Gapki Minta Aturan Bea Keluar CPO Dicabut Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi Amerika

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menga­takan, krisis global yang terjadi berdampak pada menurunnya ekspor sawit ke Amerika.  “Meski begitu dampaknya tidak terlalu besar, karena ekspor sawit ke Amerika tidak sebesar ke India,” kata Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Fadhil mengatakan, Eropa dan Amerika pasar kedua terbesar ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Sedangkan tu­juan ekspor utama CPO, yakni India. Namun, kata dia, jika kri­sis global yang terjadi di Eropa dan Amerika terus berlanjut dengan rentang waktu lama, ma­ka dam­paknya akan lebih men­dalam lagi bagi ekspor CPO.

Untuk itu, pihaknya menya­rankan, pemerintah mencabut berbagai aturan yang meng­ham­bat bisnis sawit. Seperti pe­ne­rapan bea keluar CPO yang tidak adil dan merugikan pengu­saha.

Selain itu, lambannya pe­nye­lesaian tata ruang daerah yang belum tuntas. Aturan itu ma­kin menyesakkan pengusaha  ditam­bah dengan isu-isu lingkungan dan hambatan ma­salah infra­struktur. “Kebijakan itu semua yang menghambat per­kem­ba­ngan industri sawit,” keluh Fadhil.

Sekjen Gapki Joko Supriyono mengatakan, seharusnya dengan masih rawannya terjadinya krisis global dunia, pemerintah lebih memperkuat ekonomi dalam negeri. Artinya, pemerintah harus bisa menghasilkan kebijakan politik yang mendorong pening­katan daya saing industri dalam negeri buka­n­nya melemah­kan­nya sehingga ada peningkatan kon­sumsi maupun eks­por karena daya saingnya meningkat.

“Yang terjadi sekarang malah banyak peraturan pemerintah yang melemahkan daya saing industri sawit dalam negeri,” curh­at ke­pada Rakyat Merdeka.

Baca Juga :  700 Sertifikat Tanah Disiapkan Pemkab Bengkalis untuk Rakyat Miskin

Menurut Joko, sekarang peme­rintah justru menerapkan bea ke­luar dan mela­kukan mora­to­rium sawit yang berdampak besar pada industri sawit. “Keti­dak­tun­tasan tata ruang juga me­lemahkan daya saing. Dan ini su­dah berlangsung ber­tahun-tahun,” protes Joko.

Seperti diberitakan, krisis di AS membawa dam­pak buruk untuk Indonesia. Ba­dan Pusat Statistik (BPS) men­catat, akibat krisis ekonomi di negeri Paman Sam, ekspor In­donesia menyusut sepanjang semester satu 2011.

Kepala BPS Rusman Heriawan menyebutkan, pada Juni 2011, eks­por nonmigas Indonesia ke AS hanya mencapai 1,34 mi­liar dolar AS. Angka ini lebih kecil dibanding nilai ekspor ke China (1,93 miliar dolar AS) dan Je­pang (1,62 miliar dolar AS). [rm](rakyat merdeka online)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*