Harga Karet Tembus Rp25 Ribu per Kg – Antisipasi Pencurian, Petani Tidur di Kebun

Sejak sebulan terakhir, harga karet di Kabupaten Mandailing Natal khususnya di Kecamatan Batang Natal, mengalami kenaikan bertahap setiap minggunya. Jika pekan lalu harga karet Rp20 ribu per kilogram (kg), saat ini Rp25 ribu per kg. Sementara untuk mengantisipasi pencurian getah karet, petani terpaksa tidur di kebunnya.

Sejumlah petani karet di beberapa daerah di Kabupaten Madina seperti Hidayat Nasution (25), warga Hutabaringin, Kecamatan Siabu kepada METRO, Selasa (15/2) mengatakan, harga karet pekan ini naik dibandingkan minggu lalu. Jika pekan lalu harga karet masih Rp18 ribu per kg, saat ini dirinya bisa menjualnya seharga Rp20 ribu per kg.

Senada dikatakan Amir (41), warga Desa Sihepeng, Kecamatan Siabu. Dirinya mengaku harga karet yang dijualnya di pekan Sihepeng, Selasa (15/2), mengalami kenaikan jika dibandingkan hari Selasa pekan lalu.

”Untuk hari ini saya jual karet seharga Rp21 ribu per kg. Tapi kalau pekan lalu saya jual Rp18 ribu per kg,” katanya.
Kedua petani karet ini merasa bersyukur dengan naiknya harga karet saat ini. Sebab menurut mereka, sumber kehidupan warga baik di Sihepeng maupun di Simangambat rata-rata dari hasil getah karet yang di deres setiap hari. ”Penghasilan kami cukup bergantung dari harga jual karet. Penghasilan kami naik tinggi dari jual karet akhir-akhir ini juga dipengaruhi dengan cuaca yang cukup baik. Sebab kalau hujan datang siang hari, hasil deresan karet kami akan dibawa air hujan itu,” sebut Amir.

Baca Juga :  Anggota DPRD Tapsel Tak Paham UU?

Sementara di Kecamatan Batang Natal, harga jual karet petani lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Seperti dikatakan Imsaruddin (23), warga Desa Rantobi, Kecamatan Batang Natal saat ditemui METRO di Pasar Baru Panyabungan, Selasa (15/2).  Diutarakan Imsaruddin, pekan ini harga jual karet di tempatnya sangat tinggi, yakni seharga Rp25 ribu per kg.

Disebutkannya, harga jual karet di daerahnya lebih tinggi dari daerah lain di Madina, dikarenkan kualitasnya lebih baik dibanding karet di kecamatan lain. ”Kami ada trik khusus dalam bertani karet ini. Di mana petani karet di daerah lain biasanya menampung getah karet hanya dengan tempurung saja, sehingga jika dikumpulkan hasilnya kurang bagus. Tapi kalau kami di Batang Natal menampung getah karet itu dengan menggali tanah tepatnya di penampungan dengan ukuran kaleng tempat untuk dijual. Sehingga hasil getah itu padat dan sempurna serta kering,” terangnya. Diungkapkan Imsaruddin, harga karet yang mahal saat ini mengundang pencuri untuk beraksi ketika malam hari dan mengambil hasil deresan petani siang harinya.  Untuk mengantisipasi hilangnya karet hasil deresan itu, banyak petani yang tidur di kebun karet.

”Mengingat harganya sangat tinggi, saat ini banyak warga yang tidur di kebun karet masing-masing untuk menghindari kehilangan hasil deresannya,” tegas Imsaruddin.

Masih dikatakan Imsaruddin, naiknya harga karet disebabkan musim kemarau yang melanda Madina saat ini. Sehingga kualitas getah karet semakin kering dengan kadar air yang rendah. Informasi dihimpun METRO dari beberapa daerah menyebutkan, kenaikan harga getah karet di tingkat penampung dalam sepekan terakhir ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dari pabrik.

Baca Juga :  Operasi Patuh Toba 2011 - Satlantas Polres Sidimpuan Tilang 92 Kendaraan

“Permintaan dari pabrik meningkat, harga karet jadi naik. Harga karet di tingkat penampung pun ikut juga merangkak naik,” kata salah seorang penampung karet yang tak mau disebut namanya. (wan) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*