“Hantu” Cyanida Ancam Hidup Warga Tapsel

Oleh: Budi Hatees *)

Industri tambang emas milik PT Agincourt Resource–anak holding G-Resource yang bermarkas di Hong Kong–ternyata menggunakan senyawa cyanida untuk proses eksresi logam emas dengan bebatuan. Penggunaan racun yang dilarang Uni Eropa dalam industri tambang ini diketahui dalam penjelasan Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL) perusahaan tersebut untuk meminta izin pembuangan air limbah ke Sungai Batangtoru.

%name Hantu Cyanida Ancam Hidup Warga Tapsel

Almanak menunjuk tanggal 19 November 2012. Hari itu langit sangat terang ketika rombongan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Tapanuli Selatan berjalan ke tepi Sungai Batangtoru, ke hilir pipa pembuangan limbah tambang PT Agincourt Resource (AR) di Kecamatan Batangtoru.

Wajah para pemimpin rakyat itu sumringah, kentara sekali mereka begitu yakin dengan apa yang akan diperbuat. Lalu, secara serentak, elite-elite masyarakat itu menciduk air yang keluar dari mulut pipa pembuangan itu, kemudian meminumnya sambil tetap tersenyum. Tanpa dimasak, diminum mentah-mentah.

Ternyata tak terjadi apapun. Memang, tidak akan terjadi apa pun. Sebab, itulah tujuan dari seremoni yang digelar perusahaan tambang emas pasca kerusuhan yang memprotes pembuangan air limbah ke Sungai Batangtoru. Supaya masyarakat melihat bahwa para elite sangat yakin air limbah itu bisa dikonsumsi.

Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Aldinz Rapolo Siregar, terlihat sangat percaya diri. Seakan-akan ingin mengatakan kepada warga sepanjang daerah aliran Sungai Batangtoru yang pernah protes atas pembuangan limbah itu, bahwa Sungai Batangtoru tidak berbahaya bagi kesehatan.

Presiden Direktur G-Resources, holding PT AR, Peter Albert, mengatakan kepercayaan diri meminum air hasil pengolahan emas itu dikarenakan pihaknya secara rutin (reguler) melakukan tes dan pengecekan terhadap air sisa pengolahan emas yang dibuang ke Sungai Batangtoru itu.

“Sampel air telah diambil dan dibawa untuk dites di tiga laboratorium independen berbeda, termasuk di antaranya lab yang dimiliki pemerintah, makanya tidak ada keraguan sedikit pun bagi kami untuk meminum air itu,” terangnya.

Pernyataan Peter Albert terkesan terlalu maju, karena pihak PT AR sendiri baru mengambil sampel air limbah dan belum mengujinya. Sampel air diambil di tiga titik: di sungai 20 meter sebelum limbah mengucur ke sungai, di titik pertemuan limbah dengan air sungai, dan 20 meter setelah limbah mengalir ke sungai. Sampel limbah tambang baru diantar ke laboratorium di Jakarta pada Kamis, 22 November 2012.

Pada 22 November 2012, Plt Gubernur Sumatra Utara, Gatot Pudjo Nugroho, bersama Bupati Tapsel Syahrul M. Pasaribu meminum langsung air sisa proses tambang emas yang dibuang ke Sungai Batangtoru.

Sampel itu dibawa oleh tiga tim. Masing-masing tim membawa sampel limbah ke Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (laboratorium yang berada di bawah pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup di Puspiptek Serpong), PT Analytical Laboratory Services Indonesia di Bogor, dan PT Intertek Utama Services di Jakarta Timur.

Baca Juga :  Satu Tahanan Lapas Sibuhuan Serahkan Diri

Hasil uji laboratorium secara resmi diumumkan PT AR beberapa hari kemudian, pada Senin, 21 Januari 2013. Pengumuman itu disaksikan  Plt Gubernur Sumatra Utara, Gatot Pudjo Nugroho, dan Bupati Tapsel Syahrul M. Pasaribu ditaja PT AR sebagai pembacanya. Kedua Kepala Daerah ini terlihat senyum, bangga atas hasil uji coba laboratorium itu.

“Data-data hasil uji laboratorium ini menunjukkan air sisa proses yang dialirkan ke Sungai Batantoru berada di bawah baku mutu Kepmen LH No.202/2004. Ini menjadi bukti nyata perwujudan komitmen G Resources untuk melaksanakan praktik tambang yang lebih baik dan aman bagi lingkungan,” kata Gatot.

Ancaman Cyanida

aek Hantu Cyanida Ancam Hidup Warga Tapsel

Sungai Batangtoru salah satu sungai terbesar di Tapanuli Selatan dengan panjang 69,32 Km. Ke hilir, arusnya berakhir ke laut di pesisir barat di Kecamatan Muaraopu, setelah lebih dulu membagi airnya sebagian ke Danau Siais. Sedangkan ke hulu, Batangtoru melintasi Tarutung, Tapanuli Utara. Di sana masyarakat mengenalnya dengan nama Aek Sarulla.

Dari sisi hidrologi, pola aliran  sungai di ekosistem Batangtoru mengikuti pola paralel. Pola aliran sungai bentuknya memanjang ke satu arah dengan cabang-cabang sungai kecil yang datangnya dari arah lereng-lereng  bukit terjal kemudian menyatu di Sungai Batangtoru yang mengalir di lembahnya.

Kawasan hutan Batangtoru yang termasuk ke dalam daerah Tapanuli Selatan seluas 31.556 ha atau 23,1% dari luas hutan. Air dari sungai Batangtoru dan Aek Garoga menjadi penting untuk perkebunan luas yang berada di daerah hilir. Daerah hilir Sungai Batangtoru ini melintasi perkampungan penduduk seperti Desa Telo, Sipente, Hapesong Baru dan Lama, Bandar Tarutung, Sibara-bara, Simataniari.

Masyarakat di hilir Sungai Batangtoru menjadi air sungai itu sebagai sumber kebutuhan domestik (mandi, cuci, dan kakus). Mereka juga mencari penghidupan sebagai nelayan pancing, yang berusaha di sepanjang DAS Batangtoru hingga ke muar di pesisir Barat.

Dalam laporan Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL) PT Agincourt Resources yang disampaikan kepada Bupati Tapanuli Selatan dijelaskan bahwa kegiatan penimbunan limbah tambang terhadap pH (keasaman), kandungan padatan tersuspensi, CN (cyanida), SO4, Zn, As, dan Mn. Semua hal itu kecil kemungkinannya secara langsung menimbulkan dampak terhadap manusia.

Baca Juga :  KOMPETENSI SMK N 1 BATANG ANGKOLA

Berdasarkan kesimpulan yang belum melalui uji laboratorium itu, PT AR kemudian mengusulkan membuat pipa pembuangan air limbah langsung ke Sungai Batangtoru. Malangnya, Syahrul M. Pasaribu kemudian memberi izin agar PT AR membuang limbah ke Sungai Batangtoru tanpa menyadari bahwa salah satu zat dalam limbah itu bernama cyanida.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan WALHI, JATAM, PBHI Jakarta, LBH Jakarta, ICEL, dan KRuHA pada Kamis, 22 November 2012, disebutkan bahwa senyawa cyanida sering dipakai dalam industri pertambangan untuk mengektraksi logam seperti emas dari bebatuan. Tapi, dampak penggunaan cyanida telah merusak lingkungan hidup sehingga dilarang dipakai dalam industri tambang.

“PT AR malah menggunakan cyanida dalam kegiatan penambangannya, seperti disebutkan dalam AMDAL perusahaan tersebut,” kata Pius Ginting dari Wahana Lingkungan Hidup yang bisa dihubungi pada nomor 081932925700. Pius juga menyayangkan tindakan Bupati Tapanuli Selatan yang mengesahkan AMDAL perusahaan itu. (thevoiceofsipirok.blogspot.com)

==========================

budi Hantu Cyanida Ancam Hidup Warga Tapsel


Budi Hatees, lahir 3 Juni 1972. Menulis cerpen, sajak, novel, dan esai sosial budaya di Kompas, Koran Tempo, Media Indonedia, Suara Pembaruan, Republika, Sinar Harapan, dan lain sebagainya. Menulis buku biografi sejumlah pejabat negara, menjadi ghost writer atas nama sejumlah tokoh politik, melakukan penelitian antropologi dan etnografi untuk sejumlah lembaga penelitian.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. menangis au mangida nasib saudaraku disana, bodoh, egois,dangakmau membuka diri untuk bersatu padu untuk melawan ketidak adilan yang terjadi. sadarlah saudara-saudaraku hantu dan vampir berkeliaran disekitarkalian yang pelan tapi pasti akan mengisap darah dan hartakalian. sadarlah hanya kalian yangbisa menolong dirimu dan anak cucumu. jagan tunggu aparat karna matamereka buta karna uang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*