Haminjon Asal Toba Diekspor Hingga Eropa

Haminjon (google)

Haminjon (kemenyan) adalah vegetasi yang habitatnya termasuk hutan alam di seputar kawasan Toba. Sejak ratusan tahun silam, getahnya diambil oleh leluhur bangso Batak, untuk kemudian diperdagangkan melalui saudagar lokal.

”Getah haminjon di antaranya jenis styrax sumatrana mengeluarkan bau khas, dijadikan bahan baku berbagai jenis industri seperti kosmetik, pemberi aroma rokok kretek klobot, asap hasil pembakarannya juga jadi pelengkap ritual agama atau kepercayaan tertentu. Haminjon asal Toba diekspor sampai ke Eropa,” kata Ir Wilmar Simanjorang, pemimpin lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, Save Lake Toba Foundation, saat melakukan penghijauan di Pusuk Buhit, Samosir, Jumat 28 November 2014 baru lalu.

Wilmar yang pernah menjadi pelaksana tugas Bupati Samosir, dan dikenal sebagai pecinta lingkungan ini menjelaskan, kawasan hutan sekitar Tele dan Habinsaran termasuk sumber getah haminjon. Kulit batangnya diketuk-ketuk hingga retak, dan dari retakan itulah kemudian getah muncul secara perlahan. Getah ini baru dapat dipanen dalam waktu 6 bulan oleh petani.

Untuk kerja ’pengetukan kulit’, tidak jarang petani harus membawa bekal dari kampung karena harus tinggal berhari-hari di hutan. Pohon yang ’pengetukannya’ sudah tinggi (karena di bagian bawah sudah penuh bekas luka pengetukan), maka si petani harus memanjat dengan menggunakan tali. dan mengikatkan potongan kayu sebagai tempat nagkring atau pijakan berdiri.

Baca Juga :  Warga Protes Pelayanan RSU Sidikalang

Berbekal alat khusus dari logam dengan salah satu ujungnya runcing, si pengetuk lazim mengetuk-ngetuk batang sambil bersenandung. Lagu “Anakhon hi do hamoraon di ahu” gubahan komponis Nahum Situmorang yang berkisah tentang kebanggaan terhadap anak yang bersekolah, salah satu favorit.

Adapun ekaliptus (Eucalyptus sp) adalah jenis vegetasi cepat tumbuh dan kaya serat. Itu sebabnya industri pulp (bubur kertas) seperti TobaPulp (PT Toba Pulp Lestari,Tbk) di Parmaksian, Tobasamosir, memilihnya sebagai tanaman pokok HTI (Hutan Tanaman Industri) dengan prinsip lestari dan berkesinambungan (sustainable) untuk dijadikan bahan baku. Konsesinya sekitar 190 ribu hektar, terhampar di 12 kabupaten di Sumut, termasuk di kawasan hutan Tele yang masuk wilayah administrasi 4 kabupaten: Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi dan Pakpak Bharat. Gunung Pusuk Buhit, lokasi penghijauan, masuk kabupaten Samosir. (rel/mea)

/SUMUTPOS.CO

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*