GUNUNG API SORIK MERAPI DI MADINA NORMAL

Sorikmarapi GUNUNG API SORIK MERAPI DI MADINA NORMALMeningkatnya sejumlah aktivitas gunung merapi di Indonesia, tidak mempengaruhi gunung merapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, seperti Gunung Sorik Merapi yang masih normal.

Berdasarkan pantauan petugas pos pengamatan Gunung Sorik Merapi di Desa Sibanggor, Kecamatan Puncak Sorik Merapi, Minggu, menunjukkan gunung merapi aktif tersebut tidak ada peningkatan aktivitas. Petugas pos pengamatan gunung, Kisroh, menjelaskan tidak ada aktivitas berarti dari gunung Sorik Merapi yang perlu dikhawatirkan.

Warga sekitar gunung juga merasa tidak khawatir dengan maraknya letusan gunung seperti yang sering terjadi saat ini.
Salah satu gunung merapi aktif atau gunung tipe A di Indonesia terdapat di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Meski dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah gunung menunjukkan peningkatan aktivitas, namun gunung Sorik Merapi tetap normal.

“Sejauh ini tidak ada pengaruh letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta atau peningkatan aktivitas gunung lainnya, statusnya masih tetap normal. Memang gunung Sorik Merapi ini salah satu gunung aktif di Indonesia, tapi kondisinya tetap normal,” terang Kisroh.

Meski dalam keadaan normal, menurutnya petugas tetap bersiaga memantau aktivitas gunung ini selama 24 jam sehari.
Maraknya letusan gunung dalam beberapa hari terakhir juga tidak mempengaruhi warga di sekitar Gunung Sorik Merapi. Warga terus beraktivitas seperti biasa.

Warga mengaku tidak khawatir dengan Gunung Sorik Merapi meski gunung ini pernah menghancurkan perkampungan di kaki gunung puluhan tahun lalu.

Baca Juga :  Terkait Belum Ditetapkannya Hasil Pemilukada Madina di MK - Warga Diimbau Tak Mudah Terprovokasi

Salah satu warga di kaki Gunung Sorik Merapi, H. Nuh Lubis, menjelaskan, terakhir kali gunung tersebut meletus dalam sekala besar pada tahun 1986 dan semburan materil dari gunung tersebut sampai ke Pasaman, Sumatera Barat.
“Di sini tidak begitu terasa karena arah letusan sebelah sana (bagian timur), yang paling besar terjadi pada tahun 1892 yang menyebabkan sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar gunung tewas,” tutur H. Nuh Lubis. Menurut warga, jika Gunung Sorik Merapi mau meletus biasanya ada tanda-tanda seperti suara gemuruh. (Ant/d) (hariansib.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*