Harga Karet di Humbahas Anjlok

(Analisa/parasian hasibuan) Menyadap : Seorang kakek menyadap getah karet. Warga terus bertahan di tengah anjloknya harga karet di Desa Tukka Ambobi Kecamatan Pakkat, Humbahas.

Dolok Sanggul, Petani karet di  Kecamatan Pakkat, Humbang Hasundutan (Humbahas) mengeluhkan rendahnya harga jual karet dalam enam bulan terakhir. Dari awalnya harga jual getah Rp 18 ribu per kg, saat ini menjadi Rp 5 ribu per kg.

Seorang petani di Desa Tukka Ambobi P. Pardosi (85) kepada Analisa, Selasa (10/6) mengatakan, anjloknya harga jual getah karet tersebut mengakibatkan petani karet mengalami kerugian besar.

Selain itu masyarakat juga kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pasalnya getah karet merupakan penghasilan utama warga yang tinggal di perbatasan Humbahas dengan Tapanuli Tengah (Tapteng).

“Karena kalau kita jual Rp 5 ribu per kg kita mau makan apa lagi. Padahal, sumber penghasilan kita hanya dari karet. Kita tidak tau apa yang menyebabkan harga sampai anjlok seperti ini. Yang pasti jika sampai bulan depan harga belum mengalami kenaikan maka kami akan menjadikan pohon karet sebagai kayu bakar,” terangnya.

Simatupang juga mengatakan, selama ini mereka menjual getah ke Tebingtinggi melalui para tengkulak. Sehingga mereka tidak mengetahui pasti apa penyebab rendahnya nilai tawar untuk getah karet mereka. Sebab dari segi kualitas, Simatupang menjamin getah karet mereka masih sesuai dengan pasar yang dibutuhkan masyarakat.  “Karena kasus ini juga terjadi di Tapteng. Sehingga kami tidak tahu mau jual kemana lagi. Di Tapteng juga harganya sama,” katanya.

Baca Juga :  Syamsul Arifin Mengaku Biasa Tidur Dipenjara

Petani lainnya, H. Marpaung (38) warga Desa Tukka Dolok juga mengeluhkan hal yang sama. Mereka berharap ada solusi yang diberikan kepada petani agar harga tersebut tidak anjlok. Karena masyarakat tidak memiliki pertanian sampingan seperti masyarakat yang tinggal di Dolok Sanggul.

“Kalau di Dolok Sanggul masyarakatnya masih bisa mengelola sayur-sayuran jika harga kopi anjlok. Sementara kami tidak memiliki alternatif usaha pertanian. Karena untuk areal persawahan kami tidak begitu produktif,” katanya.

Pengamat Pertanian Lambas Hutasoit mengatakan, saat ini petani di daerah khususnya untuk penjualan hasil tanaman kebun tidak bisa lepas dari jasa para tengkulak. Sehingga sering terjadi monopoli yang mengakibatkan masyarakat rugi.

Selain itu, pemerintah khususnya dilintas daerah di Tapanuli belum memiliki solusi ampuh untuk mengatasi keberadaan tengkulak. Sehingga yang harus dilakukan adalah mematangkan petani utuk memahami pasar penjualan karet.

“Karena kasus ini selalu terjadi untuk tanaman kebun. Dan kita tidak tahu alasan yang kuat sehingga harga anjlok. Hal seperti ini juga sering dialami para petani kopi dan petani kakao,” katanya.

Lambas juga mengharapkan, agar masyarakat membentuk serikat petani dan komunitas yang mampu menjadi wadah membangun pasar bagi petani. Salah satu contoh serikat petani yang sudah berhasil menembus pasar adalah komunitas petani kopi lintong yang tergabung dalam Koperasi Serba Usaha (KSU) di Paranginan. Sebab mereka saat ini sudah menentukan pasar dan menentukan harga yang dianggap sesuai.

Baca Juga :  Tengah Malam, Kepulauan Nias Kembali Digoyang Gempa 5,2 SR

“Solusinya hanya tinggal itu saja. Karena kita tidak mampu melawan tengkulak selama tengkulak masih menjadi sasaran pasar perdagangan hasil pertanian kita,” paparnya. (ph) / (Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Saya putra daerah tarabintang,saya sangat sedih,mendengarkan keluhan bapak p.pardosi,kaena klu harga karet anjlok mungkin anak sekolah kususnya dari kampung kami #simbara semuanya ngekos,jd dampaknya belanja anak sekolah berkurang. Terima kasih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*