Gara-gara Kibot, Warga 2 Desa di Panyabungan Bentrok

Panyabungan, Warga dua desa di Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), bentrok akibat joget di atas panggung kibot dalam rangka memeriahkan Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Kamis (08/09/2011) dini hari sekira pukul 01.00 WIB. Akibat bentrokan warga Desa Gunung Beringin dengan Desa Huta Tua tersebut, tiga orang warga Gunung Beringin terluka. Dua orang luka bacok, satu orang luka tembak.

Ketiga warga yang menjadi korban tersebut adalah Denin Lubis (26), Bahri (36), dan Maksum (25). Maksum langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Padang Sidimpuan akibat luka tembak yang dialaminya. Sedangkan Denin dan Bahri saat disambangi sekira pukul 13.30 WIB, masih berada di RSU Panyabungan. Namun dikabarkan keduanya akan dirujuk ke RSU Padang Sidimpuan untuk memperoleh pengobatan intensif. Denin mengalami luka tusuk di bagian pinggang dan Bahri di bagian rusuk.

Kepada wartawan, Bahri yang terbaring lemas di RSU Panyabungan menjelaskan, dia sendiri tak tau persis apa persoalan sebenarnya yang terjadi pada malam itu. Disebutkannya, sebelum kejadian dia berada di warung kopi tak jauh dari lokasi hiburan tersebut dan sekitar pukul 00.15 WIB dia beranjak menuju masjid raya di desa itu. Setibanya di masjid, dia mendengar keributan dan kerumunan warga.

”Saya memang tau ada hiburan kibot dan itu sudah menjadi kebiasaan di desa kami setiap lebaran. Namun waktu saya mau ke masjid tiba-tiba ada keributan dan kejar-kejaran lalu saya mendekat untuk mencari tau apa yang terjadi. Setibanya di keramaian saya langsung ditikam dari belakang dengan pisau tepatnya di pinggang kanan tanpa mengenal pelakunya karena langsung berlari ke arah timur atau ke Desa Huta Tua. Warga kami terus mengejar pelaku yang diketahui warga Huta Tua,” terangnya dengan suara nyaris tak terdengar akibat menahan sakit.

Dilanjutkannya, waktu itu dia masih sadar tetapi tak mengenal wajah pelaku. Hanya saja diketahuinya bahwa itu adalah warga Desa Huta Tua karena ada warga lain yang mengenalnya.

”Saya tau dari warga kalau yang menikam saya adalah warga Huta Tua karena sempat kejar-kejaran dengan warga sini juga,” tambahnya.

Kasman (40) warga Gunung Baringin didampingi puluhan warga lain kepada wartawan mengatakan, kejadian ini berawal dari acara hiburan rakyat sejenis kibot yang dilakukan masyarakat setiap lebaran. Pada malam itu sekitar seratusan orang warga Huta Tua yang datang untuk menonton acara tersebut sebagian menggunakan kendaraan roda empat dan sebagian besar yang lain menggunakan roda dua dan tidak sedikit yang jalan kaki.

Baca Juga :  MASYARAKAT DESA PARAN JULU MEMINTA BUPATI AGAR SEGERA COPOT KEPALA DESA DARI JABATANNYA KARENA MENYALAHGUNAKAN WEWENANG JABATAN

Dijelaskan warga, tengah malam biasanya ada permintaan atau request nyanyi dan berjoget buat penonton dengan bayaran yang bervariasi. Sebelum kejadian ada warga Gunung Baringin merequest lagu sambil berjoget namun tiba-tiba ada 2 orang warga Huta Tua yang naik ke atas panggung.

”Melihat ada yang naik ke panggung tanpa request terlebih dulu, pihak keamanan di panggung menyuruh turun. Namun kedua orang tersebut melawan sehingga terjadi adu mulut dan ketika itu juga salah seorang warga Huta Tua melayangkan pukulan kepada pihak keamanan dan spontan terjadi perkelahian,” terang Kasman.

Di bawah panggung, perkelahian terus terjadi sehingga salah seorang penonton yakni Denni Lubis warga Gunung Baringin ditikam salah seorang warga Huta Tua. Meski jumlahnya hampir sama, namun warga Huta Tua lari dari kejaran warga Gunung Baringin. Sewaktu lari, masih ada seorang lagi warga Gunung Baringin yang tertikam di tengah jalan yakni Bahri.

”Setibanya mereka di perbatasan desa, kami masih sempat lempar-lemparan batu sehingga sejumlah rumah terkena lemparan. Lalu hanya berselang setengah jam saja mereka pergi, tiba-tiba terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah selatan desa kami atau dari arah hutan di seberang sungai, dan 1 orang warga kami tertembak di sekitar matanya,” beber Kasman diamini belasan warga.

Hal senada disampaikan Panjang (33) warga Gunung Baringin. Dikatakanya, hingga saat ini mereka tak tau pasti siapa pelaku penusukan dan penembakan terhadap tiga orang warga mereka. Namun sudah dipastikan pelakunya adalah warga Huta Tua karena hanya warga Huta Tua yang datang dan terlibat dalam perkelahian tersebut.

”Kami berharap pihak kepolisian bisa mengusut kasus ini secepat mungkin. Kami masih sangat resah dan takut berada di desa ini karena kami sudah mengetahui tipikal warga Huta Tua yang arogan dan suka cari masalah ditambah lagi mereka memiliki senjata api yang bisa saja sewaktu-waktu menyerang kami,” ucapnya.

Sementara, ratusan warga Gunung Baringin saat didatangi wartawan mengaku saat ini masih khawatir akan adanya serangan balik dari warga Huta Tua. Pasalnya dari keterangan masyarakat, Huta Tua ini dikenal dengan masyarakatnya yang masih primitif. Hal ini dibuktikan dari pengakuan warga di luar masyarakat Panyabungan Timur yang menyebutkan masyarakat Huta Tua sering menggunakan senjata api rakitan dan juga dikenal dengan masyarakat produsen ganja karena Desa Huta Tua tak jauh lokasinya Bukit Tor Sihite. Wartawan juga dicegah untuk masuk ke desa itu dengan dalih berbahaya..

Baca Juga :  Tambang Emas dan Perak Martabe Tapsel Mulai Produksi

“Kami bukan mau menghalangi bapak ke sana hanya saja kalau terjadi apa-apa kami tak bertanggung jawab karena warga desa itu lain dengan warga desa lainnya di Madina,” sebut salah seorang Staf Kantor Camat Panyabungan Timur.

Camat Panyabungan Timur Awaluddin SSos kepada wartawan mengatakan, pihaknya belum banyak mengambil tindakan atas kasus ini. Dia juga mengaku warga Huta Tua terkenal dengan karakter yang sangat keras dan sulit untuk diajak berkomunikasi. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian.

”Kami dalam hal ini hanya meminta agar masyarakat Gunung Baringin tenang dan jangan mengambil langkah-langkah kekerasan arau membuat serangan. Untuk warga Huta Tua kami belum berani ke situ pasalnya sifat dan tipikal masyarakat sudah kami ketahui sangat keras. Namun kami telah berkoordinasi dengan pihak Polres Madina yang telah masuk ke desa itu bahwa di desa itu sudah tak ada lagi warganya. Yang tinggal saat ini hanya ibu rumah tangga dan anak-anak. Kepala Desanya juga mengaku tak tau kemana seluruh warganya lari,” terang Camat.

Kapolres Madina AKBP Ahmad Fauzi Dalimunthe SIK yang dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. Hanya saja pihaknya belum bisa mengungkap siapa pelakunya baik pelaku penusukan maupun penembakan.

”Kita masih melakukan pengembangan di lapangan dan sejauh ini belum ada tersangka yang ditetapkan, masih seputar pemeriksaan saksi. Mengenai ketakutan warga, saya telah kirim anggota sebanyak 30 personil untuk berjaga-jaga di Desa Gunung Baringin,” sebut Fauzi. (BS-026) (beritasumut.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*