Fakta Baru; Teroris Kelompok Bersenjata Sumut Dikendalikan dari Lapas Siantar

6779084cb15c2cb3dc317b2e682b1044cf931d5 Fakta Baru; Teroris Kelompok Bersenjata Sumut Dikendalikan dari Lapas Siantar Pengungkapan jaringan teroris sekaligus perampok bersenjata di Sumatera Utara (Sumut) menemukan fakta baru. Setelah mengumumkan Abu Tholut di balik aksi itu, kini polisi memunculkan figur Toni Togar sebagai pengendali aksi terorisme.

Pria bernama asli Indra Warman ini adalah narapidana kasus terorisme dan sejumlah perampokan bersenjata tahun 2003 yang sudah divonis 20 tahun penjara, dan mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pematangsiantar. Peran Toni adalah sebagai konsultan sekaligus penasihat jaringan perampok di Medan itu.

“Dia ini menjadi inspirator bagi kelompok itu. Sebagai amir mujahidin Indonesia,” kata Jenderal Bambang Hendarso Danuri di Mabes Polri kemarin (25/10). Kapolri yang besok pagi akan resmi menyerahkan tongkat komandonya pada Komjen Timur Pradopo itu lantas mengangkat foto Toni Togar yang diapit dua petugas dalam mobil tahanan.

“Hari ini (kemarin, red) sudah dibawa ke Jakarta. Saya sudah koordinasi dengan Menkumham agar diperiksa ulang keterlibatannya,” kata BHD.

Nama Toni Togar ini disebut oleh salah seorang anggota kelompok ini yang berhasil dibekuk oleh Densus 88 Mabes Polri.

“Secara lebih lengkapnya, akan dijelaskan oleh Kapolri yang baru Jenderal Timur Pradopo,” kata mantan Kaditreskrim Polda Jatim itu.

BHD optimistis jaringan ini akan segera terungkap.

“Tugas bagi Kapolri selanjutnya untuk memberantas terorisme sampai akar-akarnya,” tambahnya.

Toni Togar adalah narapidana kasus peledakan sejumlah gereja dan perampokan di kawasan Medan, Sumut. BHD menyebut Toni adalah alumni Ponpes Ngruki, Jawa Tengah.

“Dia pernah menjadi pengajar di Pondok Ngruki,” katanya.

Toni adalah alumni Pesantren Ngruki tahun 1990. Ia menjadi staf pengajar di Ngruki tahun 1990 hingga 1992. Menurut BHD, Toni juga pernah mengikuti pelatihan militer Al Jamaah Islamiyah tahun 1995 di Afghanistan. Toni terlibat peledakan bom di gereja Pekanbaru pada malam Natal tahun 2000, di bawah kordinasi Hambali (sekarang ditahan CIA di Guantanamo).

Pada tahun 2003, Toni ikut merencanakan perampokan Bank Lippo di Medan, sebelum peledakan JW Marriott, Jakarta, pada tahun yang sama. Dalam peledakan JW Marriott, Toni bersama Noordin M Top dan M Azhari terlibat dalam perekrutan dan penggalangan dana. Toni ditangkap bulan Juni 2003 dan dijatuhi hukuman penjara 20 tahun. Awalnya ia mendekam di Lapas Tanjung Gusta Medan. Namun Agustus 2009, karena berbuat onar, ia dipindahkan ke Lapas Pematangsiantar.

BHD juga menyebut nama baru dalam jaringan ini yang masuk dalam DPO (daftar pencarian orang). Yakni, Taufik Marzuki (25) alias Abu Sayyaf alias Abi alias Dik Gam alias Sulaiman Tarmizi. Dia diduga terlibat kelompok teroris di Sumut.

“Ini juga insya Allah segera tertangkap,” katanya.

Alumnus Akpol 1974 itu juga memastikan seluruh jaringan Medan itu saling terkait dengan jaringan Bandung dan jaringan kelompok yang berlatih di Aceh.

“Jadi ini mata rantai yang tidak terputus antara kelompok Bandung, Aceh, sampai Medan,” jelas BHD.

Penyebutan nama Toni Togar ini menunjukkan ketidakjelasan siapa sebenarnya pemegang komando utama kelompok perampok Bank CIMB Medan dan penyerang Mapolsek Hamparan Perak.

Sebelumnya pada 20 September lalu, BHD mengumumkan secara terbuka bahwa pimpinan kelompok ini adalah Abu Tholut, mantan pimpinan matiqi (wilayah) III Jamaah Islamiyah. Abu Tholut diduga sebagai perencana dan inisiator aksi.

Lantas pada 7 Oktober 2010, Kadivhumas Polri Irjen Iskandar hasan bahkan menyebut peran Abu Bakar Baasyir (sudah ditahan) sebagai pemberi semangat kelompok penyerang Polsek Hamparan Perak. Polri menuding Baasyir memimpin pertemuan tertutup di wilayah Hamparan Perak yang diikuti oleh sebagian penyerang yang kini sudah berhasil ditangkap itu.

Sekarang, setelah BHD mengumumkan Toni Togar, polisi berdalih Abu Tholut hanya perencana lapangan.

“Jadi, dia itu kan hanya di lapangan. Toni ini otak intektualnya lah,” kata Kadivhumas Irjen Iskandar Hasan usai BHD memberikan penjelasan.

Iskandar menjelaskan, Toni ini diduga berkoordinasi dengan telepon genggam milik sipir dalam penjara. “Saya dengar dia sempat pinjam Hp sipir untuk komunikasi dengan kelompoknya. Mudah-mudahan itu tidak benar,” katanya.

Mantan Kapolda Bangka Belitung itu menjelaskan, pemeriksaan Toni Togar akan dilakukan oleh Densus 88 Mabes Polri.

“Tentu akan berkoordinasi dengan pihak lain seperti Kementrian Hukum dan HAM sebab itu (napi) kan sebenarnya dalam pengawasan mereka,” katanya.

Menurut Kadivhumas Irjen Iskandar Hasan, komando terorisme dari dalam penjara itu terjadi karena minimnya pengawasan di internal LP. “Tapi, itu sebenarnya sudah di luar kewenangan kami (polisi),” katanya.

Secara terpisah, sumber Jawa Pos di lingkungan anti teror menyebut kehebatan kelompok ini karena sudah berhasil meleburkan gerakan secara lintas tanzhim (kelompok). “Pada era Bom Bali 1 sampai Bom Marriott 2003, masing-masing masih egois berada dalam bendera kelompoknya, sekarang ini sudah melebur,” katanya.

Perwira menengah itu menyebut, cara seperti ini dilakukan faksi-faksi jihad yang sampai sekarang masih bergerilya di Afghnistan. “Ketika satu anggota sebuah organisasi ditangkap misalnya, mereka bisa meyebut anggota organisasi yang lainnya untuk mengecoh penyelidikan. Padahal simpulnya sama,” katanya.

Toni Togar misalnya dikenal sebagai faksi Noordin yang setuju dengan aksi peledakan bom. Sedangkan Abu Tholut dikenal sebagai faksi gerilyawan tempur yang sangat tidak sepakat dengan pengeboman karena membahayakan warga sipil yang tidak bersalah. “Sekarang mereka ini sudah menyatu, faksi-faksi itu sudah jadi satu barisan. Ini yang sangat berbahaya,” tambahnya.

Baca Juga :  Poldasu Ungkap Sindikat Pembobol Mesin ATM

Dia menjelaskan, tadi malam, Toni Togar sudah berada di mako Brimob Kelapa Dua Depok dan sudah menjalani pemeriksaan awal. “Kita juga sita barang bukti ponsel dan buku,” katanya. Buku itu digunakan untuk mengirimkan pesan pada jaringannya di luar penjara. Caranya, salah satu anggota kelompok berkunjung sambil membawa buku. Lantas Toni memberikan catatan-catatan dengan sandi di buku yang sama dan dibawa keluar lagi. “Sementara ini, kita memang menduga ada oknum LP yang memfasilitasi,” tambahnya.

Toni terlatih melakukan gerilya perang kota yang digunakan jaringan CIMB Niaga melakukan teknik serangan. “Dia alumni kamp Sadda yang terlatih melakukan serangan pendadakan atau ambush attack,” jelasnya.

Dari catatan Jawa Pos, pada rekonstruksi bulan November tahun 2003, Toni mengakui keterlibatannya dalam sejumlah aksi peledakan gereja.

Dalam rekonstruksi itu, Hambali (diperagakan model), kepala senior operasional jaringan terorisme Jamaah Islamiyah memerintahkan Toni Togar untuk melakukan peledakan di sejumlah gereja di Medan. Setelah mendapat perintah tersebut, Togar bersama Imam Samudra dan Hambali, merakit bom di Kompleks Johor Indah Blok II, Medan, Agustus 2000 lalu. Seusai merakit bom tersebut, ketiganya bersama Yafid Sufaat alias Jo, menyerahkan dua bom kepada Ramli alias Tono di Jalan Eka Bhakti, Gang Pipa.

Selanjutnya, bom tersebut dibawa oleh Ramli bersama rekannya, Ramli alias Gogon, untuk diledakkan di rumah seorang pendeta bernama J Sitorus yang terletak di Jalan Bahagia Bypass, Medan. Satu buah bom diletakkan di pintu rumah, satunya di seberang rumahnya. Kedua bom berhasil meledak, namun tidak ada korban jiwa

Beberapa jam kemudian, Toni dan Yafid yang berboncengan motor meletakkan bom di sebuah mobil Espass bernopol BK 1053 DD, yang dikemudikan Jameson Banjar Nahor bersama tiga rekannya. Saat itu mobil tersebut melintas di Jalan Asrama Haji, dekat tepi Sungai Babura, Medan. Aksi mereka diketahui Jameson sehingga bom tersebut langsung dibuangnya ke Sungai Babura.

Beberapa hari kemudian, Toni dan Yafid kembali melakukan aksinya di Gereja Kemenangan Kristen Indonesia (GKKI), yang terletak di Jalan Sembada, Medan, dengan sasaran Ketua GKKI Benjamin Munte. Keduanya meletakkan bom di pintu gereja dan seberang gereja. Bom berhasil meledak, namun tidak ada korban jiwa. (rdl/jpnn)

Soal Toni Pinjam Hp Sipir

KPLP: Itu Hasil Penyelidikan Polisi

677909097c571f0f410e3c7c700fd3cad1afa34 Fakta Baru; Teroris Kelompok Bersenjata Sumut Dikendalikan dari Lapas Siantar Terkait pernyataan Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) yang menyatakan Toni Togar meminjam handphone (Hp) sipir untuk mengendalikan aksi teroris, Kepala Keamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Pematangsiantar, EP Manik mengatakan, itu merupakan hasil penyelidikan polisi.

“Kalau memang seperti itu pernyataan Kapolri, ya mau bagaimana lagi? Itu kan hasil penyelidikan mereka. Kalau memang benar Toni terlibat, mudah-mudahan bisa dia memberikan informasi supaya terang semuanya,” kata Manik melalui telepon seluler tadi malam sekira pukul 20.45 WIB.

Ketika ditanya sanksi apa yang diberikan kepada sipir yang meminjamkan Hp kepada Toni, Manik menjawab, “Untuk saat ini belum bisa saya jawab. Itu kan sudah masuk wewenang Kepala Lapas,” jelasnya.

Diakui Manik, Toni tidak memiliki Hp. “Kami selalu melakukan razia rutin kepada warga binaan, termasuk Hp. Dari sekian kali razia, tak pernah ada Hp yang ditemukan darinya. .

Sipir Harus Ditindak!

Polisi meminta Kemenkum HAM menindak sipir yang meminjamkan Hp-nya kepada Toni.

“Berarti pengawasan di dalamnya itu (yang lemah). Kalau yang di dalam itu kan bukan urusan polisi, itu urusan teman-teman di Kemenkum. Saya dengar seperti itu, tapi mudah-mudahan nggak benar,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Iskandar Hasan.

Iskandar mengatakan, informasi yang dikumpulkan polisi, Toni memang kerap meminjam Hp sipir penjara. (mag-16/ral/dtc/int)

Dijemput Pukul 06.00

Indra Warman alias Toni Togar alias Hotman alias Hasan alias Abdul Rasyid alias Feri Kurniawan (38), dijemput dari Lapas Pematangsiantar kemarin pagi sekira pukul 06.00 WIB. Ia dijemput 12 personel Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, yang sebagian berpakaian lengkap dan sebagian mengenakan pakaian sipil, menggunakan tiga unit mobil Kijang Innova. Di mobil, Toni duduk di bangku tengah. Tangannya diborgol.

Kalapas Kelas II/B Pematangsiantar, Yoseph Sembiring BcIP SH melalui Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), EP Manik Amd IP SH MH, kemarin membenarkan penjemputan seorang narapidananya dari Lapas, Senin (25/10) pukul 06.00 WIB.

Diterangkan Manik, pihaknya memeroleh informasi dari petugas Densus 88 bahwa narapidana yang mempunyai 12 nama alias itu langsung diboyong menuju Lapas Nusa Kambangan.

Disebutkan Manik, tiga personel Densus 88 berpakaian sipil, begitu turun dari mobil, langsung masuk ke Lapas bersama Kalapas Joseph Sembiring. Mereka menuju sel Toni. Sementara personel Densus 88 lainnya, tetap berada di dalam mobil Kijang Innova.

“Kalau yang di dalam mobil Kijang Innova, berpakaian dinas dan bersenjata laras panjang. Saya melihat dari luar mobil,” jelasnya.

Selama kurang lebih setahun berada di Lapas Pematangsiantar, kata Manik, pihaknya selalu mengawasi Toni secara ketat. Bahkan setiap tamu yang hendak mengunjunginya, diperiksa ketat dan teliti.

Saat di lapas, tambahnya, Toni sudah tiga kali pindah sel. Yang pertama, Blok Ambarita. Lalu dipindahkan ke Blok Beringin. Dan terakhir kembali ke Blok Ambarita kamar 12. Di sel, katanya, Toni digabung dengan narapidana kasus lain.

Baca Juga :  Kios Penampungan Pedagang Sukaramai Harus Segera Dibangun

Masih kata Manik, sehari-harinya Toni terkesan tertutup. Ia tidak banyak bergaul dengan sesama warga binaan lapas lainnya. Bahkan, sambungnya, ia tidak pernah mengikuti kegiatan olahraga. Toni, sambungnya, kerap berada di Masjid At Taubah, di komplek Lapas. Dan ia tidak memiliki teman akrab.

Sedangkan tamu yang kerap mengunjunginya selama ini, hanya istrinya dari Medan. Itu pun tidak rutin. Terkadang sang istri membesuk sebulan sekali atau dua bahkan tiga bulan sekali.

Selain istrinya, kata Manik, pengacara Toni juga pernah mengunjunginya. Juga ada beberapa orang lainnya. Biasanya, Toni diizinkan bertemu tamu-tamunya di ruang tamu Lapas saja, sama dengan narapidana lainnya

Masih kata Manik, terakhir istrinya mengunjungi Toni sekitar dua minggu lalu. Sesuai keterangan dan data yang dicantumkannya di Lapas, istrinya ini menetap di Medan. Sementara pakaian yang dikenakan saat berkunjung, yakni busana muslim dan penutup kepala (jilbab).

“Kalau khusus tamu dia (Toni, red) memang diberikan pengawasan ketat. Setiap tamunya diwajibkan menunjukkan KTP. Lalu KTP itu kita fotokopi dan kita arsipkan,” jelasnya.

“Kami tidak berani menyebut dia teroris. Takut salah ucap dan dia tersinggung. Dia masuk ke Lapas ini pun dikenakan Pasal 365 tentang Perampokan,” tambah Manik. (ral/mag-16)

Siapa Komando Teroris?

20 September 2010

Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) menyebut Abu Tholut alias Mustafa menjadi pemimpin kelompok perampok Bank CIMB Niaga Medan. Abu Tholut diduga merancang, mempersiapkan senjata, dan memberikan instruksi. BHD juga mengumumkan Taufik Hidayat (tewas) sebagai komando perampok di lapangan.

7 Oktober 2010

Mabes Polri menyebut keterlibataan Abu Bakar Ba’asyir dalam jaringan teroris dan perampok Medan. Ba’asyir diduga memotivasi orang melawan aparat melalui ceramah di Hamparan Perak, Deliserdang, sekitar tiga kilometer dari Polsek yang diserang teroris.

25 Oktober 2010

BHD mengumumkan nama Toni Togar sebagai otak perampokan, konsultan, sekaligus mengatur aksi dari dalam penjara Lapas Pematangsiantar. Toni adalah narapidana kasus perampokan sejumlah bank tahun 2003.Buat Onar di Tanjung Gusta Dipindahkan ke Siantar

Toni Togar dan sedikitnya delapan narapidana (napi) kasus terorisme yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, Jumat, 31 Juli 2009 sekira pukul 22.00 WIB lalu, mengamuk. Para terpidana bom ini tak terima dipisah-pisahkan.

Informasi dihimpun POSMETRO MEDAN (grup METRO) dari seorang petugas Lapas berinisial D, para terpidana kasus bom Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, tahun 2002 lalu itu, sering membuat onar di Lapas.

Mereka sering mengamuk dan melempari gedung serta kamar tahanan lainnya.

Bahkan, katanya, mereka sering memprovokatori sejumlah tahanan lain agar berbuat keributan.

Karena itu pula, petugas Lapas mengintensifkan pengamanan, termasuk razia rutin. Jumat, 31 Juli 2009 malam, saat razia, petugas di blok T3 lantai II, menemukan benda mencurigakan. Bentuknya menyerupai kotak. Karena itu, segera dia memeriksanya.

Petugas curiga barang itu hendak digunakan untuk menyimpan bahan peledak. Pemeriksaan pun diintensifkan, bahkan hingga melihat seluruh isi kamar para penghuni sel.

Hasilnya, satu benda tajam sejenis celurit ditemukan tak jauh dari lokasi kamar sembilan terpidana teroris itu. Setelah dilaporkan kepada pimpinan, temuan itu diberitahu kepada kepolisian.

Setelah Polsek Helvetia dihubungi, polisi langsung terjun bersama Densus 88. Setelah beberapa jam petugas mengamankan lokasi, petinggi Lapas dan polisi pun sepakat untuk memindahkan sembilan napi itu.

Hasil kesepakatan, mereka dipisahkan ke Lapas Binjai, Lubuk Pakam, Tebingtinggi, dan Pematangsiantar. Sembilan napi yang mengamuk itu di antaranya, Toni Togar warga asal Cilacap, Jawa Barat, Gogon, Carles, Tono, Waluyo, Beny Sinaga, dan Zulkifli. Menurut data di Lapas, sebelum dipindahkan, Toni menghuni Blok T3/L1. Sementara Charles, Tono, Waluyo dan Beny Sinaga penghuni di Blok T5/L1. Sedangkan Gogon, Zulkifli dan Ade CS penghuni di Blok T3/L2.

Diawasi Ketat

Pihak Lapas Pematangsiantar memberlakukan sistem pengawasan super maksimal terhadap Toni.

Kalapas Pematangsiantar saat itu, M Nasution BcIP SH MH melalui Kepala Pengamanan Lapas (KPLP) EP Manik Amd IP SH MH kepada METRO. Senin, 3 Agustus 2009 mengatakan, selain memberlakukan pengawasan ekstra ketat, pihaknya juga menempatkan Toni di sel yang terpisah. Setiap tamu yang hendak mengunjunginya akan diperiksa secara teliti oleh petugas.

“Kita tidak ingin lengah, karena nanti dapat berakibat fatal,” kata Manik, sembari menambahkan sejumlah petugas keamanan juga ditugaskan khusus untuk mengawasi ruang penahanan napi yang mengaku memiliki empat anak itu.

Sumber: http://metrosiantar.com/Berita_Foto/Teroris_Dikendalikan_dari_Lapas_Siantar

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*