Geothermal Blok Sibual-buali Bisa Dimanfaatkan Atasi Masalah Listrik di Tabagsel

[Foto: Ist]
Salah satu potensi geothermal di Sumatera Utara Blok Sarulla.TAPSEL – Pemerintah harus mengatasi krisis listrik di Sumatera Utara. Dimana pemadaman semakin sering dilakukan, terutama di Tabagsel. Tidak arif jika persoalan itu dibiarkan terus menerus, karena kita punya potensi yang besar untuk mengatasinya. Salah satunya pemanfaatan geothermal yang harus diberdayakan.

Hal ini disampaikan Faisal Reza Pardede (30) di sela-sela pendaftaran Bacaleg Partai NasDem di Padangsidimpuan (Psp) beberapa hari lalu. Potensi besar yang dimaksud, kata Faisal, Geothermal Blok Sibualbuali di Kecamatan Sipirok, Tapsel, yang mempunyai 20 MW. Sedangkan di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) yang dikenal dengan Blok Sarulla mempunyai 110 MW.

“Kedua sumber energi tersebut tidak lagi berbicara potensi, tetapi energi yang siap diproduksi. Estimasinya ya cukuplah menerangi sebagian dari provinsi kita ini,” katanya.

Lebih lanjut Faisal berharap, harus ada keseriusan pemerintah pusat, pemprovsu, PT PLN, dan stake holder lainnya untuk merealisasikan sumber energi ini untuk diproduksi secepat mungkin.

“Kita sudah tidak nyaman lagi dengan kondisi pemadaman yang sering terjadi. Beberapa waktu lalu, saya melihat keluarga pasien membawa mesin genset ke RSUD Tapsel di Sipirok untuk mengantisipasi jika terjadi pemadaman karena anaknya yang baru lahir sedang berada di inkubator.

Arus lalulintas di Kota Medan dan kota lainnya juga sering mengalami kendala akibat pemadaman ini. Kondisi-kondisi seperti itu juga terjadi pada pelaku-pelaku usaha yang antara lain produksinya harus dihentikan untuk sementara waktu,” terang Ketua Litbang Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Sipirok dan Sekitarnya (IKAPSI) Sumut ini.

Baca Juga :  Ini Transkrip "Papa Minta Saham" - 1 Jam 27 Menit

Dengan keadaan yang terjadi di atas, sambungnya, andai saja pemerintah serius mengeksploitasi Geotehrmal Blok Sibualbuali dan Blok Sarulla, tentu keadaan listrik kita tidak seperti sekarang ini.

“Jika saja 10 tahun yang lewat kedua blok itu diproduksi atau katakanlah Blok Sarulla saja 350 MW, dengan harga listrik USD6 cent per Kwh (USD 60/MWh), maka gross revenue per tahun adalah USD181.440.000. Sekarang PT PLN menawarkan harga listrik di daerah Sumatera dengan Feed in Tarif (FIT) sekitar USD10 cent/KWh (USD 100/MWh).

Maka gross revenue per tahun adalah USD302.400.000, kita hanya bisa gigit jari jika menghitung itu sekarang,” ungkapnya. Disebutkannya, peran aktif pemerintah daerah dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sangat penting. Kementerian ESDM harus membuka informasi seluas-luasnya, terlebih untuk pendataan teknis dalam membekali Pemda menarik investor.

“Jika sinergitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah berjalan baik, maka pemberian izin pertambangan tidak tumpang tindih,” kata Faisal.

Di samping itu, sesuai program, pemerintah ingin mengembangkan panas bumi menjadi sebesar 9.500 MW pada 2025. Tentunya hal itu tidak hanya menjadi target, akan tetapi diupayakan ada langkah yang serius termasuk di dalamnya Blok Sibualbuali.

“Khusus Sibualbuali, harus ada sifat legowo dari beberapa pihak jika ada pihak lain mempunyai kemampuan untuk berinvestasi di sana. Saya dengar blok tersebut sangat diinginkan investor dari Australia dan India. Paling tidak jika blok itu terwujud dan berproduksi, paling tidak kebutuhan listrik di wilayah Tabagsel akan terpenuhi,” pungkasnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Koordinator Aksi Keprihatinan UMTS: Sesudah Unjuk Rasa Kami Di Ajak Ber Tinju

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*