ENAM PANTANG DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN DI TAPANULI SELATAN

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *) sohibul ENAM PANTANG DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN DI TAPANULI SELATAN

Menjauhkan keenam pantang ini akan menjadi kampanye efektif 5 tahun yang membuatnya menjadi figur dengan popularitas dan elektibilitas yang tidak tertandingi oleh siapa pun. Kepastian lainnya, kelak money poltics bakal tidak laku (lagi) berhubung rakyat sudah merasakan nikmatnya dipimpin oleh seorang Bupati dan Wakil Bupati yang penuh keimanan dan kesalehan.

Tak lama setelah dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) periode 2005-2010, sekitar bulan Januari 2006, Ongku Parmonangan Hasibuan dan Aldinz Rapolo Siregar mengadakan sebuah pertemuan yang menghadirkan tokoh-tokoh asal Tapsel yang berdomisili di Medan dan sekitarnya.

Pertemuan yang berlangsung di sebuah hotel berbintang di Medan itu kurang lebih ingin menghandle “karpet rekonsiliasi” pasca pemilukada untuk maksud mendulang dukungan luas atas pemerintahan yang akan dijalankan, sekaligus meminta masukan dari para tokoh. Memang saat itu, kecuali diskusi aneka sudut pandang tentang ekonomi dan pembangunan secara umum, terasa begitu mencuat pembicaraan mengenai pendidikan.

Setelah pertemuan ini pertemuan-pertemuan lain pun dilaksanakan di kota Padangsidempuan yang di antaranya pernah menghasilkan sebuah program yang kurang relevan, atau setidaknya bukan prioritas sama sekali: perpustakaan keliling. Apa pun pandangan tentang itu tentu masih harus dinyatakan sebagai niat baik menandai besarnya perhatian terhadap pendidikan, yang diharapkan berubah dengan kecepatan tertentu di tangan kedua pemimpin puncak hasil pilihan langsung pertama (2005) itu.

Esok harinya seorang jurnalis mewawancarai saya seputar pertemuan itu. Saya pun menghindar dari topik lain kecuali pendidikan. Sore ini saya baca ulang arsip wawancara yang saya klipping. Saya merasa apa yang saya kemukakan kepada jurnalis itu masih amat relevan dikemukakan kepada Syahrul M Pasaribu dan Aldinz Rapolo Siregar yang baru saja memenangi pemilukada Tapsel dengan mengalahkan Ongku Parmonangan Hasibuan dan pasangannya.

Sebagaimana halnya amat diharapkan kepada Ongku Parmonangan Hasibuan dan Aldinz Rapolo Siregar tempohari, saya yakin benar begitu pentingnya kepemimpinan Syahrul M Pasaribu dan Aldinz Rapolo Siregar benar-benar memberi perhatian kepada pendidikan dalam kepemimpinan mereka 2010-2015. Untuk itu ada sekian banyak pantang yang harus dijaga ketat yang dapat direduksi kepada 6 pantang saja. Di antara keenam pantang itu ada yang sifatnya sekadar variable antara namun berkedudukan penting. Diketahui bahwa pendidikan tidak pernah berada pada ruang vakum karena kenyataannya memang dipengaruhi sekaligus mempengaruhi sektor-sektor lain.

Big Jump (Lompatan Besar)

Keenam pantang itu ialah pertama, tak memberi alokasi kebijakan yang proporsional untuk pertanian. Jangan sampai Bupati dan pejabat terkait tidak memiliki data up to date tentang kondisi petani, data lahan dengan segenap kondisinya, irigasi, sarana produksi, pemasaran dan potensi adaptif terhadap teknologi. Kenyataannya mayoritas warga adalah petani (PDRB terbesar daerah ini berasal dari pertanian) yang bermakna tanpa memajukan sektor ini tidak mungkin berharap ada peningkatan investasi sosial terhadap pendidikan. Pendidikan tidak usah dibayangkan sebagai kewajiban mutlak pemerintah saja hingga 100 % disubsidi.

Pantang kedua, membiarkan masih adanya kecamatan yang belum bisa diakses oleh angkutan barang dan hasil bumi lainnya sekaligus teknologi komunikasi modern khususnya internet. Tanpa prasarana ini kemajuan yang mendasari investasi untuk pendidikan akan sulit terjadi. Dalam kaitan inilah gagasan pengadaan mobil unit perpustakaan keliling dianggap sebagai bukan prioritas karena faktanya Tapsel itu adalah kabupaten desa yang masih rendah mobilitas dan di tengah wilayahnya yang luas sedikit sekali tempat yang dapat diakses oleh program perpustakaan keliling.

Pantang ketiga, sekolah kekurangan guru. Guru menjadi faktor utama kemajuan pendidikan, bukan bangunan. Mungkin terlalu ekstrim mengatakan bahwa di bawah pepohonan juga interaksi belajar mengajar dapat menghasilkan prestasi besar meskipun kita tidak memaksudkan pengalihan anggaran perbaikan atau pengadaan gedung sekolah ke pos lain atau ditiadakan sama sekali. Permasalahan guru cukup kompleks di negara berkembang, mulai dari kecukupan secara kuantitatif sampai kecukupan secara kualitatif. Sering terjadi suatu daerah memiliki rasio yang ideal antara jumlah murid dan guru beserta pos-pos sesuai mata pelajaran namun pendidikannya tidak maju. Kemungkinan besar disebabkan oleh kompetensi yang dikalahkan oleh hasrat perolehan promosi kepangkatan secara administratif belaka. Pangkat yang tinggi tidak selalu menjadi jaminan bagi kompetensi dan pada umumnya manajemen pendidikan yang rendah bertanggungjawab untuk masalah ini. Untuk menyebut sebuah contoh amat sederhana, marilah secara jujur kita bertanya, bahwa jika seorang murid belajar bahasa Inggeris mulai dari kelas I SMP sampai kelas III SMA dan tidak bisa berbahasa Inggeris, maka pelajaran apa lagikah yang lebih sulit dari pelajaran ini hingga 6 tahun tak menghasilkan apa-apa? Atau gurumanakah yang paling rendah prestasinya selain guru bahasa Inggeris ini? Interaksi belajarnya sudah barang tentu tidak pas, konvesnional dan oleh karena itu perlu direvisi. Bahkan jika perlu dari Tapsel muncul gagasan revisionis untuk perubahan metodologis yang patut diadopsi oleh Mendiknas RI.

Baca Juga :  Sidimpuan menuju kota Perdagangan

Pantang keempat, masjid tidak memiliki jama’ah tetap terutama untuk sholat shubuh, maghrib dan isya (sholat lainnya mungkin terlaksana di sekitar pekerjaan di ladang, di rumah atau di tempat persebaran mencari nafkah). Selain sholat Jum’at, jika masih terdapat jumlah jama’ah sekitar 30 % dari komunitas Islam setempat, itu suatu kondisi kategori bagus. Hal itu harus ditargetkan untuk semua mesjid yang ada dan terus ditingkatkan.

Sepintas hal ini tidak terkait dengan masalah peningkatan pendidikan, akan tetapi faktor ini amat menentukan. Lagi pula sampai saat ini Tapsel belum memiliki solusi tepat untuk meningkatkan religiousitas yang menurut banyak kalangan secara terus menerus mengalami degradasi. Pemerintah biasanya hanya mampu menyintuh program-program seremonial yang kurang substantif.

Dalam pemilukada Tapsel 2010 kalau tidak salah tak seorang pun calon yang beragama selain Islam. Pertanyaanya, mampukah pasangan terpilih Syahrul M Pasaribu dan Aldinz Rapolo Siregar menjadi imam dan khatib di setiap Jum’at, dan apakah ini dianggap aneh oleh mereka berdua atau oleh masyarakat? Hal ini penting karena paternalisme masih kuat, bahwa jika seorang Bupati dan Wakilnya menjadi imam dan khatib serta mampu memimpinkan pelaksanaan ibadah khas lainnya tentu luar biasa besar pengaruhnya kepada kema’muman, keimaman dan kejama’ahan masyarakat secara menyeluruh.

Tentulah tidak boleh ada keraguan akan kemungkinan munculnya kecurigaan atau bahkan resistensi umat lain, sebab ini tak lebih dari pengamalan hidup bernegara dan bermasyarakat sesuai ajaran Pancasila. Jangan khawatir akan dituduh sedang mendirikan negara Islam. Tidak sedangkal itu. Kerukunan antar dan intern umat beragama malah pasti sangat tergantung kepada kualitas pemahaman dan pelaksanaan terbaik dari agama (agama apa pun itu) yang dianut oleh setiap orang. Jangan pula ada kekhawatiran seujung rambut pun bahwa jika beriman sebaik-baiknya dan saleh sebaik-baiknya akan dengan sendirinya menempatkan diri secara diametral dengan adat. Tidak sama sekali.

Pantang kelima, pejabat terindikasi korupsi berkeliaran. Dalam arti luas jika nanti pada pemerintahan Syahrul M Pasaribu dan Aldinz Rapolo pejabat terindikasi korupsi dibiarkan berkeliaran seperti pada umumnya merajalela di Indonesia, sebetulnya basis pendidikan telah diinjak-injak. Pendidikan itu bermodal-utamakan nilai kejujuran dan satunya kata dan perbuatan. Memang susah jika kedua tokoh politik yang baru terpilih ini doyan korupsi. Dalam kondisi seperti itu, pengkhianatan terhadap pendidikan telah dilakukan oleh orang yang harusnya dijadikan panutan dan yang proses rekrutmennya telah menghabiskan biaya besar.

Baca Juga :  MELIRIK PRIORITAS KERJA BAGI BUPATI YANG BARU DI TAPANULI SELATAN

Pantang keenam, yang terakhir, judi. Judi itu salah satu musuh utama pendidikan. Dalam bentuk apa pun harus dihabiskan tanpa ampun. Jangan ada yang mencoba-coba merancang uang masuk dari judi, pejabat apa pun itu. Kenanglah Sutanto soal kinerja pemberantasan judi, dan Bupati/Wakil Bupati pasti dapat melakukan apa yang dikerjakan oleh Sutanto meski kedua pemimpin ini tidak jenderal polisi.

Sebetulnya masih banyak pantangan lain yang secara kumulatif harus dikembangkan sesuai progress yang diperoleh jika Tapsel ingin maju dengan big jump (lompatan besar). Namun keenam pantang itu amat cukup memadai dan jika dijalankan diyakini akan menghasilkan suatu perubahan yang benar-benar luar biasa dan tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dalam kurun waktu 2 tahun pertama hasilnya sudah pasti dapat dirasakan semua pihak.

Kampanye Efektif 5 Tahun

Bukan tidak dirasakan tebaran kemaksiatan lain seperti kebiasaan minum-minuman keras, narkoba yang melanda generasi muda, prostitusi bertameng hiburan dan wisata, dan lain-lain. Semua itu dengan sendirinya akan tergusur tatkala perkuatan sistem sosial telah mulai berjalan dengan resep 6 pantangan itu. Memang, narkoba misalnya, selagi belum ada perbaikan kinerja penegak hukum dan terlibatnya para petinggi pemerintahan dalam kebiasaan memakai, sesuatu apa pun sungguh amat tidak mungkin dilakukan.

Juga tentang kebiasan minum-minuman keras yang sudah pada tingkat amat mengkhawatirkan. Jangan sampai jumlah pakter tuak di kota Tarutung lebih sedikit dari jumlah kedai yang sama di kota Padangsidimpuan. Ungkapan terakhir ini amat sangat berat diajukan, tetapi rasanya begitu penting.

Adalah amat manusiawi jika Syahrul M Pasaribu sejak awal bercita-cita menjabat Bupati untuk 2 periode. Akan halnya Aldinz Rapolo Siregar yang sudah menjabat Wakil Bupati untuk 2 periode memang amat perlu pula dipikirkan bagaimana baiknya ke depan. Hanya saja perlu dijaga agar pasangan ini tidak mengulangi disharmoni kepemimpinan semasa Ongku Parmonangan Hasibuan dan Aldinz Rapolo Siregar.

Menjauhkan keenam pantang ini akan menjadi kampanye efektif 5 tahun yang membuatnya menjadi figur dengan popularitas dan elektibilitas yang tidak tertandingi oleh siapa pun. Kepastian lainnya, kelak money politics bakal tidak laku (lagi) berhubung rakyat sudah merasakan nikmatnya dipimpin oleh seorang Bupati dan seorang Wakil Bupati yang penuh keimanan dan kesalehan.

Kedua pemimpin ini tentu amat sadar bagaimana persepsi publik terhadap kepemimpinan yang dihasilkan oleh pemilukada sejak tahun 2005. Berjanjilah kepada diri sendiri agar menjadi panutan, tidak sekadar pemegang mandat dan legitimasi politik formal yang tak memiliki missi kekhalifahan.

*) Penulis: Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*