Gunung Krakatau ‘Batuk’, Nelayan Ketakutan

0024157p Gunung Krakatau Batuk, Nelayan KetakutanAkibat letusan yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau (GAK), ratusan nelayan yang berada di Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, tidak melaut. Mereka khawatir material yang dikeluarkan akan membahayakan mereka.

“Saya sudah tiga hari ini tidak berani turun ke laut, khawatir akan terkena batu material yang berjatuhan dari Gunung Anak Krakatau,” kata nelayan Desa Pasauruan, Cinangka, Sarbini, Jumat (29/10/2010).

Dia menjelaskan, bukan saja dia yang tidak berani melaut, melainkan juga ratusan nelayan yang lainnya tidak berani turun.

“Kalaupun ada nelayan yang melaut, itu tidak jauh dari bibir pantai,” katanya.

Hal senada diungkapkan Kasmin, dia tidak melaut karena kekawatiran yang sama.

Menurut Kasmin, status waspada yang ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, mencari ikan di laut tidak dilarang. “Asalkan tidak mendekat di radius 4 kilometer, saya rasa aman,” katanya menjelaskan.

Berbeda dengan nelayan di Anyer. Sejumlah nelayan di sana masih melakukan aktivitasnya. “Kalau saya masih tetap melaut, hanya saja memang tidak terlalu mendekat di daerah GAK,” kata Doni.

Nelayan di Anyer, tidak berani turun ke laut jika gelombang tinggi. “Sejauh ini sih nelayan yang biasanya sandar di Paku, tidak turun ke laut jika gelombang di atas dua meter,” katanya.

Petugas Pos Pengamatan GAK di Desa Pasauruan, Kecamatan Cinangka, Sikin mengaku sudah sejak dua hari ini aktivitas nelayan di sekitar GAK tidak terlihat.

Baca Juga :  Calon Legislatif 2014: 90% Muka Lama

“Betul, saya melihat tidak ada nelayan di Cinangka yang berani melaut ke tengah,” katanya.

Hal tersebut dikarenakan adanya aktivitas GAK yang kerap mengeluarkan letusan dan material seperti batu.

“Saya mengimbau kepada nelayan untuk tidak mendekat ke GAK hingga radius empat kilometer,” katanya.

Diketahui, Pos Pemantau GAK di Cinangka pada 28 kemarin mencatat bahwa telah terjadi letusan sebanyak 117 kali, embusan 56, tremor atau gerakan 102.

Sinar api terlihat dua kali dengan ketinggian asap 1.500 meter berwarna putih kelabu menggumpal, vulkanik dangkal 61, dan vulkanik dalam 12. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*