Gayus Ngaku Peroleh Rp 35 Miliar dari Perusahaan Bakrie

JAKARTA – Gayus HP Tambunan buka-bukaan. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Albertina Ho, Gayus mengaku memperoleh uang sebesar 3,5 juta dolar AS atau setara Rp 35 miliar dari tiga perusahaan yang tergabung dalam Grup Bakrie.

Pengakuan disampaikan Gayus saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta, Rabu (8/12/2010). Tiga perusahaan tersebut adalah PT Kaltim Prima Coal PT KPC), Bumi Resources, dan PT Arutmin.

Pemberian pertama diperolehnya saat membantu pengurusan surat ketetapan pajak (SKP) PT KPC tahun 2000,2001,2002,2003 dan 2005. Menurut Gayus, pengurusan SKP PT KPC sebenarnya sudah sesuai prosedur.

Namun, SKP PT KPC tersebut sudah tertahan selama satu tahun. Padahal, seharusnya Kantor Pelayanan Pajak Gambir Jakarta sudah menerbitkan paling lambat seminggu setelah semua syarat terpenuhi.

Tertahannya SKP PT KPC, menurut Gayus karena ada perbedaan kurs yang harusnya menggunakan rupiah, tapi menggunakan dolar. Sehingga terjadi perbedaan pembayaran.

Berkat bantuan Gayus, SKP PT KPC selama lima tahun tersebut berhasil dikeluarkan. Atas jasanya tersebut, Gayus mengaku diberikan Rp 500.000 dolar AS. “Saya dapat imbalan 500.000 dolar AS. Kalau dikurskan Rp 10.000 sama dengan Rp 5 miliar,” ujar Gayus yang mengenakan batik warna cokelat.

Penerimaan kedua diperolehnya melalui jasanya dalam membantu persiapan sidang banding PT Bumi Resources. Tugas Gayus yakni membuat surat banding dan bantahan sehingga persidangan keberatan Banding pajak PT Bumi Resources siap disidangkan. Atas jasanya tersebut, Gayus diberikan Rp 1 juta dolar AS atau setara Rp 10 miliar.

Baca Juga :  Ajakan ramaikan sosial media untuk tidak golput

Penerimaan ketiga dari PT Arutmin Indonesia sebesar 2 juta dolar AS atau setara Rp 20 miliar. Uang tersebut diterima Gayus terkait sunset policy perusahaan Arutmin tahun 2007. “Saya diminta melalui Alif Kuncoro untuk mereview, apakah sudah sesuai dengan aturan perpajakan. Saya review, saya bilang telah sesuai,” ujar Gayus.

Namun Gayus mengelak kalau uang tersebut melanggar aturan. Dalihnya, uang tersebut ia terima di luar jabatan dan pekerjaannya sebagai pegawai penelaah di Direktorat Keberatan dan Banding Ditjen Pajak.

“Saya boleh menerima imbalan itu asal tidak bertentangan dengan pekerjaan saya,” dalih Gayus saat dicecar hakim Albertina Ho.

Tapi kenapa saudara khawatir dan kemudian membuat seolah-olah ada perjanjian jual beli tanah dengan Andi Kosasih? “Saya tidak khawatir, yang khawatir Andi Kosasih,” sangkalnya.

Menurut Gayus, ia hanya menurut saja ketika Andi Kosasih bersama pengacaranya membuat skenario uang Rp 35 miliar yang diterimanya sebagai jual beli bisnis properti di kawasan Jakarta Utara. “Saya memang tidak jelaskan darimana uang itu berasal, saya hanya ikut saja dibuat perjanjian (jual beli tanah) itu,” elak Gayus.(tribun-medan.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*