Halaman Kantor Dinas Pasar Madina Disulap jadi Pasar Pabukoan

Masuknya bulan Ramadan sejak Rabu (11/8), sejak itu juga para pedagang makanan membuka dagangannya di Pasar Pabukoan yang digelar di halaman Kantor Dinas Pasar Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) atau di depan Pasar Baru Panyabungan.

Pasar Pabukoan, sudah menjadi tradisi sejak beberapa tahun lalu. Setiap pelaksanaan bulan puasa, para pedagang makanan dan minuman ringan akan menjajakan dagangan di halaman Dinas Pasar yang hanya berukuran panjang  sekitar 100 meter dan lebar juga 100 meter yang dijadikan pusat keramaian warga Kecamatan Panyabungan, bahkan dari kecamatan lainpun sengaja berangkat ke Pasar Pabukoan hanya untuk berbelanja makanan berbuka puasa.

Pasar Pabukoan halaman Kantor Dinas Pasar Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) atau di depan Pasar Baru Panyabungan.

Amatan METRO Kamis (12/8) di Pasar Pabukoan, para pedagang makanan mulai bersiap-siap menjajakan makanan di tempat yang telah disiapkan. Sebelumnya, meskipun hanya berupa tenda dan beberapa meja saja, setiap pedagang dan para pedagang hanya membawa jualan saja dari rumah.

Adapun makanan yang dijual, hanya sejenis makanan dan minuman untuk berbuka puasa saja semisal cendol, toge kurma, dan lain sebagainya, di samping itu pedagang juga banyak menjual gulai untuk berbuka puasa begitu juga dengan bahan makanan yang digunakan sebagai bahan tambahan semisal pakkat, Namun di lokasi itu tidak ada menjual kebutuhan pokok.

Naimah (22), seorang penjual cendol dan toge kepada METRO mengatakan, Pasar Pabukoan sangat disukai warga Panyabungan. Bila sore hari, warga akan meramaikan pasar, meskipun pedagang yang berjualan hanya sekitar 100-an orang, namun keramaian yang dimunculkan mencapai ribuan warga yang harus rela antri untuk bias lewat di tengah-tengah kerumunan pengunjung, dan kemudahan yang disediakan oleh pedagang dengan membuat beberapa jalan ditengah-tengah pasar. Hal senada dikatakan Hidayat (27), seorang pedagang berbagai jenis gulai seperti ayam goreng, rendang dan lainnya mengaku telah ikut berjualan sejak beberapa tahun lalu.

Baca Juga :  Oknum DPRD Kab. Padang Lawas Utara & OKP pukul wartawan

Dia menjelaskan, dirinya hanya sebagai pedagang gulai tahunan artinya dirinya berjualan seperti itu hanya di bulan puasa saja dan sore hari untuk kebutuhan bagi orang yang berpuasa. “Pasar Pabukoan sangat membantu ekonomi saya, karena saya hanya sebagai pedagang tahunan, dan saya sudah pernah mencoba berjualan gulai di hari biasa namun untung yang diperoleh sangat minim. Tetapi yang jualan di pasar ini, akan membawa keuntungan banyak,” pungkasnya.

Soal biaya tempat, diungkapkannya para pedagang tak dipungut biaya pemakaian tempat hanyalah untuk biaya jaga malam sekitar Rp5 ribu per minggu. “Kami hanya bayar Rp5 ribu per minggu untuk uang jaga malam, dan di samping itu kami juga mengeluarkan Rp1 ribu per hari untuk uang kebersihan, dan kalau menurut kami para pedagang tradisi ini merupakan kebiasaan yang bisa menopang kehidupan warga sekitar,” tambahnya mengakhiri.

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Halaman_Kantor_Dinas_Pasar_Disulap_jadi_Pasar_Pabukoan

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*