 90 ini, yakni Syafruddin Lubis atau sering dipanggil ‘Ucok’,” ungkapnya. (saz)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*