Gus Dur ‘Ancam’ SBY

Oleh: Djoko Suud *)

Jakarta – ‘Panen’ bom di Jakarta. Tapi ada ancaman lain yang lebih krusial, yaitu Gusdurian. ‘Pasukan Gus Dur’ yang lama diam itu kini bangkit. Kebangkitannya bisa evolutif atau revolusioner. Itu tergantung pemerintah menyikapi. Salah satu stimulatornya adalah Wikileaks yang menyebut Sudi Silalahi ‘merekayasa’ perkara PKB yang dimenangkan Muhaimin Iskandar. Benarkah begitu?

Sudah setahun lebih ‘pasukan Gus Dur’ tidak kedengaran geraknya. Mereka tidak berhasrat masuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin. Juga tidak tergerak dalam keriuhan klaim ‘anak ideologis’ Gus Dur. ‘Pasukan Gus Dur’ itu seperti raib terkubur bersama jasad Gus Dur.

Yang ‘berkibaran’ di luar kemudian hanyalah Muhaimin dengan ‘PKB lawan Gus Dur’. Lily Wahid duet dengan Gus Choi mbalelo dari kubu Muhaimin yang kini sedang menggugat PKB. Dan Yenny Wahid putri biologis Sang Guru Bangsa yang berusaha mencari posisi.

Sejalan dengan hilangnya ‘pasukan Gus Dur’ itu, tindak berbau SARA muncul di berbagai daerah. Selain Ahmadiyah yang diramaikan dengan pro-kontra. Kemarin tersebar bom di tiga tempat yang motifnya diindikasikan sama. Itu semua datang bergantian karena tanpa ayoman dan belum ada yang mampu sebagai jembatan.

Puluhan kiai pun secara bergelombang dengan mudah dijaring Suryadharma Ali. Mereka diajak masuk wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dan karena itu sempat mencuat ‘permintaan’ PKB untuk menduduki posisi Menteri Agama yang masih dipegang Sang Ketum PPP.

Kenyataan-kenyataan itu menunjukkan, Muhaimin Iskandar dan Yenny Wahid tidak lagi mampu mendekati para kiai. Pilar utama PKB itu telah jauh dari partai ini. Para kiai tidak mau mendekat ke PKB, dan ‘tidak mau’ didekati. Mereka yang disebut Jangka Jayabaya sebagai dacin kisruh dan jayanya negara itu jadi mudah berganti haluan. Gampang menerima ‘pinangan’, tak terkecuali PPP, partai yang secara ideologis ‘timpang’ dengan alur pikir para kiai.

Baca Juga :  Pantaskah Wakil Rakyat Menyalahkan Rakyatnya?

Para kiai ‘menyeberang’ ke PPP sebenarnya bukanlah ekspresi ganti arah. Itu hanyalah ‘terminal’ sementara  yang dual tengara. Pertama menunjukkan PKB tidak lagi sebagai partai ‘asuhan’ kiai. Kedua sebagai warning, bahwa PKB kini tinggal wadag yang tidak punya jiwa. Roh yang menghidupi PKB selama ini telah kabur dari raganya. Dan mungkin jika tidak segera direformasi total, partai yang dulu sangat kuat di wilayah Jawa Timur itu tambah keropos, dan setelah itu tinggal nama.

Gampangnya kiai ganti kemudi itu bisa ditafsir sebagai sikap ‘ketidak-pedulian’. Sebagai protes terhadap PKB yang ada. Namun dari sisi kamtibmas terpampang jelas, kekisruhan berbau agama yang bermunculan di berbagai daerah, cermin lain dari pasifisitas ‘pasukan Gus Dur’ itu. Ini ‘pemberontakan diam’ dalam menyikapi keadaan.

Sikap itu tersulut Wikileaks yang membuka luka lama. Kabar yang disebut ‘kabur’ itu mengusik ‘diamnya’ jaringan ini. Intensitas ‘gerakan diam’ itu mulai tampak ke permukaan. Dan tahun 2011 disebut sebagai tahun kebangkitan. Revitalisasi Gusdurian dalam kiprah menjalankan amanah.

Yang mengejutkan, setahun tidak muncul ternyata ‘pasukan Gus Dur’ itu justru semakin terukur. Soliditas mereka sangat tinggi. Tidak hanya yang ‘disusupkan’ dalam partai politik, tapi sampai yang di birokrasi dan organisasi kepemudaan. Bisa dipahami, karena garis komando itu dipegang kiai. Sosok bersendi kejujuran, etika, moral, dan kemanusiaan yang tetap diugemi.

Kemunculan kembali gerakan ini dari ‘bawah tanah’ tidak melulu distimulasi pernyataan Wikileaks yang menyebut Sudi Silalahi ‘mengancam hakim’ agar mengalahkan PKB Gus Dur dan memenangkan PKB Muhaimin. Alasan utama kebangkitannya karena realitas politik yang dianggap mengancam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  Ironi Pejabat dan Politik Uang

Korupsi menggila. Hukum pilih kasih. Jabatan ditransaksikan. Beragama tidak lagi menciptakan kesejukan. Itu semua akibat ‘penuhanan’’ harta. Ditambah kebijakan pro poor yang hanya sebatas slogan, maka konflik vertikal gampang tersulut yang membahayakan keutuhan negeri ini. Itu alasan Gusdurian kembali untuk ikut ‘cawe-cawe’.

Kuatnya jaringan dan massa  Gusdurian mempunyai potensi dalam meredam konflik yang bersifat sektarian. Namun di balik itu juga tak terhindari, berpotensi pula ‘mengoreksi’ pemerintah atau mungkin ‘melabraknya’. Untuk itu jika kekuatan ini tidak terakomodasi, ada kemungkinan justru akan ‘bertabrakan’ dengan pemerintahan SBY. Apalagi mereka punya catatan ‘kritis’ soal itu.

Jika ‘perbedaan’ dengan PKS saja SBY harus berpikir panjang, tak terbayangkan pikiran sepanjang apa lagi yang dilakukan jika tak lama lagi ‘ditabrak’ Gusdurian?

*) Djoko Suud adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. coba sejenak alam pikiran kita bawa pada masa era Gus Dur,menurut hemat kami keadaan yang sangat membentuk ancaman yang sangat krusial pada zamannya Gus Dur memerintah tidaklah sepelik zaman pemerintahan sekarang,sebab Gus Dur mampu menerjemahkan fungsi bentuk pluralisme,mampu mengayomi kaum minoritas dan nyata menghidupkan ideologinya dalam berbangsa dan bernegara…dan menjunjung tinggi hakekat demokrasi yang sejati dalam lingkup nasional maupun internasional…terbukti penghargaan demi penghargaan menorehkan sejarah yang Gus Dur yang di bangun dengan sifat sebagai bapak guru bangsa.Sikap dan kebijakan inilah yang secara nyata mengilhami setiap warga (nahdliyin maupun nahdliyin) ,semampu mungkin menghidupkan warisan-warisan Gus Dur ke dalam bentuk ideologi yang diterjemahkan dalam wadah partai.Pun dimaklumi,PKB Gus Dur adalah PKB murni yang terbit dari kedasaran para Kyai yang menegakkan kebenaran,original….belum tersentuh oleh manuver-manuver lain ( tidak hanya melanggengkan jabatan sehingga egoisme mengambil peran dan berakibat main recall).Agaknya,dilatari oleh gambaran ini,saya meyakini sikap gusdurian tidak akan berbuat anarkis….mereka berangkat dan dibentuk oleh akhlaq dari pesantren, jadi wacana yang bergulir saat ini hanya semata mengingatkan pemerintah bahwa jabatan seharusnya tidak di cari,tapi ditempatkan pada satu sikap dalam diri bahwa yang demikian adalah AMANAH….bila diingkari akan berakibat buruk entah sekarang atau esok…Wallahu a’lamu bil muraddih.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*